POLITIK

Islam Melekat dalam Jati Diri Partai Gelora

Islam tidak ditempatkan sebagai identitas yang menutup diri dari kelompok lain.

Islam Tetap Melekat dalam Jati Diri Partai Gelora

Oleh: Bangun Lubis – Wakil Ketua DPW Partai Gelora Sumatera Selatan

Islam tetap melekat dalam tubuh Partai Gelombang Rakyat Indonesia atau Partai Gelora. Keislaman bukan sekadar warna sejarah yang dibawa oleh sebagian tokoh pendirinya, tetapi telah menjadi salah satu unsur yang secara resmi tercantum dalam jati diri partai.

Partai Gelora memang tidak mendeklarasikan dirinya sebagai partai Islam yang eksklusif. Partai ini berdiri dengan asas Pancasila dan berlandaskan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Namun, dalam rumusan jati dirinya, terdapat lima unsur yang menjadi karakter partai, yakni Islam, nasionalis, demokrasi, kemanusiaan dan kesejahteraan.

Lima unsur tersebut tidak seharusnya dipahami sebagai nilai yang saling berhadapan. Justru, semuanya dapat berjalan bersama dalam kehidupan politik Indonesia. Islam memberikan nilai moral dan spiritual, nasionalisme memberikan kecintaan kepada bangsa dan tanah air, demokrasi memberikan ruang partisipasi rakyat, kemanusiaan menjaga penghormatan terhadap martabat manusia, sedangkan kesejahteraan menjadi salah satu tujuan kehidupan berbangsa.

Bagi saya, inilah salah satu hal penting dalam memahami Partai Gelora. Islam tidak ditempatkan sebagai identitas yang menutup diri dari kelompok lain. Nilai Islam justru ditempatkan dalam ruang kebangsaan Indonesia yang sangat majemuk.

Islam mengajarkan keadilan, persaudaraan, kepedulian dan kemaslahatan. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl (16):90 bahwa Allah memerintahkan berlaku adil, berbuat kebajikan dan memberi kepada kaum kerabat, serta melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.

Ayat tersebut memberikan pesan universal tentang pentingnya keadilan dan kebaikan. Dalam kehidupan politik, nilai tersebut dapat menjadi pedoman moral agar kekuasaan tidak hanya dipandang sebagai tujuan, melainkan sebagai amanah untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

Baca Juga  Sabar, Kemuliaan yang Menyehatkan Jiwa

Karena itu, pembahasan Islam di lingkungan Partai Gelora tidak berhenti pada persoalan ritual atau simbol keagamaan. Berbagai forum kajian partai juga membicarakan Islam dalam kaitannya dengan demokrasi, geopolitik, pertahanan negara, ekonomi, kemanusiaan dan masa depan bangsa.

Pada Agustus 2026, misalnya, kajian Partai Gelora membahas demokrasi dari perspektif Islam. Tema tersebut menunjukkan adanya ruang pemikiran mengenai bagaimana umat Islam memandang demokrasi sebagai bagian dari kesepakatan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kajian lain juga mengangkat hubungan agama dan pertahanan negara dengan pendekatan Maqasid Syariah. Dalam perspektif ini, pembangunan dan pertahanan negara tidak hanya membutuhkan kekuatan material, tetapi juga masyarakat yang memiliki ketahanan moral, spiritual dan sosial.

Ketua Umum Partai Gelora, Anis Matta, juga beberapa kali mengaitkan agenda keumatan dengan persoalan konkret masyarakat, terutama kemiskinan dan kemandirian ekonomi. Islam, dalam pandangan tersebut, tidak cukup hanya menjadi wacana, tetapi harus mampu mendorong lahirnya masyarakat yang produktif dan mandiri.

Keteladanan Rasulullah SAW sebagai seorang pedagang juga sering dikaitkan dengan pentingnya membangun kekuatan ekonomi umat. Kemandirian ekonomi menjadi salah satu jalan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di sinilah menurut saya nilai Islam menjadi semakin relevan. Umat tidak hanya diajak berbicara mengenai kesalehan pribadi, tetapi juga kesalehan sosial. Seorang Muslim tidak cukup hanya baik untuk dirinya sendiri, tetapi juga dituntut memberikan manfaat kepada lingkungan dan masyarakat.

Rasulullah SAW bersabda bahwa manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Pesan ini sejalan dengan semangat membangun kehidupan sosial yang saling membantu dan memperkuat.

Baca Juga  Fahri Hamzah Dorong Pembentukan Peradilan Etika untuk Mencegah Korupsi Sejak Dini

Namun, nilai Islam tersebut harus ditempatkan dalam konteks Indonesia. Negara kita memiliki masyarakat dengan beragam agama, suku, budaya dan latar belakang. Karena itu, kehidupan politik harus dibangun dengan sikap saling menghormati dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling bermusuhan.

Partai Gelora melalui rumusan jati dirinya berupaya mempertemukan nilai Islam dengan nasionalisme. Islam dan kebangsaan tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat menjadi energi untuk membangun Indonesia yang berdaulat, adil, manusiawi dan sejahtera.

Bagi kader Gelora di Sumatera Selatan, pemahaman terhadap jati diri tersebut penting untuk terus dikembangkan. Politik harus memiliki etika. Perbedaan pilihan politik harus disikapi secara dewasa. Kritik boleh dilakukan, tetapi tetap dengan adab. Kompetisi politik boleh berlangsung, tetapi persaudaraan sebagai sesama anak bangsa tidak boleh hilang.

Dengan demikian, Islam tetap melekat dalam tubuh Partai Gelora, bukan sekadar sebagai label, melainkan sebagai salah satu sumber nilai dalam membangun karakter perjuangan politik. Islam berjalan bersama nasionalisme, demokrasi, kemanusiaan dan kesejahteraan.

Pada akhirnya, ukuran kebermaknaan sebuah nilai bukan hanya pada seberapa sering ia disebut, tetapi pada seberapa jauh ia diwujudkan dalam perilaku dan kerja nyata. Nilai Islam akan semakin bermakna ketika melahirkan keadilan, kejujuran, kepedulian, kemandirian dan kemaslahatan.

slam melekat, kebangsaan menguat, demokrasi dijaga, kemanusiaan dihormati, dan kesejahteraan diperjuangkan. Itulah semangat yang perlu terus dirawat dalam perjalanan Partai Gelora di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button