EKONOMI

Mengapa Kemiskinan Sulit Diangkat?Jangan Hanya Menghitung Bantuan Saja

apakah kita sedang mengentaskan kemiskinan atau hanya mengelola kemiskinan?

Mengapa Kemiskinan Sulit Diangkat?Jangan Hanya Menghitung Bantuan

Oleh: Bangun Lubis – Wartawan Muslim

Kemiskinan selalu menjadi persoalan yang dibicarakan. Program demi program dibuat, anggaran dialokasikan, bantuan disalurkan, pelatihan dilaksanakan, berbagai kebijakan dirancang. Tetapi pertanyaan mendasarnya tetap sama: mengapa kemiskinan masih begitu sulit dientaskan?

Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ini adalah pertanyaan yang seharusnya terus diajukan oleh negara dan masyarakat, karena kemiskinan bukan sekadar persoalan angka. Di balik satu keluarga miskin ada anak yang mungkin kehilangan kesempatan sekolah, ada orang tua yang kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga, ada orang yang bekerja keras tetapi penghasilannya tidak cukup.

Karena itu, pengentasan kemiskinan tidak boleh berhenti pada berapa banyak bantuan yang telah dibagikan.

Bantuan memang penting. Ketika seseorang lapar, ia membutuhkan makanan. Ketika sebuah keluarga menghadapi kesulitan, bantuan dapat menjadi penyelamat. Tetapi persoalannya adalah apa yang terjadi setelah bantuan itu selesai.

Kalau seseorang menerima bantuan hari ini, kemudian bulan depan kembali membutuhkan bantuan yang sama, lalu tahun berikutnya masih berada dalam keadaan yang sama, kita perlu bertanya: apakah kita sedang mengentaskan kemiskinan atau hanya mengelola kemiskinan? Ini pertanyaan yang keras, tetapi perlu direnungkan.

Pengentasan kemiskinan seharusnya membuat seseorang bergerak dari ketergantungan menuju kemandirian. Bantuan sosial semestinya menjadi perlindungan bagi mereka yang membutuhkan sekaligus jembatan menuju kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang masih memiliki kemampuan untuk bangkit. Islam sendiri memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kaum miskin.

Allah SWT berfirman:

“Dan pada harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”QS. Adz-Dzariyat (51):19.

Ayat ini mengajarkan bahwa masyarakat tidak boleh menutup mata terhadap kemiskinan. Orang yang memiliki kelebihan harta mempunyai tanggung jawab sosial.

Namun kepedulian tidak boleh berhenti pada belas kasihan. Islam juga mengajarkan kehormatan manusia melalui kerja dan usaha.

Baca Juga  Tekan Inflasi dan Kenaikan Harga Canangkan Gerakan Pangan Murah

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seseorang yang mencari kayu bakar lalu menjualnya lebih baik daripada meminta-minta kepada manusia. Pesannya jelas: kerja dan kemandirian memiliki kehormatan.

Maka, zakat, infak, sedekah dan wakaf seharusnya tidak hanya dipikirkan sebagai bantuan konsumtif. Potensi ekonomi umat tersebut dapat diarahkan untuk membangun kemandirian.

Misalnya, seorang ibu yang memiliki keterampilan memasak dapat dibantu dengan peralatan dan modal kecil, kemudian didampingi sampai usahanya berkembang. Seorang pemuda yang belum memiliki pekerjaan dapat diberikan pelatihan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Anak dari keluarga kurang mampu dapat diberikan akses pendidikan agar rantai kemiskinan tidak berlanjut kepada generasi berikutnya.

Di sinilah letak perbedaan antara memberi bantuan dan memberdayakan. Memberi bantuan dapat menyelesaikan persoalan hari ini. Memberdayakan berusaha menyelesaikan persoalan masa depan.

Tentu tidak berarti semua bantuan harus dihentikan. Tidak demikian. Ada orang-orang yang memang membutuhkan perlindungan sosial karena usia lanjut, disabilitas, penyakit, bencana atau keadaan lain yang membuat mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri.

Tetapi bagi mereka yang masih produktif, yang dibutuhkan bukan hanya bantuan. Mereka membutuhkan kesempatan.

Kesempatan mendapatkan pendidikan. Kesempatan memperoleh pekerjaan. Kesempatan memperoleh modal. Kesempatan mendapatkan pelatihan. Kesempatan memasuki pasar. Dan yang tidak kalah penting, kesempatan untuk dihargai sebagai manusia yang mampu berkembang.

Pemerintah mempunyai peran penting dalam menciptakan ekosistem tersebut. Dunia usaha juga memiliki tanggung jawab sosial. Perguruan tinggi dapat memberikan ilmu dan pendampingan. Lembaga zakat dapat memperkuat program ekonomi produktif. Organisasi kemasyarakatan dan masjid dapat menjadi pusat pembinaan masyarakat.

Sementara masyarakat yang memiliki kemampuan tidak seharusnya hanya melihat kemiskinan dari jauh. Kemiskinan terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu lembaga.Yang diperlukan adalah gerakan bersama untuk membangun manusia.

Sebab persoalan terbesar bukan hanya orang miskin tidak mempunyai uang. Persoalannya adalah ketika kemiskinan membuat seseorang kehilangan kesempatan, kehilangan pendidikan, kehilangan pekerjaan, bahkan kehilangan keyakinan bahwa dirinya masih mampu mengubah kehidupan. Karena itu, ukuran keberhasilan pengentasan kemiskinan harus lebih luas.

Baca Juga  Apakah Indonesia Lebih Cepat Maju Bila Menjadi Negara Federal?

Bukan hanya berapa rupiah yang disalurkan. Bukan hanya berapa paket bantuan yang dibagikan. Bukan pula hanya berapa banyak program yang dilaksanakan.

Tetapi berapa banyak keluarga yang akhirnya mampu hidup mandiri. Berapa banyak anak yang berhasil memperoleh pendidikan. Berapa banyak orang yang memperoleh pekerjaan. Berapa banyak usaha kecil yang tumbuh. Dan berapa banyak penerima bantuan yang suatu hari berubah menjadi orang yang mampu membantu orang lain.

Inilah yang seharusnya menjadi pertanyaan besar kita. Kemiskinan jangan sampai hanya menjadi objek program. Jangan sampai masyarakat miskin hanya menjadi angka dalam laporan dan penerima dalam daftar.

Mereka adalah manusia yang mempunyai harga diri.

Karena itu, jika kita benar-benar mempunyai niat mengentaskan kemiskinan, maka keberanian pertama yang diperlukan adalah mengubah cara pandang.

Jangan hanya memberi ikan. Ajarkan cara menangkap ikan, sediakan tempat untuk menangkapnya, dan dampingi sampai mereka mampu melakukannya sendiri.

Lebih jauh lagi, setelah mereka mandiri, dorong mereka menjadi bagian dari orang-orang yang membantu sesamanya.

Dengan cara itu, bantuan tidak berhenti pada satu orang. Kebaikan akan bergerak dari satu keluarga kepada keluarga lain.

Kemiskinan mungkin tidak dapat dihapus dalam satu malam. Tetapi kemiskinan dapat dikurangi jika ada kebijakan yang tepat, pendidikan yang kuat, kesempatan ekonomi yang terbuka, pemberdayaan yang berkelanjutan, dan yang paling penting, niat yang benar-benar serius untuk mengubah kehidupan manusia.

Sebab pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah:“Berapa banyak bantuan yang sudah kita berikan?”

Tetapi: “Berapa banyak manusia yang sudah berhasil kita bangkitkan?” Di situlah sesungguhnya makna pengentasan kemiskinan.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button