Banjir Palembang dan Pentingnya Kolaborasi Lima Pilar Pembangunan

Oleh: Dr. Yunita Theresiana, S.E., S.K.M., M.Kes., Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Dehansen Bengkulu, dan Prof. Isnawijayani, M.Si., Ph.D., Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Bina Darma
Setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi, sebagian wilayah Kota Palembang kembali dihadapkan pada persoalan yang sama. Genangan air muncul di jalan-jalan utama, kawasan permukiman, hingga pusat aktivitas masyarakat. Banjir seolah menjadi tamu yang datang berulang kali, membawa keresahan sekaligus pertanyaan besar: mengapa persoalan ini belum juga tuntas?
Selama ini, berbagai upaya telah dilakukan. Drainase diperlebar, sungai dinormalisasi, dan kolam retensi dibangun. Semua langkah tersebut tentu penting dan patut diapresiasi. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa pembangunan fisik semata belum cukup untuk menyelesaikan persoalan banjir secara menyeluruh.
Sesungguhnya, banjir bukan hanya persoalan air yang meluap. Banjir adalah cerminan dari hubungan manusia dengan lingkungannya. Ketika daerah resapan air terus berkurang akibat alih fungsi lahan, ketika sampah rumah tangga memenuhi saluran air, dan ketika kesadaran menjaga lingkungan masih rendah, maka alam akan memberikan responsnya sendiri.
Di tengah pertumbuhan Kota Palembang yang semakin pesat, tantangan pengelolaan lingkungan menjadi semakin kompleks. Pembangunan harus berjalan, tetapi keseimbangan ekosistem juga harus tetap terjaga. Sebab kota yang maju bukan hanya ditandai dengan berdirinya gedung-gedung tinggi, melainkan juga oleh kemampuannya menjaga harmoni antara pembangunan dan kelestarian alam.
Karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif melalui konsep *Sustainable Environmental Management* atau pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Konsep ini mengajarkan bahwa kebutuhan generasi sekarang harus dipenuhi tanpa mengorbankan hak generasi mendatang untuk menikmati lingkungan yang sehat dan layak.
Dalam konteks inilah, pendekatan Pentahelix menjadi sangat relevan. Model ini menempatkan lima unsur penting sebagai kekuatan bersama dalam menghadapi persoalan banjir.
Pemerintah memiliki peran sebagai regulator dan fasilitator. Kebijakan tata ruang, pengelolaan sampah, hingga pembangunan infrastruktur harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Akademisi dan perguruan tinggi berkontribusi melalui penelitian, inovasi, dan penyediaan data ilmiah yang dapat menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan. Keilmuan harus hadir untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Dunia usaha juga memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga lingkungan. Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan, berbagai kegiatan pelestarian lingkungan dapat dilakukan secara berkesinambungan.
Masyarakat merupakan aktor utama yang menentukan berhasil atau tidaknya upaya pencegahan banjir. Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan lingkungan, serta ikut aktif dalam kegiatan gotong royong menjadi bagian penting dalam membangun budaya peduli lingkungan.
Sementara itu, media massa mempunyai peran strategis sebagai sarana edukasi publik. Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga dapat membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan demi masa depan bersama.
Pada akhirnya, persoalan banjir tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Ia membutuhkan sinergi, komunikasi, dan kolaborasi yang berkesinambungan. Semangat gotong royong yang menjadi jati diri bangsa Indonesia harus kembali dihidupkan dalam menghadapi tantangan lingkungan.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”* (QS. Al-A’raf: 56).
Ayat ini mengandung pesan bahwa manusia memiliki amanah untuk menjaga bumi, bukan merusaknya. Menjaga sungai, menjaga saluran air, dan menjaga kebersihan lingkungan sesungguhnya merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawab kemanusiaan.
Palembang adalah kota yang dibelah oleh Sungai Musi, sungai yang sejak berabad-abad lalu menjadi saksi kejayaan peradaban Sriwijaya. Sudah sepatutnya kita menjaga warisan ini dengan penuh tanggung jawab. Sebab, lingkungan yang lestari bukan hanya hadiah bagi generasi hari ini, melainkan titipan berharga bagi anak cucu di masa depan.
Mencegah banjir sesungguhnya bukan sekadar mengurangi genangan air. Lebih dari itu, ia adalah upaya menjaga keberlangsungan kehidupan, merawat bumi, dan mewariskan masa depan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang.



