Kisah Batik Gabovira Lampung Tutup Masa Krisis Pandemi: Pertahankan Karyawan, Omzet Malah Melesat
Selain mempertahankan seluruh karyawan, Batik Gabovira juga terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi pasar.
Bandar Lampung, Erabaru.com
Ditengah badai pandemi Covid-19 yang sempat melumpuhkan berbagai sektor usaha, UMKM Griya Batik Gabovira di Bandar Lampung justru mengukir kisah inspiratif.
Di saat banyak pelaku bisnis mengambil langkah efisiensi ekstrem melalui Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), produsen batik khas Lampung ini justru memilih bertahan bersama seluruh karyawannya, sebuah keputusan berani yang kini membuahkan hasil manis dengan lonjakan omzet yang melampaui target.
Kisah sukses dan resep manajemen krisis ini digali secara langsung oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tridinanti (Unanti) Palembang, dalam kegiatan kunjungan industri, Sabtu (18/7/2026). Kunjungan lapangan yang didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr M Ima Andriyani, SE, MSi, ini diikuti oleh mahasiswa yang terdiri dari Mutia Ayu Oktari, Tiara Wulandari, Pajar Apriansyah, Putri Nurhasanah, dan Angga Riyan Hidayat.
Pada kesempatan tersebut, para mahasiswa mendapatkan pembekalan materi secara langsung dari Pemilik (Owner) Griya Batik Gabovira Gatot Kartiko. Dalam pemaparannya, Gatot menjelaskan perjalanan Batik Gabovira sebagai salah satu Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) batik khas Lampung yang terus berkembang serta berbagai tantangan yang dihadapi dalam menjalankan usaha, khususnya pada masa pandemi Covid-19.
Salah satu materi yang menjadi perhatian utama adalah strategi pengelolaan sumber daya manusia (SDM) yang diterapkan Batik Gabovira saat menghadapi krisis. Gatot menjelaskan, ketika pandemi menyebabkan penurunan penjualan, perusahaan memilih untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap seluruh karyawan.
Keputusan tersebut diambil karena karyawan dipandang sebagai aset penting yang memiliki peran besar dalam keberlangsungan usaha. Oleh karena itu, perusahaan lebih memilih mencari berbagai alternatif strategi untuk mempertahankan operasional dibandingkan mengurangi tenaga kerja.
”Karyawan bukan sekadar roda penggerak bisnis, melainkan aset utama perusahaan. Mempertahankan mereka di tengah situasi krisis adalah keputusan moral sekaligus investasi jangka panjang bagi keberlangsung usaha,” ungkap Gatot di hadapan para mahasiswa.
Selain mempertahankan seluruh karyawan, Batik Gabovira juga terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi pasar. Berbagai strategi dilakukan, mulai dari memperkuat pemasaran melalui platform digital dan penjualan secara online hingga menjalin kerja sama dengan sektor perbankan untuk menjaga keberlangsungan usaha. Berkat kemampuan beradaptasi tersebut, Batik Gabovira berhasil melewati masa krisis dan mampu meningkatkan kembali kinerja usahanya hingga mencapai omzet yang melampaui target perusahaan.

Dalam sesi pemaparan, Gatot menyampaikan bahwa di tengah keterbatasan akibat pandemi, Batik Gabovira tetap berkomitmen menjalankan kegiatan sosial dengan membantu masyarakat yang membutuhkan. Nilai kepedulian terhadap sesama menjadi salah satu prinsip yang terus dijaga dalam menjalankan usaha.
“Perusahaan tidak hanya bertanggung jawab terhadap keberlangsungan bisnis, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral kepada karyawan dan masyarakat di sekitarnya,” katanya.
Setelah sesi penyampaian materi dan diskusi interaktif, mahasiswa berkesempatan melihat secara langsung berbagai koleksi batik khas Lampung yang diproduksi oleh Griya Batik Gabovira. Kegiatan ini memberikan pemahaman mengenai ragam motif batik, filosofi yang terkandung di dalamnya, serta bagaimana pelestarian budaya lokal dapat dikembangkan menjadi produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Dosen Pembimbing Lapangan Dr Ima Andriyani, mengapresiasi praktik baik yang diterapkan Griya Batik Gabovira. Menurutnya, pengalaman ini memberikan wawasan nyata bagi mahasiswa bahwa Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) yang berlandaskan empati, inovasi, dan kepemimpinan humanis adalah fondasi terkuat dalam membangun ketahanan bisnis di masa krisis.
“Pengalaman belajar secara langsung di dunia industri diharapkan mampu memperkaya kompetensi mahasiswa sekaligus menjadi bekal dalam menghadapi tantangan dunia kerja maupun ketika membangun usaha di masa depan,” ujar Ima.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran di luar kelas melalui kunjungan industri mampu memberikan pengalaman nyata yang memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap implementasi teori manajemen.
“Apa yang diterapkan Griya Batik Gabovira menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya manusia yang berlandaskan kepedulian, inovasi, dan semangat kolaborasi dapat menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan usaha, bahkan di tengah kondisi krisis,” katanya. #fly
Disusun Oleh:
Mutia Ayu Oktari (2201110534)
Tiara Wulandari (2201110205)
Pajar Apriansyah (2301110002.P)
Putri Nurhasanah (2201110522)
Angga Riyan Hidayat (2201110209)



