
Menanam Harapan di Hati Anak Yatim dan Dhuafa . Kepedulian yang Mengubah Masa Depan
Oleh: Fadlan Lubis
Di balik senyum anak-anak yatim dan dhuafa, terdapat sosok-sosok yang dengan tulus mencurahkan perhatian, waktu, tenaga, dan rezekinya demi masa depan mereka.

Salah satunya adalah Arsam Edwin Lubis, yang secara istiqamah membina sekitar 100 anak yatim dan dhuafa setiap bulan melalui kegiatan santunan sekaligus pendidikan keislaman.
Bagi Arsam Edwin, membantu anak yatim bukan sekadar memberikan beras atau paket kebutuhan pokok. Yang lebih penting adalah membekali mereka dengan ilmu agama, akhlak, dan kecintaan kepada Allah SWT. Karena itu, setiap pertemuan bulanan selalu diisi dengan pembinaan keislaman yang sederhana namun sarat makna.
Anak-anak tersebut berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang masih memiliki ayah, ada yang masih memiliki ibu, dan ada pula yang telah kehilangan kedua orang tuanya. Namun, dalam majelis pembinaan ini, semuanya diperlakukan sebagai satu keluarga besar yang mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan pendidikan.
Mereka diajarkan bagaimana berbakti kepada orang tua, cara mengirimkan doa kepada ayah dan ibu, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Mereka juga dibimbing memperbaiki niat dan tata cara shalat, memahami dasar-dasar ibadah, hingga mempelajari tata cara mengurus dan menyalatkan jenazah. Bekal inilah yang diharapkan menjadi cahaya bagi kehidupan mereka di masa depan.

Allah SWT berfirman: “Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.“(QS. Ad-Dhuha [93]: 9)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa memuliakan dan menyayangi anak yatim merupakan perintah Allah yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:”…Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim. Katakanlah, ‘Memperbaiki keadaan mereka adalah baik…'”(QS. Al-Baqarah [2]: 220)
Ayat tersebut menegaskan bahwa membina, mendidik, dan memperbaiki kehidupan anak yatim merupakan amal kebajikan yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Bagi Arsam Edwin , membangun generasi yang memahami agama jauh lebih bernilai daripada sekadar memberikan bantuan sesaat. Santunan akan habis dalam beberapa hari, tetapi ilmu yang ditanamkan akan menjadi bekal sepanjang hayat dan insya Allah menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Program pembinaan ini menjadi bukti bahwa kepedulian yang sesungguhnya bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menguatkan iman, membentuk akhlak mulia, serta menumbuhkan harapan bagi masa depan mereka.
Semoga kepedulian seperti yang dilakukan Arsam Edwin menginspirasi semakin banyak orang untuk ikut membina, menyantuni, dan mendidik anak-anak yatim dan dhuafa. Sebab, setiap senyum yang terukir di wajah mereka, setiap doa yang mereka panjatkan, dan setiap ilmu yang mereka amalkan kelak, insya Allah akan menjadi pahala yang terus mengalir bagi siapa saja yang telah menanamkan kebaikan di dalam hidup mereka. Aamiin.




