Ketika Buku Membentuk Karakter Bangsa – Dari Kwee Cheng, Winnetou, sampai Siti Nurbaya

Ketika Buku Membentuk Karakter Bangsa – Dari Kwee Cheng, Winnetou, sampai Siti Nurbaya
Oleh: Rosihan Arsyad
Ada suatu masa ketika anak Indonesia menemukan dunia melalui buku. Sebelum telepon pintar hadir di tangan setiap orang, sebelum media sosial menjadi tempat mencari identitas, sebelum algoritma menentukan apa yang harus dilihat dan dipercaya, anak-anak mengenal kehidupan melalui cerita.
Mereka membaca bukan hanya untuk mengetahui akhir sebuah kisah, tetapi untuk memahami manusia. Mereka belajar bahwa hidup tidak selalu mudah, bahwa kebenaran sering membutuhkan pengorbanan, bahwa kekuatan tanpa moral dapat menjadi kehancuran, dan bahwa kehormatan sering lebih berharga daripada kemenangan.
Generasi yang tumbuh pada dekade 1960-an dan 1970-an mungkin tidak menyadari bahwa buku-buku yang mereka baca sedang membentuk watak mereka. Mereka hanya merasa sedang menikmati cerita. Tetapi sesungguhnya, di balik kisah pendekar, roman sejarah, dan novel perjuangan itu terdapat pendidikan karakter yang sangat kuat.
Saya sendiri mengalami masa itu. Ketika masih duduk di bangku SMP, saya sudah membaca karya-karya sastra seperti Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka, dan Siti Nurbaya karya Marah Rusli. Buku-buku tersebut bukan sekadar kisah cinta atau konflik keluarga. Di dalamnya terdapat pergulatan manusia dengan zaman, pertentangan antara tradisi dan perubahan, antara kepentingan pribadi dan tanggung jawab sosial.
Dari Siti Nurbaya, seorang anak belajar bahwa ketidakadilan dapat terjadi ketika kekuasaan dan uang mengalahkan kebenaran. Dari Layar Terkembang, ia diperkenalkan kepada gagasan kemajuan, pendidikan, dan pentingnya manusia berpikir melampaui zamannya. Dari Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, ia belajar bahwa manusia sering terjebak oleh prasangka, adat, dan penilaian masyarakat yang tidak selalu adil.
Pada saat yang sama, dunia kepahlawanan hadir melalui cerita silat.
Bagi banyak anak Indonesia, nama Kwee Cheng dari Sia Tiaw Eng Hiong karya Chin Yung bukan sekadar tokoh pendekar. Ia adalah gambaran seorang manusia yang mungkin tidak sempurna, tetapi memiliki keteguhan hati luar biasa. Ia tidak mencari kekuasaan untuk dirinya sendiri. Ia berlatih bukan untuk menjadi penguasa, melainkan untuk menjadi manusia yang berguna.
Nilai terbesar dari seorang pendekar bukan terletak pada ilmu silatnya, melainkan pada kemampuan mengendalikan dirinya. Inilah konsep yang sering muncul dalam cerita silat Timur: manusia yang mampu mengalahkan musuh belum tentu menjadi pemenang; manusia yang mampu mengalahkan keserakahan, kemarahan, dan kesombongan dalam dirinya justru mencapai tingkat tertinggi.
Hal yang sama terlihat dalam kisah Yoko dan Siauw Liong Lie dalam Sin Tiaw Hiap Lu. Yoko bukan tokoh tanpa cacat. Ia memiliki luka batin, kemarahan, dan pemberontakan. Tetapi perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh selamanya dihukum oleh masa lalu. Manusia dapat berubah ketika menemukan cinta, tanggung jawab, dan tujuan hidup yang lebih besar.
Nilai-nilai seperti itu sebenarnya sangat relevan bagi generasi sekarang. Dunia modern membutuhkan manusia yang cerdas, tetapi juga membutuhkan manusia yang memiliki karakter.
Pengaruh besar lainnya datang dari karya Karl May. Melalui Winnetou dan Old Shatterhand, anak-anak Indonesia mengenal dunia yang jauh di luar Nusantara. Namun pesan yang mereka terima bukan sekadar petualangan koboi dan suku Indian. Mereka melihat persahabatan antara dua manusia dari latar belakang berbeda. Mereka belajar bahwa kehormatan, keberanian, dan kesetiaan tidak mengenal batas ras atau bangsa.
Menariknya, banyak anak Indonesia mengenal nilai universal seperti penghormatan terhadap alam, keberanian membela yang lemah, dan kesetiaan pada sahabat melalui karya seorang penulis Jerman yang tidak pernah benar-benar hidup sebagai koboi Amerika. Tetapi kekuatan sebuah cerita memang demikian. Ia mampu menanamkan nilai tanpa harus memberi ceramah.
Di Indonesia sendiri, karya Kho Ping Hoo menjadi fenomena luar biasa. Jutaan pembaca mengikuti kisah para pendekar yang hidup dalam dunia penuh konflik, tetapi selalu menghadapi pertanyaan moral: apakah ilmu digunakan untuk mencari nama atau untuk membela kebenaran?
Kemudian hadir karya-karya S.H. Mintardja seperti Api di Bukit Menoreh dan Naga Sasra Sabuk Inten. Melalui latar sejarah Jawa, pembaca diajak memahami bahwa bangsa dibangun oleh manusia yang memiliki kesetiaan, keberanian, dan kesediaan berkorban.
Buku-buku itu sebenarnya mengajarkan kepemimpinan. Seorang pemimpin bukan hanya seseorang yang memiliki kekuasaan, tetapi seseorang yang mampu menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas dirinya sendiri.
Nilai-nilai tersebut kemudian diperkuat oleh media televisi pada masa awal perkembangannya. Ketika TVRI menjadi satu-satunya saluran televisi nasional, acara seperti Si Unyil tidak hanya menjadi hiburan anak-anak. Di balik tokoh Unyil, Pak Raden, Pak Ogah, dan masyarakat desanya, terdapat pendidikan tentang sopan santun, gotong royong, tanggung jawab, dan kehidupan bermasyarakat.
Televisi pada masa itu memang memiliki fungsi yang berbeda. Ia tidak hanya mengejar jumlah penonton, tetapi juga memiliki misi mencerdaskan masyarakat.
Pertanyaannya sekarang adalah: apakah generasi digital kehilangan semua itu?
Tidak. Tetapi lingkungan mereka berubah. Tantangannya bukan mengembalikan masa lalu, melainkan menghadirkan kembali nilai lama dalam bentuk baru.
Anak Indonesia hari ini tetap membutuhkan kisah tentang keberanian, pengorbanan, persahabatan, dan cinta tanah air. Mereka tetap membutuhkan tokoh yang menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari kekayaan, popularitas, atau jumlah pengikut di media sosial.
Bangsa-bangsa besar selalu menjaga cerita yang membentuk identitas mereka. Amerika memiliki kisah para pendiri republik dan perjuangan membangun frontier. Jepang memiliki nilai bushido dalam berbagai bentuk budaya. Tiongkok memiliki tradisi wuxia tentang pendekar yang membela rakyat. Indonesia memiliki kekayaan yang tidak kalah besar: kisah kerajaan Nusantara, jejak perlawanan heroik para pahlawan seperti Pangeran Diponegoro dan Tuanku Imam Bonjol, hingga visi besar para pendiri bangsa seperti Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Mohammad Yamin, Soekarno, dan Hatta. Kekayaan sejarah sejarah ini, dipadukan dengan sastra klasik dan cerita kepahlawanan, adalah sumber keteladanan yang luar biasa.
Yang diperlukan adalah keberanian untuk menghidupkannya kembali.
Bukan dengan nostalgia kosong, tetapi dengan kesadaran bahwa karakter manusia tidak muncul begitu saja. Ia dibentuk oleh keluarga, pendidikan, lingkungan, dan cerita yang masuk ke dalam pikirannya sejak kecil.
Keberanian ini harus diwujudkan dalam intervensi struktural yang nyata. Negara tidak boleh abai dan menyerahkan pembentukan karakter pada mekanisme pasar bebas. Literasi berbobot ini wajib direkayasa menjadi konsumsi utama siswa, misalnya melalui digitalisasi e-book sastra nasional berskala masif. Di saat yang sama, media publik seperti TVRI harus direbut kembali muruahnya; dikembalikan fungsinya sebagai benteng karakter bangsa tanpa harus melacurkan diri pada dikte rating komersial.
Lebih dari itu, strategi ini harus mewujud dalam sebuah doktrin kurikulum yang berjenjang. Di tingkat Sekolah Dasar, fondasi empati ditanamkan melalui narasi yang jernih tentang gotong royong dan keutuhan keluarga. Memasuki jenjang SMP—fase ketika jiwa muda bergejolak mencari figur identitas—epik kepahlawanan seperti Winnetou dan Sia Tiauw Eng Hiong harus hadir secara progresif untuk menanamkan loyalitas dan keberanian membela kebenaran. Lalu di tingkat SMA, roman sejarah yang kompleks seperti karya Buya Hamka dan Marah Rusli mengambil alih untuk mematangkan kesadaran akan kewajiban dan resiliensi mental. Puncaknya, di perguruan tinggi, mahasiswa membedah literatur ini bukan sekadar sebagai cerita, melainkan sebagai studi kasus dalam mata kuliah etika dan moral.
Namun, rancangan kurikulum sebaik apa pun akan runtuh tanpa ujung tombak pendidik yang tangguh. Pelajaran budi pekerti tidak boleh lagi sekadar menjadi sisipan pelengkap. Ia harus menjadi mata pelajaran inti.
Inilah momentum strategis bagi negara untuk menghidupkan kembali penataran guru yang intensif guna menanamkan jiwa kebangsaan. Bahkan, negara harus membuka jalur khusus untuk merekrut lulusan ilmu filsafat, sastra, dan etika sebagai guru budi pekerti. Dengan kedalaman analitis mereka, para sarjana ini tidak akan mengajarkan moral sebagai hafalan mati, melainkan sebagai pisau bedah. Mereka akan melatih siswa untuk berani mengambil keputusan yang benar di tengah benturan antara hukum, tugas pengabdian, dan hati nurani.
Seorang anak yang sejak kecil dididik melalui sistem ini, yang membaca kisah tentang manusia yang memegang prinsip, menghormati guru, membela yang lemah, dan mengutamakan kewajiban di atas kepentingan pribadi, akan membawa nilai itu dalam kehidupannya.
Mungkin itulah hubungan antara bacaan masa kecil dan perjalanan hidup seseorang. Buku tidak langsung menjadikan seseorang pemimpin, prajurit, atau pengabdi negara. Tetapi buku dapat menanamkan benih yang suatu hari tumbuh menjadi pilihan hidup.
Pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar. Bangsa membutuhkan generasi yang tahu untuk apa kepintarannya digunakan.
Karena kecerdasan tanpa karakter dapat menjadi ancaman. Tetapi kecerdasan yang dipandu oleh kehormatan, kewajiban, dan cinta tanah air dapat menjadi kekuatan besar bagi bangsa.
Honor. Duty. Country.
Nilai itu mungkin tidak tertulis secara eksplisit dalam buku-buku yang kita baca saat kecil. Tetapi sering kali, tanpa kita sadari, nilai itulah yang sebenarnya sedang diajarkan oleh cerita-cerita tersebut.
Yasyi Hill, 12 Juli 2026.



