BUMI REPORT

Menjaga Napas Benteng Terakhir: Adaptasi Baru Orang Rimba di Tengah Amukan Perubahan Iklim

 

Ketika Alarm Alam Tak Lagi Akurat

Oleh: Bang Bangun Lubis

Kabut tipis menyelimuti sisa-sisa tegakan pohon di pinggiran Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Jambi. Di bawah rindang yang kian menyempit, seorang lelaki paruh baya berdiri menatap langit yang warnanya tak lagi dapat ia prediksi. Ia adalah seorang Tumenggung, pemimpin adat Orang Rimba—atau yang sering disebut oleh masyarakat luar sebagai Suku Anak Dalam (SAD). Bagi komunitasnya, langit, arah angin, dan perilaku satwa adalah lembaran buku panduan hidup yang telah dibaca secara turun-temurun selama berabad-abad. Namun, dalam satu dekade terakhir, buku panduan alam itu seolah kehilangan relevansinya.

Perubahan iklim global bukan lagi sekadar narasi akademis yang diperdebatkan di ruang-ruang konferensi internasional. Bagi Orang Rimba, perubahan iklim adalah realitas konkret yang hadir di depan mata mereka setiap hari. Musim buah hutan (musim sialang) yang dulunya datang secara teratur kini menjadi kacau. Hujan yang biasanya turun membasahi bumi pada bulan-bulan tertentu, kini bisa menjelma menjadi air bah mendadak yang menghanyutkan hunian sementara (sesako) mereka.

Sebaliknya, musim kemarau kini datang dengan hawa panas yang membakar, mengeringkan mata air purba, dan memicu kebakaran hutan yang mencekik paru-paru anak-anak mereka.
Sebagai komunitas yang memegang teguh filosofi *”Piaung Kelebu”*—prinsip menjaga hubungan harmonis antara manusia, hutan, dan dewa—Orang Rimba berada di garis depan terdampak krisis ini. Mereka adalah korban pertama dari rusaknya keseimbangan global, padahal mereka adalah kelompok yang paling sedikit menyumbang emisi karbon. Ketika ruang hidup mereka yang berupa hutan primer terus terfragmentasi oleh perluasan perkebunan monokultur dan diperparah oleh anomali cuaca ekstrem, Orang Rimba tidak memiliki pilihan lain selain beradaptasi.

Artikel ini akan mengupas secara mendalam bagaimana komunitas adat Orang Rimba merumuskan strategi bertahan hidup yang baru, menggeser tradisi leluhur demi menyikapi era perubahan iklim, dan bagaimana masa depan eksistensi mereka sebagai manusia penjaga hutan Sumatra.

1. Meretas Ulang Tradisi Melangun yang Terpenjara

Bagi Orang Rimba, salah satu pilar kebudayaan paling mendasar adalah Melangun. Tradisi ini adalah perilaku berpindah tempat (nomaden) yang dilakukan oleh satu kelompok keluarga ketika terjadi peristiwa kematian. *Melangun* bertujuan untuk membuang sial, mengobati rasa duka yang mendalam dengan meninggalkan tempat tinggal lama, sekaligus memberikan waktu bagi alam untuk memulihkan diri dan menyediakan sumber pangan baru di lokasi yang ditinggalkan.
Namun, di era krisis iklim dan masifnya alih fungsi lahan saat ini, tradisi melangun menghadapi jalan buntu fisik dan ekologis.

Benteng Hutan yang Kian Menyempit

Dahulu, rute melangun bisa menjangkau puluhan hingga ratusan kilometer di dalam hutan belantara yang tak bertepi. Orang Rimba bisa berjalan berbulan-bulan, hidup dari berburu babi hutan, mengambil madu sialang, dan memetik umbi-umbian liar. Kini, ketika mereka mencoba berjalan menjauh, mereka justru menabrak batas-batas tak kasat mata: patok-patok konsesi perusahaan sawit, wilayah Hutan Tanaman Industri (HTI), atau pemukiman transmigran.

Dilema Perubahan Iklim Mikro

Kerusakan tutupan hutan di sekeliling kawasan hidup mereka telah mengubah iklim mikro secara drastis. Suhu di dalam hutan meningkat tajam. Kelompok-kelompok Orang Rimba yang sedang melangun kini sering kali terjebak di area pinggiran perkebunan sawit. Di sana, mereka mendirikan tenda-tenda plastik (terpal) di bawah terik matahari yang menyengat, jauh dari kesejukan kanopi hutan alami.

Kondisi ini memaksa terjadinya adaptasi sosial. Durasi  melangun yang dulunya bisa memakan waktu bertahun-tahun, kini terpaksa dipersingkat. Beberapa kelompok memilih untuk kembali ke lokasi semula lebih cepat karena tidak adanya lagi ruang hutan yang “aman” dan “menyediakan pangan” untuk dijelajahi. *Melangun* yang sejatinya adalah simbol kebebasan dan spiritualitas, kini berubah menjadi perjalanan bertahan hidup yang penuh dengan batasan dan kecemasan.

2. Patahnya Kalender Adat dan Revolusi Ketahanan Pangan

Selama berabad-abad, Orang Rimba mengandalkan tanda-tanda alam sebagai kalender ekonomi mereka. Mereka tahu kapan harus memanen madu berdasarkan mekarnya bunga-bunga pohon kedondong hutan atau pohon sialang. Mereka tahu kapan kawanan hewan buruan akan bermigrasi berdasarkan pola curah hujan. Namun, pemanasan global telah mematahkan keteraturan tersebut.
“`
+————————————+————————————+
| Pola Tradisional | Realitas Krisis |
+————————————+————————————+
| * Musim buah & madu teratur | * Anomali cuaca; bunga rontok |
| * Berburu & meramu di hutan luas | * Satwa migrasi/punah; hutan rusak |
| * Bergantung penuh pada alam | * Transisi ke pertanian menetap |
+————————————+————————————+

Krisis Pangan di Rumah Sendiri

Baca Juga  Palembang di Ujung Krisis Mobilitas: Saat Kota yang Dulu Tenang Mulai Tersedak

Anomali cuaca menyebabkan pohon-pohon hutan mengalami kegagalan berbunga. Hujan ekstrem yang turun di tengah musim kemarau, atau sebaliknya, kemarau panjang yang membakar, membuat bunga-bunga bakal buah rontok sebelum sempat menjadi pangan bagi satwa maupun manusia. Akibatnya, hewan buruan seperti babi hutan dan rusa semakin langka karena kehilangan sumber makanan mereka. Orang Rimba mulai kelaparan di dalam “rumah” mereka sendiri.

Alih Generasi ke Pertanian Menetap

Kondisi kritis ini memicu adaptasi baru yang radikal dalam hal mata pencaharian. Sebagian kelompok Orang Rimba, terutama yang tinggal di zona pemanfaatan taman nasional atau yang berbatasan langsung dengan desa luar, mulai belajar bercocok tanam secara menetap—sebuah praktik yang dulunya tabu dalam hukum adat mereka yang melarang melukai tanah secara berlebihan.

Kini, dengan pendampingan dari berbagai organisasi non-pemerintah (NGO), anak-anak muda Orang Rimba mulai menanam tanaman pangan jangka pendek seperti ubi kayu, ubi jalar, pisang, dan cabai. Bahkan, beberapa di antaranya mulai menanam karet dan kelapa sawit di lahan-lahan terbatas sebagai investasi ekonomi. Hal ini dilakukan bukan karena mereka ingin meninggalkan identitas sebagai manusia hutan, melainkan karena hutan tidak lagi mampu menyediakan pangan instan akibat ekosistemnya yang telah rusak diguncang perubahan iklim.

3. Komersialisasi dan Interaksi dengan “Orang Terang”

Patahnya rantai makanan di dalam hutan otomatis memaksa Orang Rimba untuk keluar dan berinteraksi lebih intens dengan masyarakat desa atau perkotaan, yang mereka sebut sebagai “Orang Terang”. Ketergantungan terhadap ekonomi pasar menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari lagi.
Pola Lama: Barter hasil hutan (damar, rotan, madu) dengan kain atau garam.
Pola Baru: Menjual tenaga kerja sebagai buruh petik sawit di perkebunan perusahaan, atau menjual hasil komoditas pertanian mandiri untuk mendapatkan uang tunai demi membeli beras, mi instan, dan minyak goreng.
Interaksi yang semakin intens ini membawa dampak ganda. Di satu sisi, hal ini meningkatkan ketahanan pangan jangka pendek mereka agar tidak mati kelaparan di musim paceklik hutan. Di sisi lain, hal ini mempercepat erosi budaya asli.

Anak-anak muda Orang Rimba kini mulai akrab dengan teknologi genggaman (gadget) dan kendaraan bermotor, yang mereka gunakan untuk mempermudah mobilitas di tengah rute jelajah yang kini telah berubah menjadi jalan-jalan korporasi.

4. Ancaman Kesehatan Baru dan Perkawinan Dua Sistem Medis

Perubahan iklim membawa konsekuensi kesehatan yang fatal bagi komunitas yang sanitasi dan pola hidupnya sangat bergantung pada alam terbuka. Kenaikan suhu udara dan ketidakpastian curah hujan telah mengubah pola persebaran vektor penyakit di dalam hutan Sumatra.

Serbuan Penyakit Akibat Perubahan Lingkungan

Mata air dan sungai kecil di dalam hutan yang dulunya jernih, kini sering kali mengering saat kemarau, memaksa Orang Rimba menggunakan sisa-sisa air genangan yang rentan tercemar bakteri. Akibatnya, penyakit pencernaan seperti diare akut kerap menyerang balita.
Selain itu, perubahan kelembapan udara yang ekstrem memicu melonjaknya populasi nyamuk Anopheles dan Aedes aegypti, membawa wabah malaria dan demam berdarah ke dalam pemukiman rimba.

Masalah ini diperparah oleh bencana asap tahunan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ketika korporasi atau oknum membakar lahan, dan diperparah oleh fenomena iklim seperti El Nino, asap pekat tertahan di bawah kanopi hutan, menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) massal di kalangan Orang Rimba.

Adaptasi Medis: Sinergi Obat Tradisional dan Modern

Menghadapi serbuan penyakit modern dan lingkungan ini, pengetahuan lokal tentang obat-obatan herbal (remu-remuan) terkadang mencapai titik batasnya. Pohon-pohon obat yang biasanya mereka racik kini ikut punah terbakar atau hilang ditebang.
Sebagai bentuk adaptasi pertahanan hidup, para Tumenggung dan dukun adat (Alim) kini mulai membuka diri terhadap sistem medis modern.

Jika dahulu membawa orang sakit ke rumah sakit atau menyuntikkan obat dianggap melanggar pantangan adat, kini pemandangan kader kesehatan luar yang masuk ke dalam hutan untuk memberikan vaksinasi, mendistribusikan kelambu antinyamuk, dan memberikan obat-obatan penurun panas sudah menjadi hal yang lumrah.

Kami tidak membuang ramuan leluhur,” ujar seorang pemuda Rimba dalam sebuah diskusi. “Tapi kalau demam tidak turun tiga hari setelah diberi daun obat, kami tahu kami harus mencari petugas kesehatan.”

5. Eksistensi Perempuan Rimba: Beban Ganda di Tengah Krisis

Dalam struktur sosial Orang Rimba, perempuan memegang peranan sentral dalam menjaga kelangsungan domestik dan meramu pangan di sekitar pemukiman. Ketika krisis iklim melanda, perempuan Rimbahlah yang sering kali menanggung beban paling berat.
“`

Baca Juga  Asap yang Menggantung di Langit Sumsel, Ancaman yang Diam-Diam Menggerogoti Kehidupan Manusia

┌────────────────┴────────────────┐
▼ ▼
Sumber Air Mengering Hutan Buah/Obat Punah
│ │
▼ ▼
Perempuan berjalan lebih jauh Meramu pangan lebih sulit,
untuk mencari air bersih nutrisi keluarga turun

Ketika sumber air di dekat sesako (pondok) mengering, perempuan Rimba harus berjalan berkilo-kilometer lebih jauh menembus medan yang terjal untuk mencari mata air bersih yang tersisa demi kebutuhan minum dan memasak anak-anak mereka. Begitu pula ketika tanaman pangan liar berkurang, mereka harus memutar otak untuk mengolah makanan seadanya agar pemenuhan gizi keluarga tetap terpenuhi.
Namun, ketangguhan perempuan Rimba juga terlihat dari bagaimana mereka beradaptasi. Saat ini, banyak perempuan Rimba yang mulai aktif belajar membaca dan menulis melalui program pendidikan alternatif.

Mereka sadar bahwa dengan bisa membaca, mereka tidak akan mudah ditipu saat bertransaksi menjual hasil bumi di pasar, dan mereka bisa lebih berdaya dalam menjaga anak-anak mereka dari ancaman dunia luar yang kian merangsek masuk.

6. Berdaulat di Atas Peta: Jalan Advokasi dan Politik Hutan Adat

Adaptasi yang paling fundamental dan menentukan masa depan Orang Rimba bukan lagi sekadar urusan perut atau perpindahan fisik, melainkan adaptasi perjuangan politik dan hukum. Orang Rimba mulai menyadari bahwa musuh mereka bukan sekadar cuaca yang memanas, melainkan hilangnya hak atas tanah ulayat yang melegitimasi mereka untuk menjaga hutan tersebut dari kehancuran iklim.

Memetakan Ruang Hidup secara Digital

Selama ini, batas wilayah adat Orang Rimba hanya mengandalkan ingatan kolektif dan tanda alam seperti sungai besar, bukit, atau pohon keramat. Di era modern, tanda-tanda alam ini dengan mudah digusur oleh buldoser.

Melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga swadaya masyarakat seperti KKI Warsi, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), dan para aktivis lingkungan, generasi muda Orang Rimba kini mulai dilatih menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS) dan pemetaan digital. Mereka turun langsung ke lapangan untuk memetakan batas-batas wilayah adat mereka, wilayah sakral (tanah baha), serta kawasan buruan mereka ke dalam peta kartografi yang diakui oleh negara.

Perjuangan Membela Hutan Adat

Dengan peta digital di tangan, para Tumenggung kini memiliki posisi tawar yang kuat dalam bernegosiasi dengan pemerintah daerah maupun pusat. Mereka menuntut pengakuan hukum atas Hutan Adat.

Orang Rimba paham betul: cara terbaik untuk memitigasi perubahan iklim bukanlah dengan memasang teknologi canggih, melainkan dengan membiarkan masyarakat adat tetap memegang kendali atas hutan mereka. Pengalaman selama ratusan tahun membuktikan bahwa kawasan hutan yang dikelola dengan hukum adat terbukti jauh lebih lestari, memiliki serapan karbon yang tinggi, dan terhindar dari kebakaran hebat dibandingkan dengan kawasan hutan yang dikonversi menjadi lahan industri skala besar.

Menatap Masa Depan Penjaga Rimba Indonesia

Kisah adaptasi Orang Rimba di tengah gempuran perubahan iklim adalah sebuah refleksi tajam bagi peradaban modern. Mereka adalah potret nyata manusia yang dipaksa berubah, bukan karena keinginan mereka untuk mengejar modernitas, melainkan demi mempertahankan napas kehidupan yang paling dasar di atas bumi yang kian menua dan memanas.

Orang Rimba telah menunjukkan fleksibilitas budaya yang luar biasa. Mereka meredefinisi arti melangun mengadopsi pertanian menetap, membuka diri pada pengobatan modern, dan bahkan menggunakan teknologi GPS untuk membentengi sisa ruang hidup mereka. Namun, adaptasi komunitas lokal ini memiliki batasnya. Jika laju kerusakan hutan tidak dihentikan dan emisi karbon global terus meningkat, maka kemampuan adaptasi mereka suatu saat akan mencapai titik jenuh.

Menyelamatkan Orang Rimba dan menyokong adaptasi mereka bukan hanya urusan kemanusiaan terhadap sekelompok masyarakat adat di pedalaman Sumatra. Ini adalah urusan menyelamatkan masa depan planet kita. Ketika kita membantu mereka mempertahankan hak atas hutan adatnya, kita sebenarnya sedang berinvestasi pada benteng pertahanan terbaik melawan krisis iklim dunia. Sebab, selama hutan Sumatra tetap terjaga di bawah pengawasan ketat hukum adat mereka, maka di sanalah paru-paru dunia akan tetap bernapas, memberikan kehidupan bagi kita semua.

Journalism Never Dies. Kisah-kisah ketangguhan dari jantung hutan ini harus terus disuarakan ke permukaan, melintasi batas-batas rimba, agar dunia mendengar bahwa di tengah kepungan asap dan sawit, masih ada manusia-manusia mulia yang berjuang menjaga keseimbangan bumi demi kelangsungan hidup anak cucu kita semua.

#dari berbagai sumbet

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button