Mulutmu Harimaumu: Menjaga Lisan, Menjaga Iman

Mulutmu Harimaumu: Menjaga Lisan, Menjaga Iman
Oleh: Albar Sentosa Subari – Pengamat Sosial Budaya
Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, lisan tidak lagi hanya berupa ucapan, tetapi juga tulisan, komentar, unggahan, dan berbagai bentuk komunikasi yang dapat dibaca serta didengar banyak orang. Karena itu, nasihat lama *”Mulutmu Harimaumu“* menjadi semakin relevan. Apa yang keluar dari lisan seseorang merupakan cerminan hati dan kepribadiannya.
Dr. Umar Ka’fi dalam karyanya Mulutmu Harimaumu (Bahaya Lisan) mengingatkan bahwa lisan adalah nikmat besar dari Allah SWT. Dengannya manusia menyebut nama Allah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, mengajak kepada kebaikan, menasihati sesama, dan menyampaikan ilmu. Namun, lisan yang tidak dijaga justru dapat menjadi sumber petaka yang mengantarkan seseorang kepada dosa besar.
Melalui lisan, seseorang bisa tergelincir kepada syirik, menyebarkan fitnah, mengumbar kebohongan, melakukan ghibah, adu domba (namimah), menyakiti hati orang lain, merusak hubungan suami istri, menuduh orang berbuat zina tanpa bukti, hingga merampas hak orang lain melalui kesaksian palsu. Semua itu berawal dari ucapan yang tampaknya sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.
Para ulama mengibaratkan hati sebagai sebuah bejana, sedangkan lisan adalah gayungnya. Apa yang ada di dalam hati akan diambil oleh lisan untuk dikeluarkan. Jika hati dipenuhi keimanan, ketakwaan, kasih sayang, dan kejujuran, maka yang keluar dari lisan adalah perkataan yang baik. Sebaliknya, jika hati dipenuhi iri, dengki, kebencian, dan kesombongan, maka ucapan yang keluar pun akan mencerminkan keburukan tersebut.
Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya:
*”Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.”(QS. Al-Isra’: 53).
Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga ucapan bukan sekadar etika sosial, tetapi juga bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.
Dalam sebuah hadis, Mu’adz bin Jabal pernah bertanya kepada Rasulullah SAW apakah manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas ucapan mereka. Rasulullah SAW menjawab:
“Bukankah manusia disungkurkan ke dalam neraka di atas wajah-wajah mereka karena hasil lisan mereka?”(HR. At-Tirmidzi).
Hadis tersebut menjadi peringatan bahwa dosa lisan bukanlah perkara ringan. Banyak orang rajin beribadah, tetapi kehilangan pahala karena lisannya gemar menyakiti orang lain.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Tidak akan lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya sehingga lurus lisannya.”(HR. Ahmad).
Hadis ini menjelaskan hubungan yang erat antara hati, lisan, dan keimanan. Ketiganya saling berkaitan. Hati yang bersih melahirkan ucapan yang baik, sedangkan ucapan yang baik akan memperkuat keimanan seseorang.
Sering kali masyarakat memahami dosa besar hanya sebatas minum khamar, memakan riba, berzina, membunuh, meninggalkan salat, atau tidak menunaikan zakat. Semua itu memang dosa besar yang wajib dijauhi. Namun, banyak orang tidak menyadari bahwa setiap hari mereka bisa saja melakukan dosa besar melalui lisannya, seperti menggunjing, mencela, menyebarkan kabar bohong, menghina, atau memprovokasi permusuhan.
Padahal, luka akibat ucapan sering kali lebih sulit disembuhkan daripada luka fisik. Luka karena pisau mungkin dapat sembuh dalam hitungan minggu, tetapi luka hati akibat penghinaan atau fitnah dapat membekas bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.
Rasulullah SAW pernah ditanya oleh Uqbah bin Amir mengenai jalan menuju keselamatan. Beliau menjawab:
“Jagalah lisanmu, tinggallah di rumahmu, dan menangislah atas dosa-dosamu.”(HR. At-Tirmidzi).
Nasihat singkat ini mengandung makna yang sangat dalam. Menjaga lisan merupakan salah satu kunci keselamatan dunia dan akhirat. Orang yang mampu mengendalikan perkataannya akan lebih mudah menghindari permusuhan, fitnah, dan berbagai bentuk kezaliman.
Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kehormatan), maka aku menjamin baginya surga.”(HR. At-Tirmidzi).
Hadis tersebut menunjukkan betapa besar kedudukan menjaga lisan dalam ajaran Islam.
Di era digital, menjaga lisan juga berarti menjaga jari-jari tangan saat mengetik. Sebuah komentar di media sosial dapat menjadi pahala apabila berisi nasihat dan ilmu, tetapi dapat pula menjadi dosa yang terus mengalir apabila berisi fitnah, caci maki, atau berita bohong yang disebarluaskan.
Karena itu, setiap muslim hendaknya membiasakan diri berpikir sebelum berbicara atau menulis. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Semoga Allah SWT membimbing kita agar senantiasa menjaga hati dan lisan, memperbanyak ucapan yang bermanfaat, serta menjauhkan diri dari segala bentuk dosa yang bersumber dari perkataan. Sebab, lisan yang terjaga adalah cermin hati yang bersih dan menjadi salah satu jalan menuju keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat.



