
Musi, Sampah, dan Kesadaran yang Sedang Kita Uji
Oleh: Dr. Lidiawati, M.A – Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang
Palembang lahir dari sungai. Ya, karena sejak masa Kesultanan hingga hari ini, masyarakat “wong kito galo” selalu bertumpu pada aliran Sungai Musi. Sungai bukan hanya persoalan alam saja, melainkan juga sebagai ruang hidup masyarakat. Air sebagai sumber kehidupan para pedagang, jalur transportasi, dan ruang budaya masyarakat kota khususnya yang berada di kawasan tepian sungai. Akan tetapi belakangan ini, hubungan antara manusia dan sungai tampaknya mulai berubah jauh. Sungai yang dulunya dijaga sebagai sumber hidup, perlahan telah diperlakukan seperti halaman belakang tempat membuang sisa-sisa kehidupan modern.
Persoalan sampah seakan tidak kunjung habis. Ia selalu menjadi isu lingkungan yang paling serius. Khususnya di kota Palembang. Di tengah pertumbuhan kota dan meningkatnya konsumsi masyarakat, produksi sampah kian meningkat. Pemerintah Kota Palembang mencatat volume sampah harian kota mencapai sekitar 1.000 hingga 1.300 ton per hari. Ini merupakan jumlah yang tidak sedikit untuk sebuah kota yang sebagian wilayahnya masih bergantung pada sistem aliran sungai dan drainase alami.
Masalahnya bukanlah sekadar volume sampah, melainkan bagaimana sampah itu pada akhirnya menemukan jalannya menuju ke sungai. Plastik rumah tangga, limbah makanan, botol minuman, hingga kasur dan perabot bekas kerap terlihat mengapung di aliran sungai kecil yang bermuara ke Musi. Pada saat hujan turun, saluran air mulai tersumbat dan genangan menjadi pemandangan yang semakin akrab bagi warga kota.
Ironisnya, persoalan ini terus hadir di tengah maraknya kampanye lingkungan dan meningkatnya akses informasi masyarakat. Kita hidup di zaman ketika hampir semua orang dengan mudah mengetahui bahwa membuang sampah sembarangan adalah tindakan yang keliru. Namun, pengetahuan rupanya tidak selalu melahirkan kesadaran.
Inilah persoalan lingkungan sesungguhnya, yakni menyangkut budaya sosial masyarakat modern. Lingkungan dianggap hanya sebatas urusan pemerintah dan petugas kebersihan. Padahal, sampah itu lahirnya dari aktivitas manusia sehari-hari. Sungai tercemar bukan semata karena kurangnya regulasi, tetapi karena kebiasaan yang diwariskan dan dianggap hal yang biasa terjadi.
Pada perspektif sosial, persoalan sampah menunjukkan bagaimana masyarakat sedang mengalami krisis kedekatan dengan lingkungannya sendiri. Tidak ada hubungan emosional dengan alam sekitarrnya. Sungai dianggap sebagai aliran air yang mampu membawa pergi apa pun yang dijatuhkan kedalamnya. Akibatnya, ruang hidup bersama selalu kehilangan makna sosial dan spiritualnya.
Padahal dalam tradisi masyarakat Timur, termasuk nilai-nilai Islam yang hidup dalam kultur masyarakat melayu seperti di Kota Palembang, menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral setiap manusia sebagai khalifah di muka bumi. Rusaknya alam bukan semata persoalan ekologis, melainkan juga cermin lemahnya etika sosial manusia terhadap kehidupan.
Al-qur’an telah mejelaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat ulah tangan manusia. Pesan ini semakin relevan saat kita saksikan sungai dipenuhi oleh sampah dan kualitas airnya menurun. Penelitian akadmeik bahkan menunjukkan telah terjadi pencemaran mikroplastik di Sungai Musi yang berasal dari limbah rumah tangga dan buruknya pengelolaan sampah. Lagi-lagi, kesehatan jangka panjang masyarakat terancam karena dapat masuk dalam rantai makanan manusianya.
Lebih mengkhawatirkan, bahwa persoalan lingkungan sering menjadi perhatian apabila telah terjadi banjir, air menghitam, aroma menyengat yang mengganggu kehidupan sehari-hari. Lalu setelah itu, kesadaran akan kembali hilang. Kita semua sibuk membersihkan akibatnya, tetapi lupa memperbaiki kebiasaaan penyebabnya.
Oleh sebab itu, tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur atau penambahan armada pengangkut sampah. Tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah membangun kesadaran sosial masyarakat secara kolektif. Harus dengan kesadaran bahwa dengan membuang sampah ke aliran air berarti sedang mengirim masalah untuk masa depan anak dan cucu generasi mendatang.
Harapan sebenarnya masih tumbuh di tengah masyarakat. Pada beberapa tahun terakhir, semakin banyak anak muda, komunitas lokal, relawan, dan berbagai gerakan sosial mengkampanyekan kepedulian lingkungan. Itu artinya kepedulian sosial belum benar-benar hilang sepenuhnya.
Perubahan besar memang tidak selalu lahir dari kebijakan besar. Kadang ia dimulai dari tindakan sederhana, yakni dengan tidak membuang sampah ke sungai, membawa botol minuman sendiri, mengurangi plastik sekali pakai, atau mengajarkan anak-anak mencintai lingkungan sejak dini.
Sungai Musi adalah saksi perjalanan Palembang. Ia memberi kehidupan, membentuk peradaban, dan menyimpannya sebagai sebuah identitas kota yang lebih autentik. Maka menjaga sungai tetap bersih sejatinya adalah menjaga ingatan, kebudayaan dan masa depan bersama.
Hari ini, lingkungan sedang menguji kesadaran kita. Apakah manusia modern benar-benar mampu hidup berdampingan dengan alam, atau justru perlahan menghancurkannya. Jawabannya mungkin dapat kita lihat dari bagaimana kita memperlakukan sungai hari ini.



