KALAM

Alam Menegur, Saatnya Bermuhasabah

Alam Menegur, Saatnya Bermuhasabah

Oleh: Ifah Rasyidah (Praktisi Pendidikan, Pegiat Literasi Islam)

Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali mengguncang perhatian masyarakat. Pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, terjadi episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam dan berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Hingga 7 September, aktivitas vulkanik masih berada pada Level III atau Siaga. Badan Geologi memperingatkan adanya potensi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta lava apabila erupsi menerus kembali terjadi. Masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.

Dampaknya tidak berhenti pada kawasan gunung. BMKG menemukan sebaran abu vulkanik yang melingkupi sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Delapan bandara sempat terdampak penutupan akibat sebaran abu. Kementerian Kesehatan bahkan menyiagakan 413 rumah sakit dan 830 puskesmas di 20 kabupaten/kota terdampak, sementara wilayah yang terpapar abu diperkirakan mencakup sekitar 23,36 juta jiwa.

Namun, ada satu hal penting yang harus ditempatkan secara proporsional. Sampai laporan pemerintah 8 September 2026, belum terdapat laporan korban jiwa, kerusakan, maupun daerah yang menetapkan status kedaruratan akibat erupsi ini. Karena itu, tidak tepat jika kerusakan yang belum terjadi dinarasikan seolah-olah sudah terjadi.

Indonesia tidak hanya menghadapi persoalan bencana alam. Di tengah pembangunan dan kemajuan teknologi, negeri ini juga menghadapi bencana besar yaitu persoalan moral dan sosial: normalisasi pergaulan bebas, zina, pornografi, keretakan keluarga, kekerasan seksual, gaya hidup materialistis, hingga praktik ekonomi berbasis riba. Seharusnya dengan kerusakan masyarakat ini menjadikan kita tersadarkan untuk menjadi lebih baik. Mungkin bencana ini merupakan teguran alam untuk kita.

Baca Juga  Strategi Pemulangan Dana Haji Indonesia ke Tanah Air

Bagaimana seorang Muslim Memandang Bencana?

Erupsi adalah fenomena alam yang harus dihadapi dengan ilmu dan mitigasi. Tetapi bagi seorang Muslim, setiap peristiwa juga dapat menjadi jalan menuju muhasabah. Bukan dengan menuduh korban sebagai pendosa, melainkan dengan mengajak seluruh masyarakat—termasuk diri sendiri—untuk kembali kepada Allah.

Islam mengajarkan bahwa alam merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. Al-Qur’an menyebut berbagai musibah sebagai sesuatu yang dapat menjadi peringatan sekaligus ujian bagi manusia. Allah berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41).

Ayat tersebut harus menjadi bahan muhasabah. Manusia dapat mengambilnya sebagai momentum untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri.

Muhasabah menjadi penting karena persoalan masyarakat hari ini bukan hanya persoalan bencana alam, tetapi juga krisis moral dan akhlak. Perzinaan, pergaulan bebas, pornograf, eksploitasi seksual, rusaknya ketahanan keluarga, serta praktik riba merupakan persoalan yang mendapatkan perhatian serius dalam ajaran Islam.

Islam sejak awal telah memberikan peringatan terhadap kerusakan tersebut. Allah bahkan tidak sekadar melarang zina, tetapi berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina.”(QS. Al-Isra: 32)

Artinya, Islam tidak hanya melarang perbuatan akhirnya, tetapi juga menutup berbagai jalan yang mengantarkan manusia kepadanya.

Demikian pula riba. Islam tidak menjadikan riba sebagai sekadar persoalan moral individual, melainkan memberikan aturan ekonomi yang jelas. Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan keras terhadap praktik riba dalam QS. Al-Baqarah ayat 275–279.

Jangan biarkan erupsi Anak Krakatau berlalu hanya sebagai berita. Semestinya ini menjadi momentum muhasabah dan taubat. Alam telah menegur kita, dan sebagai seorang Muslim, setiap peristiwa semestinya semakin mendekatkan kita kepada Allah.

Baca Juga  Harmoni Iman dan Sains: Menembus Tirai Kehidupan Abadi dan Keabadian Ruh

Disetiap bencana yang terjadi, jangan hanya mengobati dampak, sementara akar persoalan dibiarkan. Akar persoalann yang sering diabaikan yaitu kerusakan sistem kehidupan yang liberal, hedonis, sekuler dan kapitalistik yang menyebabkan kerusakan moral, keluarga, ekonomi, dan kehidupan sosial membutuhkan perubahan yang menyeluruh.

Ironisnya, kita sering sangat sigap menghadapi bencana kecil, tetapi enggan membicarakan bencana nyata dalam kehidupan. Kita cepat menggalang donasi, tetapi ragu menyentuh akar masalah kerusakan masyarakat. Kita sibuk menyalahkan alam, tetapi diam ketika hukum Allah disingkirkan dari kehidupan. Kita sibuk memperbaiki kerusakan di permukaan disalurkan, tetapi sistem rusak tetap dipertahankan.

Islam tidak mengajarkan sikap pasrah pada keadaan tanpa perubahan. Rasulullah saw. tidak hanya mengajarkan doa saat musibah, tetapi membangun masyarakat dengan hukum Allah SWT agar mendapatkan Ridha dan ampunan Allah. Dan sistem Islamlah satu-satunya hukum yang secara pasti menjaga manusia, harta dan alam sekaligus. Maka dari itu, menyelesaikan bencana alam tidak cukup dengan bantuan darurat. Itu penting, Tetapi yang lebih mendasar adalah menanggulangi “bencana” kehidupan sangat besar dengan cara membenahi cara hidup kita: kembali pada hukum Allah sebagai pengatur kehidupan.

Islam bukan sekadar ritual. Islam adalah pedoman kehidupan. Islam membentuk individu yang bertakwa, keluarga yang kokoh, masyarakat yang bermartabat, ekonomi yang adil, dan negara yang bertanggung jawab mengurus rakyat.

Maka, sudah saatnya umat meninggalkan sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan dan kembali kepada Islam secara kaffah. Bukan sekadar slogan, tetapi dengan menjadikan akidah Islam sebagai landasan dan syariat Allah sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan.

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button