KALAMTERKINI

Ketegasan dalam Beragama: Ketika Suami dan Istri Harus Sama-Sama Introspeksi dan Perbaiki Diri

Jika salah satu pihak mengetahui tindakannya berulang kali membuat pasangannya terluka, sedih atau merasa tidak dihargai, persoalan tersebut patut menjadi bahan muhasabah.

Ketegasan dalam Beragama: Ketika Suami dan Istri Harus Sama-Sama Introspeksi dan Perbaiki Diri

Oleh: Bang Bangun Lubis – Dosen & Wartawan Muslim

Dalam kehidupan rumah tangga, ada kalanya seseorang harus bersikap lembut, tetapi ada pula saatnya harus tegas. Ketegasan dalam beragama bukan berarti keras, kasar, apalagi melakukan kekerasan kepada pasangan. Ketegasan berarti berani mengatakan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Rumah tangga bukan sekadar hubungan antara laki-laki dan perempuan. Ia adalah amanah dari Allah SWT. Karena itu, ketika seorang suami atau istri mengetahui bahwa dirinya melakukan kesalahan, tidak semestinya kesalahan tersebut dianggap ringan, apalagi dilakukan berulang-ulang tanpa usaha memperbaiki diri.

Allah SWT berfirman: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”(QS. An-Nisa: 19)

Ayat tersebut menjadi dasar penting bahwa hubungan suami-istri harus dibangun dengan cara yang ma’ruf, yaitu baik, patut dan sesuai dengan tuntunan agama.

Allah juga berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”(QS. Ar-Rum: 21)

Maka tujuan pernikahan adalah menghadirkan ketenteraman, kasih dan sayang. Jika salah satu pihak mengetahui tindakannya berulang kali membuat pasangannya terluka, sedih atau merasa tidak dihargai, persoalan tersebut patut menjadi bahan muhasabah.

Ketika Istri Mengetahui Suami Kecewa

Seorang istri tentu tidak otomatis berdosa hanya karena suaminya merasa kecewa. Kekecewaan suami bisa saja muncul karena perbedaan harapan, karakter, komunikasi atau kesalahpahaman.

Namun, jika seorang istri mengetahui bahwa dirinya telah meninggalkan kewajiban yang memang menjadi tanggung jawabnya, atau sengaja melakukan sesuatu yang menyakiti suaminya tanpa alasan yang dibenarkan syariat, kemudian terus mengulanginya tanpa ada keinginan memperbaiki diri, maka persoalannya menjadi serius.

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang wanita melaksanakan salat lima waktunya, berpuasa pada bulan Ramadan, menjaga kehormatannya dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.”(HR. Ahmad)

Baca Juga  Bertransformasi dengan Hijrah Ekologis

Hadis ini menunjukkan besarnya kedudukan seorang istri yang menjaga kewajiban agama dan menaati suaminya dalam perkara yang ma’ruf.

Namun Islam tidak pernah mengajarkan ketaatan secara mutlak kepada manusia. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah.”(HR. Ahmad)

Karena itu, suami tidak boleh menggunakan kedudukannya untuk memerintahkan kemaksiatan, kezaliman atau sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Dan istri tentu harus taat dalam kebaikan yang syar’i.

Suami Pun Harus Bertanggung Jawab

Ketegasan agama harus berlaku kepada kedua belah pihak. Jangan sampai seorang suami rajin mengutip dalil tentang kewajiban istri, tetapi lupa terhadap kewajibannya sendiri.

Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.”(HR. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kebaikan seorang laki-laki tidak hanya terlihat di masjid, tempat kerja atau di hadapan masyarakat. Akhlaknya justru terlihat ketika ia berada di rumah, berhadapan dengan istri dan anak-anaknya.

Allah SWT berfirman: “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan…”(QS. An-Nisa: 34)

Kepemimpinan suami merupakan amanah dan tanggung jawab, bukan hak untuk berlaku sewenang-wenang.

Jangan Memendam, Jangan Pula Menghakimi

Dalam perjalanan rumah tangga yang sudah bertahun-tahun, tentu ada kesalahan dan kekecewaan. Jika masalah terus dipendam, luka dapat semakin dalam. Tetapi jika setiap kesalahan selalu dibongkar kembali, rumah tangga juga sulit menemukan ketenangan.

Karena itu, suami perlu menyampaikan ketidaknyamanannya dengan jelas dan tegas, tetapi tetap santun. Istri juga perlu belajar mendengarkan, mengakui kesalahan dan memperbaiki diri yang baik.

Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?”(QS. An-Nur: 22)

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan berarti memberikan kesempatan kepada pasangan untuk berubah.

Jika seorang istri sadar bahwa sikapnya telah mengecewakan suami, rasa bersalah itu seharusnya menjadi pintu taubat dan perbaikan. Tetapi perubahan tidak cukup hanya dengan ucapan “maaf”. Perubahan harus terlihat dalam perilaku.

Baca Juga  Menembus Badai Ujian: Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah

Begitu pula suami. Kesabaran adalah kemuliaan, tetapi kesabaran tidak berarti membiarkan persoalan yang salah terus berlangsung tanpa komunikasi dan penyelesaian.

Puluhan Bukan Waktu yang Pendek

Dalam sebuah rumah tangga yang telah berjalan bertahun tahun, tentu sudah banyak pengalaman, suka dan duka. Kesalahan yang terjadi sekali mungkin dapat diselesaikan dengan mudah. Tetapi jika persoalan yang sama terus berulang, maka keduanya perlu duduk bersama dan melakukan evaluasi.

Bukan untuk mencari siapa yang paling salah, tetapi untuk bertanya:

Apa yang harus saya perbaiki di hadapan Allah?Inilah bentuk ketegasan yang sesungguhnya.

Suami tidak cukup berkata, “Istri saya harus berubah.”

Ia juga harus bertanya, “Apa yang harus saya ubah dari diri saya?”

Istri pun tidak cukup berkata, “Suami saya harus memahami saya.”

Ia juga harus bertanya, “Apa kewajiban saya yang belum saya tunaikan?”

Rasulullah SAW bersabda:“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.”(HR. Tirmidzi)

Dengan demikian, ketegasan dalam beragama bukanlah ketegasan untuk memenangkan pertengkaran. Ketegasan adalah keberanian untuk tunduk kepada kebenaran.

Jika istri salah, ia harus berani memperbaiki diri. Jika suami salah, ia pun harus berani meminta maaf. Jika keduanya salah, keduanya harus kembali kepada Allah.

Rumah tangga yang baik bukan rumah tangga yang tidak pernah mengalami konflik. Rumah tangga yang baik adalah rumah tangga yang setiap kali menghadapi masalah, **keduanya kembali kepada Al-Qur’an, Sunnah, akhlak, kesabaran dan kasih sayang.**

Sebab pada akhirnya, yang dicari bukan kemenangan suami atas istri atau kemenangan istri atas suami.

Yang dicari adalah keridaan Allah SWT.

Dan ketegasan paling tinggi dalam beragama adalah **tegas terhadap dosa, tetapi lembut terhadap manusia; tegas terhadap kesalahan, tetapi membuka pintu taubat; serta tegas menjaga syariat tanpa pernah berlaku zalim kepada pasangan.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button