PBB Ingatkan Dunia: Sampah Antariksa Kian Mengancam Bumi dan Masa Depan Eksplorasi Luar Angkasa
Penelitian masih terus dilakukan untuk mengetahui apakah unsur-unsur tersebut dapat memengaruhi lapisan ozon, pembentukan awan, serta keseimbangan kimia atmosfer Bumi.

PBB Ingatkan Dunia: Sampah Antariksa Kian Mengancam Bumi dan Masa Depan Eksplorasi Luar Angkasa
Oleh: Bangun Lubis
Di tengah semakin pesatnya perkembangan teknologi antariksa, dunia menghadapi tantangan baru yang tidak kalah serius dibandingkan persoalan lingkungan di Bumi, yakni semakin banyaknya sampah antariksa yang mengelilingi planet kita. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Program Lingkungan PBB (UNEP) mengingatkan bahwa ambisi manusia menjelajahi Bulan dan ruang angkasa harus diimbangi dengan komitmen kuat untuk menjaga kelestarian lingkungan antariksa.
Peringatan tersebut muncul seiring meningkatnya peluncuran roket, satelit, serta berbagai misi eksplorasi yang dilakukan sejumlah negara dan perusahaan swasta. Aktivitas tersebut memang membawa banyak manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, komunikasi, navigasi, hingga pengamatan iklim. Namun di balik manfaat itu, tersimpan ancaman yang semakin besar berupa akumulasi limbah antariksa yang terus bertambah setiap tahun.
Pejabat Senior UNEP, Jason Jabbour, menegaskan bahwa setiap peluncuran roket meninggalkan jejak lingkungan yang dampaknya belum sepenuhnya dipahami. Karena itu, menurutnya, aspek keberlanjutan harus menjadi bagian penting sejak awal dalam setiap program eksplorasi luar angkasa.
Data yang dipublikasikan PBB menunjukkan saat ini diperkirakan terdapat sekitar 140 juta kepingan sampah antariksa berukuran lebih dari satu milimeter yang mengorbit Bumi. Sebagian besar benda tersebut terlalu kecil untuk dipantau, namun bergerak dengan kecepatan sangat tinggi sehingga mampu merusak satelit aktif maupun wahana antariksa apabila terjadi tabrakan.
Kekhawatiran para ilmuwan tidak hanya berhenti pada risiko tabrakan di ruang angkasa. Ketika satelit yang sudah tidak berfungsi memasuki atmosfer, material seperti aluminium, litium, dan tembaga ikut terbakar dan dilepaskan ke udara. Penelitian masih terus dilakukan untuk mengetahui apakah unsur-unsur tersebut dapat memengaruhi lapisan ozon, pembentukan awan, serta keseimbangan kimia atmosfer Bumi.
Setiap tahun ratusan ton sisa roket dan wahana antariksa memasuki atmosfer. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya jaringan satelit di orbit rendah Bumi. Pecahan baut, pelindung instrumen, hingga serpihan hasil ledakan dan tabrakan satelit ikut memenuhi ruang angkasa, bahkan mulai memengaruhi kecerahan langit malam yang diamati para astronom.
Tidak semua bagian wahana antariksa habis terbakar ketika memasuki atmosfer. Komponen yang tahan panas masih dapat mencapai permukaan Bumi sehingga berpotensi membahayakan keselamatan manusia, bangunan, maupun ekosistem laut.
Di sisi lain, minat dunia terhadap eksplorasi Bulan terus meningkat. Amerika Serikat melalui program Artemis, bersama China, India, Jepang, dan sejumlah perusahaan swasta, tengah berlomba mengembangkan misi menuju Bulan. Para ilmuwan meyakini Bulan menyimpan banyak informasi penting mengenai sejarah pembentukan tata surya sekaligus memiliki peran besar terhadap kehidupan di Bumi melalui pengaruh gravitasinya terhadap pasang surut air laut.
Karena itu, PBB menegaskan bahwa eksplorasi Bulan harus dilakukan secara bertanggung jawab. Negara-negara anggota didorong untuk mengurangi timbulnya sampah antariksa, mencegah ledakan satelit yang sudah tidak digunakan, tidak melakukan penghancuran satelit secara sengaja, serta memastikan satelit dan roket yang telah habis masa pakainya dikeluarkan dari orbit dengan aman.
Di bawah Konvensi Tanggung Jawab PBB Tahun 1972, setiap negara peluncur bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkan oleh objek antariksa miliknya apabila jatuh ke Bumi. Ketentuan ini menjadi salah satu dasar penting dalam tata kelola aktivitas antariksa internasional.
UNEP bersama Kantor PBB untuk Urusan Luar Angkasa juga terus memperkuat kerja sama ilmiah guna memahami dampak lingkungan dari berbagai aktivitas di luar angkasa. Hasil penelitian tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan internasional yang mampu menjaga ruang angkasa tetap aman dan berkelanjutan.
Kemajuan teknologi memang tidak dapat dihentikan. Eksplorasi Bulan bahkan diyakini akan membuka babak baru bagi peradaban manusia. Namun, kemajuan tersebut harus berjalan seiring dengan tanggung jawab menjaga lingkungan. Jangan sampai ambisi menjelajah ruang angkasa justru meninggalkan persoalan baru bagi generasi mendatang.
Pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa menjaga lingkungan tidak hanya menjadi kewajiban di daratan, lautan, dan udara, tetapi juga di ruang angkasa. Orbit Bumi merupakan aset bersama umat manusia yang harus dijaga agar tetap aman bagi perkembangan ilmu pengetahuan, komunikasi global, serta masa depan eksplorasi antariksa.
Sebagaimana diingatkan PBB, keberhasilan manusia menembus ruang angkasa hendaknya tidak hanya diukur dari seberapa jauh perjalanan yang ditempuh, tetapi juga dari kemampuan menjaga kelestarian alam semesta yang menjadi rumah bersama. Dengan demikian, eksplorasi antariksa akan menjadi warisan yang bermanfaat, bukan beban bagi generasi yang akan datang.



