Rujak Rabar, Menjaga Rasa dan Tradisi Mandailing

Rujak Rabar, Menjaga Rasa dan Tradisi Mandailing

Oleh: Arsam Edwin Lubis
Bagi masyarakat Mandailing, makanan bukan sekadar urusan rasa. Di balik sebuah hidangan sederhana, sering tersimpan cerita tentang kampung halaman, kebersamaan, dan tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Salah satunya adalah rujak rabar, atau dalam bahasa Mandailing dikenal dengan sebutan mangarabar. Rujak ini memiliki keunikan tersendiri karena menggunakan pisang muda, khususnya pisang siolot, yang memiliki rasa kelat dan khas.
Bagi sebagian orang yang belum mengenalnya, mungkin terasa aneh membayangkan pisang muda dijadikan rujak. Namun bagi masyarakat Mandailing, justru di situlah kenikmatannya. Rasa kelat dari pisang muda berpadu dengan manisnya gula aren, gurihnya kacang, serta pedasnya cabai rawit. Perpaduan rasa tersebut menghasilkan sensasi yang sederhana tetapi sulit dilupakan.
Rujak rabar juga bukan sekadar makanan yang dibuat untuk menghilangkan rasa lapar. Dahulu, proses membuatnya menjadi bagian dari kebersamaan masyarakat. Para ibu atau umak-umak berkumpul, menyiapkan bahan, mengolah bumbu, kemudian menikmatinya bersama-sama.
Ada suasana kekeluargaan di dalamnya. Percakapan mengalir, cerita kampung dibicarakan, sementara tangan terus bekerja mengolah pisang dan bumbu. Dengan demikian, mangarabar sesungguhnya juga menjadi ruang sosial, tempat hubungan antarkeluarga dan antartetangga semakin erat.
Yang menarik, bahan utama rujak ini justru berasal dari sesuatu yang sederhana dan mudah ditemukan di lingkungan masyarakat. Pisang yang masih muda, yang mungkin belum dianggap siap dimakan sebagai buah biasa, dapat diolah menjadi makanan yang memiliki nilai budaya.
Di sinilah kita dapat melihat kearifan lokal masyarakat Mandailing. Mereka mampu mengolah bahan yang tersedia di alam menjadi hidangan yang memiliki cita rasa sekaligus nilai kebersamaan.
Namun, perkembangan zaman tentu membawa perubahan. Generasi muda sekarang semakin akrab dengan berbagai makanan modern. Makanan tradisional seperti rujak rabar berpotensi semakin jarang dibuat apabila tidak ada upaya untuk memperkenalkannya kembali.
Karena itu, menurut saya, menjaga rujak rabar bukan hanya soal mempertahankan sebuah resep. Yang lebih penting adalah mempertahankan ingatan budaya yang ada di baliknya.
Anak-anak dan generasi muda Mandailing perlu mengetahui bahwa leluhur mereka memiliki banyak tradisi kuliner yang unik. Mereka perlu mengenal bukan hanya rendang, arsik, atau makanan yang sudah populer, tetapi juga makanan sederhana seperti mangarabar yang tumbuh dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Rujak rabar mengajarkan kepada kita bahwa sesuatu yang sederhana tidak selalu berarti tidak bernilai. Pisang muda, gula aren, kacang dan cabai dapat berubah menjadi hidangan yang menyatukan orang-orang dalam satu kebersamaan.
Di tengah kehidupan yang semakin modern, tradisi seperti mangarabar justru menjadi penting. Sebab identitas sebuah masyarakat tidak hanya tersimpan dalam sejarah tertulis, tetapi juga dalam bahasa, adat, kesenian, dan makanan yang diwariskan oleh para pendahulu.
Mungkin suatu hari nanti kita tidak lagi sering menemukan umak-umak berkumpul membuat rujak rabar seperti dahulu. Tetapi selama cerita tentang mangarabar terus disampaikan dan generasi muda masih mau membuat serta menikmatinya, tradisi itu belum benar-benar hilang.
Rujak rabar bukan sekadar rujak. Ia adalah rasa kampung halaman, rasa kebersamaan, dan salah satu bagian kecil dari kekayaan budaya Mandailing yang patut kita jaga.
Oleh: Arsam Edwin Lubis



