LIFESTYLE

Cerita di Balik Sebutir Bawang

Respons masyarakat setelah informasi tersebut beredar.

Cerita di Balik Sebutir Bawang

Oleh: Albar Sentosa Subari, Unsri – Pengamat Hukum dan Sosial

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semasa masih kecil, kita pernah mendengar sebuah legenda rakyat tentang perseteruan dua butir bawang yang menjadi simbol kehidupan manusia, yaitu bawang merah dan bawang putih. Cerita tersebut menggambarkan bagaimana kehidupan manusia tidak pernah lepas dari persoalan kebaikan, kesabaran, keadilan, dan ketidakadilan.

Karena sudah cukup lama, mungkin sebagian dari kita tidak lagi mengingat secara utuh jalan cerita legenda tersebut. Namun, istilah bawang merah dan bawang putih kembali menarik perhatian publik setelah muncul dalam pembicaraan masyarakat mengenai pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.

Dalam pidato kenegaraan pada Jumat, 14 Agustus 2026, menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Presiden Prabowo menyampaikan berbagai persoalan bangsa. Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah ketika Presiden menyinggung kehidupan seorang ibu dari Bogor, Jawa Barat, yang disebut bekerja sebagai pengupas bawang dengan penghasilan sekitar Rp700.000 per hari.

Ketika namanya disebut, ibu tersebut bahkan berdiri untuk memperkenalkan dirinya. Peristiwa itu kemudian menjadi perhatian masyarakat dan videonya beredar luas di media sosial.

Belakangan muncul informasi bahwa yang bersangkutan bekerja di sebuah dapur SPPG. Terlepas dari berbagai informasi lanjutan mengenai pekerjaan tersebut, kita tidak perlu terburu-buru mengambil kesimpulan. Justru yang menarik untuk dicermati adalah respons masyarakat setelah informasi tersebut beredar.

Baca Juga  Diplomasi Satelit dan "Bom Waktu" Bantargebang: Mengapa Dunia Memperhatikan Sampah Kita?

Sebagai pemerhati sosial budaya sekaligus kolumnis, saya melihat persoalan ini bukan sekadar cerita tentang mengupas bawang. Ada persoalan yang lebih besar di baliknya, yaitu bagaimana masyarakat memahami nilai sebuah pekerjaan dan bagaimana negara memberikan penghargaan yang layak terhadap tenaga kerja.

Di media sosial, muncul berbagai komentar. Ada netizen yang membandingkan pendapatan pengupas bawang tersebut dengan pendapatan guru honorer. Ada pula yang mempertanyakan perbandingan antara upah mengupas bawang dengan harga bawang di pasar tradisional yang disebut hanya sekitar Rp40.000 per kilogram.

Ada pula netizen yang membuat perhitungan sederhana. Jika benar upah mengupas satu kilogram bawang mencapai Rp700.000, lalu seseorang mampu mengupas sepuluh kilogram dalam sehari, maka secara matematis pendapatannya dapat mencapai Rp7 juta sehari. Jika dikalikan dalam sebulan dan setahun, angkanya tentu sangat besar.

Perhitungan seperti itu tentu harus dilihat secara hati-hati. Kita perlu mengetahui apakah angka Rp700.000 tersebut benar-benar merupakan upah bersih per kilogram, berapa kilogram yang mampu dikerjakan dalam sehari, berapa hari seseorang bekerja, serta bagaimana sistem pembayaran yang berlaku. Jangan sampai angka yang disampaikan tanpa konteks justru menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Baca Juga  Diaz, Senyum Ramah di Balik Pelayanan Telkomsel Palembang

Namun, satu hal yang patut diapresiasi adalah terbukanya ruang bagi masyarakat untuk membicarakan persoalan kesejahteraan. Bahkan ada yang membandingkan pendapatan tersebut dengan gaji pensiun pegawai negeri golongan IV yang telah mengabdi puluhan tahun. Perbandingan itu memang menarik, tetapi tentu tidak sepenuhnya dapat disamakan karena sistem penghasilan, masa kerja, tanggung jawab, dan mekanisme pembayarannya berbeda.

Pada akhirnya, cerita tentang sebutir bawang ini semestinya menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap sistem pengupahan dan perlindungan tenaga kerja. Setiap pekerjaan mempunyai nilai dan setiap pekerja berhak memperoleh penghargaan yang manusiawi.

Pidato Presiden menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI hendaknya tidak berhenti sebagai rangkaian kata-kata di ruang sidang. Informasi tentang kehidupan rakyat kecil harus menjadi bahan evaluasi dan dasar memperbaiki kebijakan.

Semoga cerita sederhana tentang seorang pengupas bawang ini membawa dampak positif bagi pembenahan sistem, sehingga tujuan negara sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945 untuk melindungi segenap bangsa dan memajukan kesejahteraan umum benar-benar dapat dirasakan seluruh rakyat Indonesia.

Sebab, di balik sebutir bawang, ternyata ada cerita besar tentang kehidupan, pekerjaan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button