Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Ketika Menjaga Bumi Menjadi Tanggung Jawab Kita Semua
Jauh sebelum isu lingkungan menjadi pembahasan dunia modern, Al-Qur'an telah mengingatkan manusia agar tidak merusak bumi.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Ketika Menjaga Bumi Menjadi Tanggung Jawab Iman

Oleh: Bangun Lubis – Wartawan Era Baru
Setiap tanggal 5 Juni, dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Bagi sebagian orang, peringatan ini mungkin hanya dianggap sebagai agenda tahunan yang berlalu begitu saja. Namun sesungguhnya, hari ini adalah sebuah pengingat bahwa bumi yang kita tempati sedang membutuhkan perhatian, kepedulian, dan tindakan nyata dari seluruh manusia.
Kita hidup di sebuah planet yang luar biasa. Allah menciptakan bumi dengan keseimbangan yang sempurna. Gunung-gunung berdiri kokoh sebagai pasak bumi. Sungai-sungai mengalir membawa kehidupan. Hutan tumbuh menjadi paru-paru dunia. Lautan menyimpan kekayaan yang tak terhitung. Udara yang kita hirup setiap hari tersedia tanpa harus membelinya.
Namun di balik semua anugerah itu, bumi kini menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Perubahan iklim, pencemaran udara, pencemaran sungai, penumpukan sampah plastik, kebakaran hutan, dan berkurangnya ruang hijau menjadi persoalan yang dirasakan hampir di seluruh dunia.
Karena itulah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia sejak tahun 1972. Peringatan ini bertujuan membangun kesadaran global bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi tanggung jawab seluruh umat manusia.
Bila kita menengok ajaran Islam, kepedulian terhadap lingkungan ternyata bukanlah hal baru. Jauh sebelum isu lingkungan menjadi pembahasan dunia modern, Al-Qur’an telah mengingatkan manusia agar tidak merusak bumi.
Allah SWT berfirman:
*”Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”(QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini mengandung pesan yang sangat kuat. Allah telah menciptakan bumi dalam keadaan baik dan seimbang. Tugas manusia bukan merusaknya, melainkan menjaga dan memeliharanya.
Sayangnya, banyak kerusakan yang terjadi justru berasal dari tangan manusia sendiri. Hutan dibabat tanpa kendali. Sampah dibuang ke sungai. Limbah mencemari laut. Asap kendaraan dan industri mencemari udara. Padahal manusia sesungguhnya sangat bergantung pada alam.
Kita sering lupa bahwa segelas air yang kita minum berasal dari siklus alam yang panjang. Nasi yang kita makan tumbuh dari tanah yang subur. Udara yang kita hirup dihasilkan oleh pepohonan yang tumbuh selama bertahun-tahun. Ketika alam rusak, sesungguhnya manusia sedang merusak fondasi kehidupannya sendiri.
Al-Qur’an kembali mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan yang benar.”(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini terasa sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. Banjir yang semakin sering terjadi, cuaca ekstrem yang sulit diprediksi, kekeringan yang berkepanjangan, hingga meningkatnya suhu bumi menjadi peringatan bahwa keseimbangan alam sedang terganggu.
Menurut berbagai laporan lingkungan internasional, suhu rata-rata bumi terus mengalami peningkatan dibandingkan era sebelum revolusi industri. Dampaknya dirasakan hampir di seluruh negara dalam bentuk perubahan pola cuaca, meningkatnya risiko bencana alam, serta ancaman terhadap ketahanan pangan dan sumber air bersih.
Indonesia sendiri tidak terlepas dari tantangan tersebut. Sebagai negara yang memiliki hutan tropis terbesar di dunia, Indonesia memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan global. Hutan-hutan Indonesia bukan hanya menjadi rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna, tetapi juga berfungsi menyerap karbon dan menjaga iklim dunia.
Karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar urusan lokal. Ia telah menjadi bagian dari tanggung jawab kemanusiaan yang lebih luas.
Yang menarik, Islam tidak hanya berbicara tentang larangan merusak lingkungan. Islam juga mengajarkan tindakan nyata untuk menjaga alam.
Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, kecuali menjadi sedekah baginya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa menanam pohon bukan sekadar aktivitas penghijauan. Ia bernilai ibadah dan sedekah yang pahalanya terus mengalir selama pohon itu memberikan manfaat.
Bayangkan jika setiap orang menanam satu pohon setiap tahun. Dalam beberapa tahun saja, jutaan pohon baru akan tumbuh dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang. Udara menjadi lebih bersih, suhu lebih sejuk, dan lingkungan menjadi lebih nyaman untuk ditinggali.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia juga mengajarkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil. Tidak semua orang mampu melakukan proyek besar untuk menyelamatkan bumi. Namun setiap orang dapat melakukan hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya membuang sampah pada tempatnya. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Membawa botol minum sendiri. Menghemat penggunaan listrik dan air. Menanam tanaman di halaman rumah. Mengurangi pemborosan makanan. Menggunakan kendaraan secara bijak.
Tindakan-tindakan kecil tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi jika dilakukan oleh jutaan orang secara bersama-sama, dampaknya akan sangat besar.
Sering kali manusia berpikir bahwa masalah lingkungan adalah urusan pemerintah, perusahaan besar, atau organisasi internasional. Padahal perubahan tidak akan terjadi tanpa partisipasi masyarakat. Lingkungan yang bersih dimulai dari rumah yang bersih. Kota yang bersih dimulai dari keluarga yang peduli terhadap kebersihan.
Di sinilah pentingnya pendidikan lingkungan sejak dini. Anak-anak perlu diajarkan mencintai pohon, menjaga kebersihan sungai, tidak membuang sampah sembarangan, dan menghargai setiap makhluk hidup sebagai ciptaan Allah. Ketika kesadaran itu tumbuh sejak kecil, mereka akan menjadi generasi yang lebih bertanggung jawab terhadap bumi.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia juga mengingatkan bahwa manusia hanyalah penghuni sementara di bumi ini. Kita mewarisi bumi dari generasi sebelumnya dan akan menyerahkannya kepada generasi berikutnya. Karena itu, sudah sepantasnya kita meninggalkan bumi dalam kondisi yang lebih baik, bukan sebaliknya.
Kelak anak cucu kita mungkin tidak mengenal nama kita. Mereka mungkin tidak mengetahui pekerjaan yang pernah kita lakukan atau jabatan yang pernah kita pegang. Namun mereka akan merasakan dampak dari pilihan yang kita buat hari ini. Mereka akan menikmati sungai yang bersih atau menderita akibat sungai yang tercemar. Mereka akan merasakan udara yang segar atau menghadapi polusi yang semakin parah.
Maka pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, marilah kita merenung sejenak. Sudahkah kita menjadi bagian dari solusi atau justru menjadi bagian dari masalah?
Menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban sosial. Ia adalah bentuk rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Setiap pohon yang kita tanam, setiap sampah yang kita pungut, setiap tetes air yang kita hemat, dan setiap langkah kecil yang kita lakukan untuk menjaga bumi adalah bagian dari ikhtiar memelihara amanah yang telah Allah titipkan kepada manusia.
Bumi tidak membutuhkan pidato yang panjang. Bumi membutuhkan tindakan nyata.
Dan mungkin, salah satu warisan terbaik yang dapat kita tinggalkan kepada generasi mendatang bukanlah harta yang melimpah, melainkan lingkungan yang sehat, udara yang bersih, air yang jernih, serta alam yang tetap lestari.
Sebab ketika kita menjaga bumi, sesungguhnya kita sedang menjaga kehidupan itu sendiri.
Sumber:
United Nations Environment Programme (UNEP), World Environment Day; Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB); Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia; Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 56; Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41; Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim tentang menanam pohon sebagai sedekah.



