Asap yang Menggantung di Langit Sumsel, Ancaman yang Diam-Diam Menggerogoti Kehidupan Manusia
Langit Sumatera Selatan perlahan berubah warna.

Asap yang Menggantung di Langit Sumsel, Ancaman yang Diam-Diam Menggerogoti Kehidupan Manusia
Oleh : Bangun Lubis – Ketua Umum Era Baru – ” Arus Perubahan Iklim”
Langit Sumatera Selatan perlahan berubah warna.
Di beberapa pagi, terutama saat kemarau panjang datang, matahari tampak redup di balik lapisan abu-abu yang menggantung rendah di udara. Gedung-gedung di kejauhan terlihat samar. Napas terasa berat. Mata perih. Tenggorokan seperti terbakar perlahan.
Namun yang paling mengkhawatirkan sebenarnya bukan apa yang terlihat oleh mata, melainkan apa yang masuk ke dalam paru-paru manusia tanpa disadari.
Asap yang menggantung di langit Sumsel bukan sekadar gangguan musiman. Ia adalah ancaman lingkungan dan kesehatan yang diam-diam menggerogoti kehidupan manusia.
Masalah ini telah berlangsung bertahun-tahun. Ketika musim kemarau tiba, sebagian wilayah di Sumatera Selatan hampir selalu dihadapkan pada ancaman kebakaran hutan dan lahan. Daerah seperti Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Banyuasin, hingga Musi Banyuasin menjadi wilayah yang sering disebut dalam laporan titik panas.
Api yang membakar lahan gambut menghasilkan asap dalam jumlah besar. Dan berbeda dengan tanah biasa, gambut menyimpan bara api di bawah permukaan sehingga sulit dipadamkan. Kadang api tampak padam di atas, tetapi bara masih hidup di bawah tanah selama berminggu-minggu.
Ketika angin bergerak, asap menyebar hingga ke kota-kota besar seperti Palembang. Langit berubah kelabu. Udara menjadi racun yang dihirup manusia setiap hari.
Yang membuat keadaan semakin serius adalah kandungan kimia dalam asap tersebut. Asap hasil pembakaran hutan dan lahan mengandung karbon monoksida, karbon dioksida, nitrogen oksida, sulfur dioksida, serta partikel sangat halus yang dikenal dengan PM2.5.
Partikel PM2.5 sangat kecil sehingga mampu masuk jauh ke paru-paru bahkan aliran darah manusia. Inilah sebabnya kabut asap sangat berbahaya.
Ilmuwan lingkungan dari Harvard University, Dr. Francesca Dominici, pernah menjelaskan bahwa paparan partikel halus PM2.5 dalam jangka panjang memiliki hubungan kuat dengan meningkatnya angka kematian akibat gangguan jantung dan paru-paru.
Sementara ilmuwan atmosfer James Hansen dari NASA pernah mengingatkan bahwa polusi udara dan emisi karbon bukan hanya merusak kesehatan manusia, tetapi juga mempercepat pemanasan global yang mengancam masa depan bumi.
Ancaman asap memang sering datang perlahan dan tidak menakutkan secara langsung seperti banjir atau gempa bumi. Tetapi justru karena itulah ia berbahaya.
Ia masuk diam-diam.
Setiap tarikan napas membawa partikel racun masuk ke tubuh. Anak-anak mulai batuk. Lansia kesulitan bernapas. Penderita asma kambuh. Rumah sakit dipenuhi pasien infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.
Yang paling rentan adalah bayi, anak-anak, ibu hamil, dan orang tua.
Penelitian kesehatan menunjukkan bahwa anak-anak yang terlalu sering terpapar polusi udara berisiko mengalami gangguan perkembangan paru-paru. Bahkan kemampuan belajar anak juga dapat terganggu akibat kualitas udara yang buruk.
Asap bukan hanya persoalan kesehatan. Ia juga menyerang ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat.
Ketika kabut asap pekat datang, aktivitas transportasi terganggu. Penerbangan tertunda akibat jarak pandang pendek. Aktivitas sungai menjadi lebih berbahaya. Pedagang kecil kehilangan pembeli karena masyarakat memilih tinggal di rumah.
Di sektor pendidikan, sekolah kadang harus diliburkan demi keselamatan siswa. Anak-anak kehilangan waktu belajar. Dan semua itu sebenarnya merupakan kerugian besar yang sering tidak dihitung secara serius.
Masalah asap juga tidak bisa dipisahkan dari perubahan iklim global.
Ketika lahan gambut terbakar, karbon yang tersimpan selama ratusan tahun terlepas ke atmosfer. Karbon dioksida menjadi gas rumah kaca yang memerangkap panas bumi.
Akibatnya suhu bumi meningkat.
Cuaca menjadi tidak menentu. Kemarau lebih panjang. Hujan turun ekstrem. Banjir dan kekeringan terjadi lebih sering.
Profesor lingkungan Johan Rockström pernah mengatakan bahwa manusia kini hidup di masa ketika kerusakan lingkungan tidak lagi bersifat lokal, tetapi telah mempengaruhi sistem bumi secara keseluruhan.
Apa yang terjadi di Sumsel sesungguhnya terhubung dengan krisis lingkungan dunia.
Selain kebakaran lahan, polusi udara di perkotaan juga diperparah oleh emisi kendaraan bermotor dan industri. Setiap hari ribuan kendaraan mengeluarkan karbon monoksida dan zat beracun lainnya ke udara.
Belum lagi pembakaran sampah yang masih sering dilakukan masyarakat secara terbuka.
Kebiasaan ini terlihat kecil, tetapi ketika dilakukan oleh ribuan rumah tangga setiap hari, dampaknya sangat besar terhadap kualitas udara kota.
Dalam kondisi tertentu, fenomena inversi suhu membuat polusi terperangkap di lapisan bawah atmosfer. Akibatnya asap menggantung rendah di atas kota dan langsung dihirup manusia.
Inilah sebabnya mengapa udara di kota besar kadang terasa sesak meski tidak sedang terjadi kebakaran besar.
Karena itu, persoalan asap harus ditangani secara serius dan menyeluruh.
Penegakan hukum terhadap pembakar lahan harus benar-benar dilakukan tanpa kompromi. Pembukaan lahan dengan cara membakar tidak boleh lagi dianggap biasa.
Pemerintah juga perlu memperluas restorasi gambut agar lahan tetap basah dan tidak mudah terbakar.
Kota-kota di Sumsel harus memperbanyak ruang hijau. Pohon bukan sekadar penghias jalan, tetapi paru-paru kehidupan yang membantu menyaring polusi udara.
Transportasi publik juga harus diperbaiki agar masyarakat tidak terlalu bergantung pada kendaraan pribadi.
Dan yang tidak kalah penting adalah pendidikan lingkungan kepada masyarakat sejak dini. Kesadaran menjaga udara bersih harus menjadi budaya bersama.
Sebab sesungguhnya manusia tidak bisa hidup tanpa udara.
Kita mungkin masih bisa bertahan beberapa hari tanpa makanan, tetapi tidak akan mampu bertahan beberapa menit tanpa oksigen.
Karena itu, menjaga udara bersih sejatinya adalah menjaga kehidupan itu sendiri.
Di tengah pembahasan tentang asap dan kerusakan lingkungan ini, ada satu ayat Al-Qur’an yang sangat relevan namun jarang dikaitkan dengan persoalan lingkungan hidup.
Allah SWT berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,…*(QS. Ar-Rum : 41)
Ayat ini terasa sangat tepat menggambarkan kondisi hari ini. Kerusakan lingkungan bukan datang tiba-tiba dari langit, tetapi lahir dari perilaku manusia sendiri.
Asap yang memenuhi udara, hutan yang terbakar, sungai yang tercemar, dan suhu bumi yang meningkat sesungguhnya adalah akibat dari keserakahan dan kelalaian manusia terhadap alam.
Padahal Islam mengajarkan keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
Bahkan dalam sebuah hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW melarang tindakan yang membawa mudarat kepada orang lain. Dalam konteks modern, mencemari udara hingga merusak kesehatan masyarakat jelas termasuk bentuk mudarat yang besar.
Karena itu, melawan asap bukan hanya tugas pemerintah atau petugas pemadam kebakaran. Ini adalah tanggung jawab moral seluruh manusia.
Media harus terus mengingatkan. Kampus harus aktif melakukan riset. Tokoh agama perlu menyuarakan pentingnya menjaga alam sebagai amanah Tuhan.
Dan masyarakat harus mulai sadar bahwa udara bersih bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele.
- Langit biru adalah nikmat.
- Udara segar adalah rahmat.
Jangan sampai suatu hari nanti anak-anak di Sumsel hanya mengenal udara bersih dari cerita generasi sebelumnya.
Sebab ketika asap terus menggantung di langit Sumsel, yang perlahan hilang bukan hanya kejernihan udara, tetapi juga kesehatan, kenyamanan, dan masa depan kehidupan manusia itu sendiri.
Daftar Bacaan
1. World Health Organization — Air Pollution and Health Report.
2. NASA — Climate Change and Atmospheric Pollution Studies.
3. Intergovernmental Panel on Climate Change — Climate Change Assessment Report.
4. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia — Data Karhutla dan ISPU.
5. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Republik Indonesia — Kajian Kabut Asap dan Cuaca Ekstrem.
6. James Hansen — *Storms of My Grandchildren*.
7. Johan Rockström — Planetary Boundaries Research.
8. Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41.



