BUMI REPORTNEWS

KEMARAU PANJANG DAN ALARM KESEHATAN KOTA PALEMBANG

 

Oleh: Dr. Yunita Theresiana, SE, SKM,M.Kes (Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat  Universitas Dehansen Bengkulu) dan Prof. Isnawijayani MSi, Ph.D ,Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Bina Darma / Keduanya Dewan Pakar Bakti Persada Masyarakat Sumatera Selatan

Beberapa pekan terakhir warga Palembang mulai merasakan suhu udara yang semakin panas dan menyengat. Kondisi ini menjadi pertanda datangnya musim kemarau. Namun kemarau yang kita hadapi saat ini tidak lagi sama seperti puluhan tahun lalu. Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan telah menyebabkan musim kering berlangsung lebih lama, lebih panas, dan memberikan dampak yang semakin besar terhadap kesehatan masyarakat.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu udara di Palembang mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada puncak musim kemarau, suhu dapat mencapai 34 hingga 36 derajat Celsius. Dengan tingkat kelembapan yang tinggi, suhu yang dirasakan tubuh bahkan bisa mendekati 40 derajat Celsius. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai penyakit.

Salah satu dampak yang paling nyata adalah berkurangnya ketersediaan air bersih. Penyusutan kawasan rawa dan lahan basah yang selama ini berfungsi sebagai penyimpan cadangan air menyebabkan sumber air semakin terbatas ketika kemarau datang. Banyak sumur warga mengalami penurunan debit bahkan mengering. Air yang tersisa pun cenderung lebih keruh dan rentan tercemar.

Pada saat yang sama, kualitas udara juga mengalami penurunan. Berkurangnya ruang hijau dan meningkatnya lahan terbuka menyebabkan suhu lingkungan menjadi lebih panas. Debu dan polutan udara meningkat, sementara ancaman kabut asap akibat kebakaran lahan masih menjadi persoalan yang berulang setiap musim kemarau. Akibatnya, masyarakat harus menghirup udara dengan kualitas yang jauh lebih buruk dibandingkan kondisi normal.

Baca Juga  Menjaga Lingkungan Bersih  Dalam Perspektif Islam Bagian dari Iman

Perubahan lingkungan tersebut berhubungan langsung dengan meningkatnya berbagai gangguan kesehatan. Kasus dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga gangguan kardiovaskular cenderung meningkat ketika suhu udara berada pada tingkat ekstrem. Lansia, anak-anak, serta penderita penyakit kronis merupakan kelompok yang paling rentan mengalami dampak tersebut.

Selain itu, penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, dan bronkitis juga sering mengalami peningkatan selama musim kemarau. Debu dan partikel polutan yang beterbangan dapat masuk hingga ke paru-paru dan menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Kondisi ini menjadi lebih berbahaya ketika terjadi kabut asap akibat kebakaran lahan.

Tidak hanya penyakit pernapasan, gangguan pencernaan dan penyakit kulit juga meningkat. Keterbatasan air bersih membuat sebagian masyarakat menggunakan sumber air yang kualitasnya kurang baik. Air yang tercemar dapat menjadi media penyebaran berbagai penyakit, termasuk diare. Sementara itu, kurangnya air untuk menjaga kebersihan diri dapat memicu berbagai gangguan kulit seperti gatal-gatal, iritasi, dan infeksi.

Yang sering luput dari perhatian adalah risiko demam berdarah dengue (DBD). Banyak orang menganggap DBD hanya meningkat pada musim hujan. Padahal saat kemarau, masyarakat cenderung menampung air dalam bak atau wadah tertentu untuk persediaan. Jika tidak dikelola dengan baik, tempat penampungan tersebut justru menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk penyebab DBD.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dampak kemarau tidak hanya dipengaruhi oleh faktor alam, tetapi juga oleh cara manusia mengelola lingkungan. Hilangnya daerah resapan air, berkurangnya tutupan vegetasi, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan lingkungan memperbesar risiko yang harus dihadapi.

Baca Juga  Membiasakan Kecerdasan Lingkungan Sejak di Rumah untuk Menyelamatkan Bumi

Karena itu, diperlukan langkah nyata untuk mengurangi dampak kemarau terhadap kesehatan masyarakat. Pengelolaan air harus menjadi prioritas, baik melalui pembangunan sumur resapan maupun penampungan air hujan yang memenuhi standar kesehatan. Masyarakat juga perlu memastikan bahwa tempat penyimpanan air selalu tertutup dan dibersihkan secara berkala.

Selain itu, penghijauan kota harus terus diperkuat. Pohon memiliki peran penting dalam menurunkan suhu lingkungan, meningkatkan kualitas udara, serta menjaga ketersediaan air tanah. Menanam pohon di sekitar rumah dan menjaga kawasan hijau merupakan investasi jangka panjang bagi kesehatan masyarakat.

Peningkatan sanitasi lingkungan dan pengelolaan sampah juga tidak kalah penting. Lingkungan yang bersih akan mengurangi risiko penyebaran penyakit sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Pada akhirnya, kemarau panjang bukan sekadar persoalan cuaca, melainkan persoalan kesehatan lingkungan yang membutuhkan perhatian bersama. Dengan pengelolaan lingkungan yang baik, edukasi masyarakat yang berkelanjutan, serta dukungan kebijakan pemerintah, dampak kemarau dapat diminimalkan. Menjaga lingkungan berarti menjaga kesehatan diri, keluarga, dan masa depan Kota Palembang yang lebih sehat dan berkelanjutan.

“Kemarau panjang hendaknya menjadi alarm bagi kita semua bahwa kesehatan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari kualitas lingkungan. Ketika air bersih semakin sulit diperoleh, udara semakin panas, dan ruang hijau semakin berkurang, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan hidup, tetapi juga keselamatan dan kesehatan generasi mendatang.”

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button