Bukan Sekadar ISPA, Kabut Asap Karhutla Ancam Paru-paru hingga Jantung

JAKARTA, Erabaru.news— Bahaya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak berhenti pada batuk, sesak napas, atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Paparan asap dalam jangka panjang juga berpotensi meningkatkan risiko gangguan jantung dan pembuluh darah, sekaligus mengancam tumbuh kembang anak.
Epidemiolog Dicky Budiman, yang juga Ketua DPP LDII, mengingatkan bahwa paparan kabut asap selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan dapat menimbulkan dampak kesehatan berlapis. Karena itu, persoalan karhutla tidak semestinya hanya dipandang sebagai bencana lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
“Asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, serta sejumlah gas iritan yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu peradangan,” ujarnya, Selasa (20/10/2026).
Menurut Dicky, dampak paparan asap dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari batuk berkepanjangan, bronkitis, kekambuhan asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga penurunan fungsi paru.
Ancaman tersebut bahkan dapat meluas ke sistem kardiovaskular. Partikel halus yang masuk ke tubuh dapat memicu respons peradangan dan memengaruhi fungsi jantung serta pembuluh darah. Paparan polusi udara juga dikaitkan dengan peningkatan risiko serangan jantung, stroke, dan gangguan irama jantung.
Selain itu, asap dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, dan tenggorokan, termasuk konjungtivitis atau peradangan pada selaput mata.
Anak-anak dan Ibu Hamil Menjadi Kelompok Paling Rentan
Dicky menegaskan, bayi, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan penyakit kronis membutuhkan perlindungan lebih besar selama kabut asap berlangsung.
Pada ibu hamil, paparan polusi udara dalam jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan risiko berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur. Sementara pada anak-anak, paparan asap yang berulang berpotensi mengganggu perkembangan paru-paru dan meningkatkan risiko masalah pernapasan di kemudian hari.
“Anak jauh lebih rentan karena frekuensi napasnya lebih cepat sehingga menghirup lebih banyak udara per kilogram berat badannya. Saluran napasnya juga lebih sempit dan parunya masih berkembang,” jelasnya.
Paparan asap pada bayi dan anak dapat memicu batuk berkepanjangan, infeksi saluran pernapasan berulang, infeksi telinga, sesak napas, hingga kekurangan oksigen. Jika terjadi berulang, kondisi tersebut berpotensi mengganggu tumbuh kembang dan fungsi paru, sekaligus meningkatkan risiko asma.
Dicky meminta masyarakat tidak mengabaikan gejala yang muncul selama periode kabut asap. Sesak napas, napas cepat atau berbunyi, kesulitan bernapas saat beristirahat, nyeri atau tekanan di dada, jantung berdebar tidak wajar, pusing berat, hingga pingsan merupakan tanda yang memerlukan pertolongan medis segera.
Gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi batuk terus-menerus yang semakin berat, batuk darah, demam tinggi, serta bibir atau ujung jari yang membiru.
Bagi penderita asma dan PPOK, pertolongan medis diperlukan apabila obat yang biasanya digunakan tidak lagi membantu meredakan gejala. Sementara pada anak, tanda bahaya antara lain dinding dada tertarik ke dalam saat bernapas, kesulitan minum, tubuh sangat lemas, atau tidur lebih banyak dari biasanya dan sulit dibangunkan.
Untuk mengurangi risiko kesehatan, Dicky menyarankan masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah, terutama olahraga berat, ketika kualitas udara memburuk. Warga juga disarankan menutup pintu, jendela, serta celah ventilasi ketika asap di luar sedang tebal.
Apabila harus beraktivitas di luar, masker respirator seperti N95 yang terpasang dengan baik dapat membantu mengurangi paparan partikel halus.
“Jangan membakar sampah, jangan merokok, dan jangan memasak dengan menghasilkan asap di dalam ruangan,” ujarnya.
Masyarakat juga perlu menjaga asupan cairan dan gizi serta memanfaatkan ruang evakuasi atau tempat penampungan dengan udara lebih bersih apabila tersedia.
Khusus bagi keluarga yang memiliki bayi dan anak, Dicky menyarankan agar satu ruangan di rumah, terutama kamar tidur anak, dijadikan area dengan paparan asap seminimal mungkin. Jika memungkinkan, gunakan alat penjernih udara dengan filter partikel yang sesuai. Celah di bawah pintu dapat ditutup untuk mengurangi masuknya asap, sementara pintu dan jendela sebaiknya tidak terlalu sering dibuka ketika udara di luar sedang tercemar.
Pembersihan lantai dan permukaan ruangan menggunakan kain basah juga disarankan untuk mengurangi debu yang mengendap. Anak-anak dan bayi sebaiknya tidak dibawa keluar ketika asap sedang tebal.
Apabila kondisi kesehatan anak memburuk atau paparan asap di rumah tidak dapat dikendalikan, keluarga perlu mempertimbangkan pindah sementara ke lokasi dengan kualitas udara yang lebih baik.
Dicky turut mengingatkan pentingnya memenuhi kebutuhan cairan dan gizi anak, termasuk memastikan bayi memperoleh ASI yang cukup.
Di tengah ancaman karhutla yang dapat berlangsung lama, perlindungan kesehatan masyarakat perlu menjadi prioritas. Sebab, dampak kabut asap tidak selalu berhenti ketika api padam. Paparan yang berulang dapat meninggalkan konsekuensi kesehatan yang lebih panjang, terutama bagi kelompok rentan.
(Taufiq/rel)



