PENDIDIKAN

Hari Anak Nasional: Kerusakan Generasi, Sistem Islam sebagai Solusi.

Hari Anak Nasional: Kerusakan Generasi, Sistem Islam sebagai Solusi.

Oleh :Ifah Rasyidah (Praktisi Pendidikan, Pegiat Literasi Islam)

Hari Anak Nasional bukan sekadar momentum untuk mengingat pentingnya pemenuhan hak-hak anak, tetapi juga menjadi saat yang tepat melakukan evaluasi terhadap arah pembangunan generasi bangsa. Anak adalah investasi peradaban. Mereka bukan hanya pewaris negeri ini, tetapi calon pemimpin yang kelak akan menentukan masa depan umat dan bangsa. Oleh karena itu, kerusakan yang menimpa generasi hari ini sesungguhnya merupakan indikator adanya persoalan mendasar dalam sistem kehidupan yang sedang diterapkan.

Fakta-fakta yang dipublikasikan lembaga resmi menunjukkan bahwa Indonesia sedang menghadapi ancaman serius terhadap kualitas generasi. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ribuan pengaduan pelanggaran hak anak dalam tiga tahun terakhir yang didominasi persoalan di lingkungan keluarga, satuan pendidikan, dan ruang digital. KPAI juga melaporkan bahwa kekerasan seksual terhadap anak terus meningkat. Berdasarkan data SIMFONI PPA yang dikutip KPAI, jumlah anak korban kekerasan seksual meningkat dari 9.588 korban pada tahun 2022 menjadi 10.932 korban pada tahun 2023. Sebanyak 55% korban kekerasan terhadap perempuan merupakan anak-anak.

Di lingkungan sekolah, persoalan tidak kalah memprihatinkan. KPAI menegaskan bahwa perlindungan anak di satuan pendidikan masih menjadi pekerjaan besar bangsa. Kekerasan fisik, perundungan, diskriminasi, hingga putus sekolah masih terus terjadi sehingga diperlukan penguatan perlindungan anak di seluruh institusi pendidikan.

UNICEF juga mengingatkan bahwa anak-anak Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari kesehatan mental, kekerasan, eksploitasi digital, hingga kesenjangan pendidikan. Perkembangan teknologi memang membawa kemudahan, namun tanpa fondasi moral yang kuat justru menjadi pintu masuk berbagai penyimpangan perilaku.

Fenomena tersebut hanyalah puncak gunung es. Di tengah masyarakat kita menyaksikan meningkatnya penyalahgunaan narkoba oleh pelajar, budaya pornografi yang mudah diakses melalui gawai, perjudian daring, tawuran, pergaulan bebas, hingga lunturnya penghormatan terhadap orang tua dan guru. Semua ini memperlihatkan bahwa bangsa sedang menghadapi krisis peradaban, bukan sekadar krisis pendidikan.

Baca Juga  Belajar Kaderisasi Kepemimpinan Bangsa dari Republik Rakyat China

Akar Persoalan: Krisis Sistem

Dalam perspektif Islam, kerusakan generasi tidak dapat dipahami hanya sebagai akibat lemahnya pengawasan orang tua atau kurangnya pendidikan karakter di sekolah. Persoalan utamanya terletak pada sistem kehidupan yang menjadikan manusia sebagai pembuat standar benar dan salah, sementara wahyu Allah hanya ditempatkan sebagai urusan privat.

Ideologi sekularisme telah memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, ukuran kebahagiaan bergeser menjadi materi, popularitas, dan kebebasan individu. Media mengejar keuntungan melalui eksploitasi syahwat, industri hiburan menormalisasi perilaku menyimpang, ekonomi kapitalistik menjadikan anak sebagai objek komersialisasi, sedangkan pendidikan lebih diarahkan mencetak tenaga kerja daripada membangun manusia bertakwa.

Padahal Allah SWT telah memperingatkan:

“Masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh).” (QS. Al-Baqarah: 208).

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk pendidikan, keluarga, ekonomi, media, pergaulan, hingga tata kelola negara.

Pendidikan Anak dalam Islam: Membangun Syakhshiyyah Islamiyyah

Islam memandang anak sebagai amanah yang wajib dipersiapkan menjadi hamba Allah sekaligus pemimpin peradaban.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

Ayat ini menegaskan bahwa pendidikan merupakan kewajiban syariat, bukan pilihan.

Luqman Al-Hakim memberikan model pendidikan Islam yang sempurna. Pendidikan dimulai dengan penanaman tauhid, kemudian ibadah, akhlak, kepedulian sosial, kesabaran, dan adab. (QS. Luqman: 13–19).

Baca Juga  Ketika Buku Membentuk Karakter Bangsa - Dari Kwee Cheng, Winnetou, sampai Siti Nurbaya

Rasulullah Saw juga bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk syakhshiyyah islamiyyah, yaitu kepribadian yang menjadikan akidah Islam sebagai standar berpikir dan bersikap. Anak tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketakwaan, keberanian, amanah, dan kepedulian terhadap umat.

Islam Kaffah sebagai Solusi Peradaban

Apabila akar persoalannya adalah sistem, maka penyelesaiannya juga harus bersifat sistemik. Dalam perspektif ideologi Islam, penerapan Islam secara kaffah diyakini sebagai solusi mendasar karena seluruh perangkat kehidupan diarahkan untuk menjaga agama, akal, jiwa, keturunan, dan harta.

Negara berkewajiban menjamin pendidikan berbasis akidah Islam, menutup seluruh sarana yang merusak moral seperti pornografi dan perjudian, melindungi anak dari eksploitasi ekonomi maupun seksual, mengawasi media agar menjadi sarana pendidikan umat, serta memastikan keluarga memperoleh dukungan untuk menjalankan fungsi tarbiyah dan pembentukan karakter.

Dengan demikian, keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara berjalan dalam satu visi, yaitu membentuk generasi yang bertakwa dan berilmu.

Oleh karenanya Hari Anak Nasional hendaknya menjadi momentum kebangkitan kesadaran bahwa generasi unggul tidak akan lahir hanya melalui slogan “pendidikan karakter”, program sesaat, atau kebijakan parsial. Generasi emas hanya akan lahir apabila seluruh sistem kehidupan dibangun di atas petunjuk Allah SWT. Sebab, kerusakan generasi bukan semata-mata akibat lemahnya individu, melainkan buah dari sistem yang menyimpang. Sebaliknya, ketika Islam diterapkan secara kaffah, pendidikan akan melahirkan generasi yang memiliki akidah yang kokoh, ilmu yang luas, akhlak yang mulia, serta kesiapan memimpin peradaban manusia menuju keberkahan dunia dan akhirat.

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button