EKONOMI

ASING NET SELL Rp104,8 TRILIUN, SAHAM INDONESIA SEDANG MENGHADAPI UJIAN KEPERCAYAAN INVESTOR GLOBAL

mengapa investor asing terus mengurangi kepemilikannya di pasar saham Indonesia?

ASING NET SELL Rp104,8 TRILIUN, SAHAM INDONESIA SEDANG MENGHADAPI UJIAN KEPERCAYAAN INVESTOR GLOBAL

Oleh: Bangun Lubis – Wartawan

JAKARTA — Pasar saham Indonesia tengah menghadapi tekanan dari aksi jual investor asing. Hingga 23 September 2026, nilai net sell investor asing di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencapai sekitar Rp102,9 triliun secara year to date. Sehari kemudian, pada 24 September, tekanan jual kembali terjadi dengan nilai net foreign sell sekitar Rp1,49 triliun di seluruh pasar. (Indo Premier)

Data perdagangan menunjukkan bahwa saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan, menjadi sasaran utama aksi jual asing. Pada perdagangan 24 September, Bank Mandiri (BMRI) menjadi saham dengan net foreign sell terbesar, sekitar Rp531,94 miliar. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyusul sekitar Rp141,17 miliar. (Databoks)

Kondisi tersebut membuat pertanyaan besar kembali muncul: mengapa investor asing terus mengurangi kepemilikannya di pasar saham Indonesia?

Tekanan ini tidak bisa dibaca hanya sebagai aksi jual harian. Pergerakan investor global biasanya dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik, mulai dari daya tarik aset global, nilai tukar, tingkat suku bunga, sampai persepsi terhadap tata kelola dan transparansi pasar.

Salah satu perhatian penting datang dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Dalam 2026 Global Market Accessibility Review, MSCI memang mengubah penilaian Indonesia pada kriteria Information Flow dari “+” menjadi “−”. Namun, penting ditegaskan bahwa Indonesia tetap berada dalam kategori emerging market, bukan turun menjadi frontier market. (Kementerian Ekonometri)

Perubahan tersebut berkaitan dengan perhatian MSCI terhadap akses informasi dan sejumlah persoalan yang berkaitan dengan kualitas serta transparansi pasar. Pemerintah kemudian menyatakan akan mempercepat reformasi pasar modal untuk memperkuat transparansi, integritas dan daya saing investasi Indonesia. (Kementerian Ekonometri)

Baca Juga  Raih Penghargaan Internasional Asia Responsible Enterprise Awards 2026, PTBA Bangun Desa Impian

BUKAN BERARTI ASING KABUR DARI INDONESIA

Menariknya, tekanan di pasar saham tidak serta-merta berarti investor asing meninggalkan seluruh aset keuangan Indonesia.

Bank Indonesia dalam laporan kebijakan moneternya September 2026 menyebut investasi portofolio asing pada kuartal III 2026 hingga 21 September masih mencatat net inflow US$0,4 miliar. Arus tersebut antara lain didukung penerbitan obligasi global pemerintah dan aliran masuk ke Surat Berharga Negara (SBN). (Bank Indonesia)

Fakta ini menunjukkan bahwa investor asing dapat melakukan perubahan komposisi portofolio. Ketika saham dianggap menghadapi risiko lebih tinggi, dana dapat dialihkan menuju instrumen pendapatan tetap atau aset lain yang dinilai memberikan profil risiko dan imbal hasil lebih sesuai.

Dengan kata lain, net sell saham tidak otomatis sama dengan pelarian modal secara keseluruhan dari Indonesia.

SAHAM BANK JADI SASARAN JUAL

Tekanan terhadap saham perbankan jumbo juga terlihat pada perdagangan 24 September. Selain BMRI dan BBRI, saham-saham besar lainnya turut mengalami tekanan jual asing. Pada hari tersebut IHSG melemah 1,2 persen ke level 6.298,60. (Databoks)

Aksi jual terhadap saham-saham besar perlu diperhatikan karena emiten dengan kapitalisasi dan likuiditas tinggi biasanya memiliki bobot besar terhadap pergerakan indeks. Jika tekanan berlangsung lama, sentimen pasar domestik juga berpotensi ikut terpengaruh.

Namun, investor juga perlu berhati-hati membaca angka net sell. Data harian tidak selalu menggambarkan arah investasi jangka panjang. Keputusan investor global sangat dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan ekonomi dunia maupun kebijakan domestik.

Baca Juga  Mundurnya Pimpinan OJK dan BI Jadi Sorotan, DPC GMNI Jakarta Timur Desak Perbaikan Tata Kelola Ekonomi

REFORMASI PASAR MODAL MENJADI KUNCI

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya mengatakan Indonesia dapat belajar dari India dalam melakukan reformasi pasar modal.

“India melakukan reformasi, sehingga masuk angka investasi ke India itu sampai 60–70 miliar dolar AS. Kalau India bisa, kenapa kita nggak bisa?” ujar Luhut, dikutip ANTARA pada Februari 2026. (ANTARA News)

Luhut juga menyebut pentingnya independensi dan transparansi dalam membangun kembali kredibilitas pasar modal Indonesia. Ia mengatakan Indonesia memiliki modal sumber daya manusia untuk membangun pasar modal yang lebih kredibel. (ANTARA News)

Karena itu, persoalan foreign net sell tidak cukup dijawab dengan melihat angka penjualan asing semata. Yang lebih penting adalah bagaimana Indonesia memperkuat kepercayaan investor melalui transparansi kepemilikan, kualitas informasi, free float, tata kelola perusahaan dan kepastian regulasi.

Di tengah tekanan pasar saham, Indonesia sebenarnya masih memiliki daya tarik investasi. Pemerintah mencatat realisasi investasi kuartal II 2026 mencapai Rp511,8 triliun, tumbuh 7,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah juga menyebut komitmen jangka panjang sejumlah negara mitra terhadap Indonesia masih kuat. (Sekretariat Negara)

Dengan demikian, angka net sell lebih dari Rp100 triliun menjadi sinyal yang perlu diperhatikan, tetapi belum tepat jika langsung dimaknai sebagai investor asing meninggalkan Indonesia.

Yang sedang diuji sebenarnya adalah kepercayaan terhadap kualitas pasar modal Indonesia.

Jika reformasi berjalan konsisten, transparansi meningkat dan investor memperoleh kepastian informasi, pasar saham Indonesia tetap memiliki peluang untuk memperkuat kembali daya tariknya di mata investor global.

Oleh: Bangun Lubis – Wartawan

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button