Kelas Menengah Indonesia: Antara Angka Statistik dan Realitas Keamanan Ekonomi

Kelas Menengah Indonesia: Antara Angka Statistik dan Realitas Keamanan Ekonomi
Oleh: Rosihan Arsyad
Dalam setiap pembicaraan mengenai keberhasilan pembangunan ekonomi, istilah kelas menengah selalu menempati posisi yang sangat penting. Negara yang memiliki kelas menengah besar biasanya dianggap sebagai negara yang telah berhasil mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja produktif, meningkatkan kualitas pendidikan, dan membangun masyarakat yang lebih mandiri. Kelas menengah juga sering dipandang sebagai fondasi stabilitas politik dan demokrasi karena kelompok ini memiliki pendidikan lebih baik, akses informasi lebih luas, serta kepentingan yang kuat terhadap pemerintahan yang efektif dan tata kelola yang baik.
Namun, terdapat persoalan mendasar yang perlu dipertanyakan: siapakah sebenarnya yang dapat disebut sebagai kelas menengah?
Apakah seseorang yang sudah mampu memenuhi kebutuhan makan, memiliki tempat tinggal sederhana, membeli beberapa barang konsumsi, dan tidak lagi masuk kategori miskin secara statistik otomatis dapat disebut kelas menengah? Ataukah kelas menengah seharusnya memiliki pengertian yang lebih luas, yaitu kelompok masyarakat yang bukan hanya mampu bertahan hidup hari ini, tetapi juga memiliki kemampuan merencanakan dan menjamin masa depan?
Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan definisi statistik. Cara sebuah negara mendefinisikan kelas menengah akan menentukan bagaimana negara tersebut memahami tingkat kesejahteraan masyarakatnya.
Jika definisi terlalu rendah, sebuah negara dapat merasa telah memiliki kelas menengah yang besar, padahal sebagian besar masyarakat masih berada dalam kondisi rentan. Mereka mungkin tidak miskin, tetapi juga belum memiliki keamanan ekonomi. Mereka mampu memenuhi kebutuhan rutin, tetapi satu kejadian besar seperti kehilangan pekerjaan, penyakit serius, atau biaya pendidikan anak dapat dengan cepat mengganggu seluruh keseimbangan ekonomi keluarga.
Karena itu, menurut saya, kelas menengah tidak seharusnya hanya didefinisikan berdasarkan berapa besar pendapatan seseorang atau berapa besar pengeluarannya setiap hari. Kelas menengah yang sesungguhnya harus dilihat dari kemampuan seseorang membangun kehidupan yang stabil dan berkelanjutan.
Kelas Menengah Dunia: Bukan Sekadar Pendapatan, tetapi Kemampuan Mempertahankan Standar Hidup
Di negara-negara maju, konsep kelas menengah umumnya tidak hanya didasarkan pada pendapatan. Pendapatan memang penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran.
Di Amerika Serikat, misalnya, keluarga kelas menengah secara tradisional dikaitkan dengan kemampuan memiliki rumah, mendapatkan pendidikan tinggi bagi anak, memiliki perlindungan kesehatan, menyisihkan dana pensiun, dan memiliki aset tertentu. Memang terdapat variasi besar antara satu wilayah dan wilayah lain, tetapi gagasan dasarnya sama: seseorang disebut kelas menengah apabila ia memiliki kemampuan mempertahankan standar hidupnya dan memiliki ruang untuk merencanakan masa depan.
Menariknya, di Amerika Serikat pun muncul kekhawatiran mengenai apa yang disebut sebagai fragile middle class. Banyak keluarga memiliki pendapatan yang secara statistik masuk kelas menengah, tetapi hidup dari gaji ke gaji (paycheck to paycheck). Mereka memiliki pekerjaan dan konsumsi yang cukup tinggi, tetapi tidak memiliki cadangan ekonomi yang memadai.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pendapatan saja tidak cukup.
Jerman dan negara-negara Eropa Barat memiliki pendekatan berbeda karena sistem kesejahteraan negara mereka lebih kuat. Pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial mengurangi tekanan ekonomi rumah tangga. Karena itu, kelas menengah Eropa lebih banyak ditentukan oleh stabilitas pekerjaan, tingkat pendidikan, kualitas hidup, serta kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Jepang setelah Perang Dunia II bahkan membangun identitas nasional melalui konsep masyarakat kelas menengah. Keberhasilan pembangunan Jepang bukan hanya menghasilkan pertumbuhan industri, tetapi menciptakan jutaan keluarga dengan pekerjaan tetap, rumah, tabungan, pendidikan anak, dan rasa aman terhadap masa depan.
Korea Selatan mengalami transformasi yang serupa. Dalam beberapa dekade, negara tersebut berhasil mengubah dirinya dari negara miskin menjadi negara industri maju dengan memperbesar kelompok masyarakat berpendapatan menengah melalui pendidikan, industrialisasi, dan penciptaan pekerjaan produktif.
Dari pengalaman negara-negara tersebut terlihat bahwa kelas menengah bukan sekadar kelompok yang mampu membeli barang konsumsi. Kelas menengah adalah kelompok yang memiliki kapasitas ekonomi untuk memilih, merencanakan, dan membangun masa depan.
Indonesia: Antara Kelas Menengah Statistik dan Kelas Menengah yang Sebenarnya
Indonesia telah mengalami kemajuan ekonomi yang luar biasa dibandingkan beberapa dekade lalu. Jumlah masyarakat miskin menurun secara signifikan, tingkat pendidikan meningkat, infrastruktur berkembang, dan konsumsi masyarakat mengalami peningkatan.
Namun, dalam mengukur kelas menengah, Indonesia menghadapi tantangan definisi.
Berbagai lembaga menggunakan pendekatan berbasis pengeluaran konsumsi untuk mengidentifikasi kelas menengah. Pendekatan tersebut berguna untuk melihat peningkatan kesejahteraan, tetapi belum sepenuhnya menggambarkan keamanan ekonomi.
Sebuah keluarga dengan pendapatan Rp15 juta atau Rp20 juta per bulan di kota besar mungkin tampak sebagai kelas menengah. Namun setelah dikurangi biaya rumah, kendaraan, pendidikan anak, kesehatan, kebutuhan orang tua, dan biaya hidup perkotaan, belum tentu keluarga tersebut memiliki surplus ekonomi yang cukup.
Mereka tidak miskin, tetapi juga belum sepenuhnya aman.
Kelompok seperti ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai kelompok menuju kelas menengah atau aspiring middle class.
Kelas menengah yang matang harus memiliki beberapa karakteristik:
Pertama, memiliki pendapatan tetap atau relatif stabil. Pendapatan tidak harus sangat tinggi, tetapi dapat diprediksi sehingga keluarga dapat membuat rencana jangka panjang.
Kedua, setelah memenuhi kebutuhan dasar masih terdapat surplus yang dapat digunakan untuk menabung.
Ketiga, mampu berinvestasi pada pendidikan anak hingga tingkat perguruan tinggi.
Keempat, memiliki perlindungan risiko melalui asuransi kesehatan, perlindungan jiwa, atau sistem jaminan sosial.
Kelima, memiliki aset, baik berupa rumah, tabungan, investasi keuangan, maupun usaha produktif.
Dengan standar tersebut, kelas menengah bukan hanya persoalan gaya hidup, tetapi persoalan ketahanan ekonomi.
Berapa Banyak Kelas Menengah Indonesia yang Sesungguhnya?
Pertanyaan ini menarik karena jawabannya sangat bergantung pada definisi yang digunakan.
Jika menggunakan ukuran konsumsi yang lebih longgar, Indonesia sering disebut memiliki puluhan juta penduduk kelas menengah. Namun angka tersebut masih mencakup kelompok yang relatif rentan.
Apabila digunakan definisi yang lebih ketat seperti di atas, yaitu masyarakat yang memiliki pendapatan stabil, tabungan, perlindungan risiko, kemampuan membiayai pendidikan tinggi anak, dan kemampuan berinvestasi, maka jumlahnya kemungkinan jauh lebih kecil.
Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, perkiraan yang lebih realistis adalah sekitar 30–50 juta orang, atau kurang lebih 10–18 persen penduduk Indonesia.
Angka ini bukan angka resmi karena statistik nasional belum mengukur kelas menengah berdasarkan seluruh indikator tersebut. Namun secara ekonomi, perkiraan ini lebih masuk akal karena sebagian besar masyarakat Indonesia masih menghadapi persoalan:
pekerjaan informal;
pendapatan yang tidak stabil;
rendahnya kepemilikan aset;
keterbatasan tabungan;
perlindungan pensiun yang belum memadai.
Dengan kata lain, Indonesia memiliki banyak masyarakat yang sedang menuju kelas menengah, tetapi belum semuanya menjadi kelas menengah yang mapan.
Bagaimana Indonesia Membesarkan Kelas Menengah?
Membangun kelas menengah tidak dapat dilakukan hanya dengan memberikan bantuan sosial atau meningkatkan konsumsi masyarakat. Kebijakan seperti itu penting untuk menjaga daya beli dan mengurangi kemiskinan, tetapi tidak cukup untuk menciptakan kelas menengah yang kuat.
Indonesia membutuhkan transformasi ekonomi.
Pertama, Indonesia harus menciptakan lebih banyak pekerjaan produktif.
Negara-negara yang berhasil membangun kelas menengah besar melakukannya melalui industrialisasi, teknologi, manufaktur bernilai tambah, dan sektor jasa modern. Masyarakat harus berpindah dari pekerjaan berproduktivitas rendah menuju pekerjaan yang memberikan pendapatan stabil dan kesempatan berkembang.
Kedua, Indonesia harus melakukan revolusi pendidikan.
Pendidikan bukan hanya soal memperbesar jumlah lulusan, tetapi memastikan lulusan memiliki keterampilan yang dibutuhkan ekonomi modern. Kemampuan teknologi, bahasa, sains, kreativitas, dan keterampilan profesional akan menentukan apakah seseorang dapat masuk ke kelas ekonomi produktif.
Ketiga, masyarakat harus didorong menjadi pemilik aset.
Sebuah negara tidak dapat memiliki kelas menengah kuat jika sebagian besar masyarakat hanya menjadi konsumen.
Budaya menabung, investasi, kepemilikan rumah, dana pensiun, dan kepemilikan usaha harus diperluas. Literasi keuangan harus menjadi bagian dari pendidikan nasional.
Keempat, sistem perlindungan sosial harus diperkuat.
Masyarakat tidak akan berani mengambil risiko ekonomi jika mereka merasa satu musibah dapat menghancurkan seluruh kehidupan keluarga. Perlindungan kesehatan, pensiun, dan keamanan kerja adalah fondasi kelas menengah.
Kelima, negara harus memperbaiki kualitas institusi.
Kelas menengah berkembang dalam lingkungan yang memiliki kepastian hukum, birokrasi yang efektif, dan tingkat korupsi rendah. Masyarakat akan lebih berani bekerja keras, membuka usaha, dan berinvestasi apabila mereka percaya bahwa hak mereka terlindungi.
Kesimpulan: Ukuran Kemajuan Negara adalah Besarnya Kelas Menengah yang Aman
Indonesia tidak boleh puas hanya dengan angka kemiskinan yang menurun. Tantangan berikutnya adalah membangun masyarakat yang memiliki keamanan ekonomi.
Sebuah keluarga dapat disebut kelas menengah apabila mereka tidak hanya mampu bertahan hidup, tetapi mampu membangun masa depan.
Mereka memiliki pekerjaan yang stabil, mampu menyekolahkan anak, memiliki perlindungan kesehatan, mempunyai tabungan, dan dapat berinvestasi untuk hari tua.
Negara maju bukan hanya negara yang memiliki gedung pencakar langit, jalan tol, atau teknologi modern. Negara maju adalah negara yang sebagian besar keluarganya memiliki keyakinan bahwa masa depan mereka lebih baik daripada masa lalu.
Karena itu, agenda besar Indonesia bukan hanya mengurangi jumlah orang miskin, tetapi memperbesar jumlah masyarakat kelas menengah yang produktif, mandiri, dan memiliki aset.
Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alamnya, tetapi oleh kualitas dan ketahanan ekonomi jutaan keluarga yang membangun negara tersebut.
Referensi
- World Bank. Aspiring Indonesia: Expanding the Middle Class. Washington DC: World Bank, 2019.
- World Bank. Indonesia Economic Prospects. Berbagai edisi.
- OECD. Under Pressure: The Squeezed Middle Class. OECD Publishing, Paris, 2019.
- OECD. Society at a Glance: Asia/Pacific. OECD Publishing.
- Pew Research Center. Are You in the American Middle Class? dan berbagai kajian tentang distribusi pendapatan Amerika Serikat.
- Milanovic, Branko. Global Inequality: A New Approach for the Age of Globalization. Harvard University Press, 2016.
- Birdsall, Nancy. The Middle Class and the Poor: A Framework for Development Policy. Center for Global Development.
- Asian Development Bank. Asia’s Middle Class: Past, Present, and Future. Manila: ADB.
- Kharas, Homi. The Emerging Middle Class in Developing Countries. OECD Development Centre Working Paper.
- OECD. Education at a Glance. OECD Publishing.



