Palembang di Ujung Krisis Mobilitas: Saat Kota yang Dulu Tenang Mulai Tersedak
Terjebak dalam Kemacetan yang Diam-Diam Menggerus Waktu, Energi, dan Masa Depan Warganya

Palembang di Ujung Krisis Mobilitas: Saat Kota yang Dulu Tenang Mulai Tersedak, Terjebak dalam Kemacetan yang Diam-Diam Menggerus Waktu, Energi, dan Masa Depan Warganya
Oleh: Bangun Lubis – Ketua Umum Era Baru – Arus Perubahan Iklim”
Di masa lalu, Palembang dikenal sebagai kota yang relatif lapang, tenang, dan tidak terburu-buru. Sungai Musi menjadi nadi kehidupan yang mengalir perlahan, seolah mengajarkan bahwa hidup tidak harus selalu berlari. Namun hari ini, wajah kota itu mulai berubah secara perlahan, tetapi pasti.
Kemacetan yang dulu dianggap hanya milik kota besar seperti Jakarta, kini hadir di jalan-jalan utama Palembang. Bukan lagi sebagai kejadian sesekali, tetapi sebagai rutinitas harian yang mulai diterima dengan pasrah oleh masyarakat.
Kita sedang menghadapi fase awal dari apa yang dapat disebut sebagai *krisis mobilitas perkotaan*. Sebuah kondisi di mana kota tidak lagi mampu mengalirkan pergerakan warganya dengan lancar, sehingga waktu, tenaga, dan produktivitas terkuras di jalanan.
### Kota yang Mulai Kehilangan Nafas
Di banyak titik vital seperti Simpang Charitas, Sudirman, Basuki Rahmat, Demang Lebar Daun, hingga kawasan menuju Jakabaring, arus kendaraan mulai menunjukkan gejala “tersumbat”. Pada jam-jam tertentu, perjalanan singkat bisa berubah menjadi perjalanan panjang yang melelahkan.
Yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya kemacetannya, tetapi normalisasi keadaan ini. Banyak warga mulai menganggap macet sebagai “hal biasa”. Padahal, di balik kebiasaan itu, ada kerugian besar yang sedang terjadi secara diam-diam: waktu keluarga yang hilang, produktivitas yang menurun, hingga meningkatnya stres sosial masyarakat.
Kesalahan Lama: Terlalu Percaya pada Jalan
Selama ini, kita terlalu sering menganggap bahwa solusi kemacetan adalah memperlebar jalan, membangun flyover, atau membuat simpang baru. Namun pengalaman banyak kota menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah.
Semakin banyak jalan dibangun, semakin banyak pula kendaraan yang muncul. Kota justru kembali penuh, bahkan lebih padat dari sebelumnya. Ini adalah lingkaran yang tidak pernah selesai jika pola pikir tidak diubah.
Jalan Keluar Harus Berubah Arah
Sudah saatnya Palembang tidak hanya berpikir tentang “menambah kapasitas jalan”, tetapi mengurangi beban pergerakan itu sendiri.
Di sinilah konsep *flextime* dan *flexplace* menjadi sangat relevan.
Tidak semua orang harus berangkat kerja pada jam yang sama. Tidak semua pekerjaan harus dilakukan di kantor. Dunia sudah berubah, teknologi sudah memungkinkan, tetapi kebijakan dan kebiasaan kita sering tertinggal di belakang.
Jika pola kerja dapat dibagi dalam waktu yang lebih fleksibel, maka beban jalan raya dapat tersebar. Tidak ada lagi “jam neraka” pagi dan sore yang membuat kota seolah berhenti bernapas.
WFA dan Transformasi Budaya Kerja
Konsep Work From Anywhere bukan sekadar warisan pandemi, tetapi sebuah peluang besar untuk menyelamatkan kota.
Bayangkan jika sebagian pekerja administratif, kreatif, dan digital tidak perlu lagi melakukan perjalanan setiap hari. Ribuan kendaraan bisa berkurang dari jalan. Itu bukan hanya efisiensi, tetapi juga penyelamatan ruang hidup kota.
Namun perubahan ini tidak hanya soal teknologi. Ia adalah perubahan budaya kerja, budaya pimpinan, dan budaya kepercayaan.
Belum Dimaksimalkan
Palembang sebenarnya memiliki keunggulan penting dengan hadirnya LRT Palembang. Ini adalah langkah maju yang seharusnya menjadi tulang punggung mobilitas kota modern.
Namun transportasi publik tidak akan optimal jika masyarakat masih bergantung penuh pada kendaraan pribadi. Infrastruktur modern harus disertai perubahan perilaku sosial.
Saatnya Menyebar, Jangan Menumpuk
Salah satu akar masalah kemacetan adalah konsentrasi aktivitas ekonomi yang terlalu terpusat. Ketika kantor, sekolah, dan pusat perdagangan menumpuk di titik yang sama, maka arus manusia akan selalu bertabrakan di jalan yang sama.
Palembang perlu berani mendesentralisasikan pusat pertumbuhan ekonomi. Kawasan pinggiran harus hidup, bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga pusat aktivitas baru.
Optimislah, Kota yang Masih Bisa Diselamatkan
Kita masih memiliki waktu. Namun waktu itu tidak banyak.
Palembang belum terlambat, tetapi tanda-tanda peringatan sudah sangat jelas. Jika tidak ada perubahan cara pandang, maka kota ini perlahan akan kehilangan salah satu identitas terpentingnya: kenyamanan hidup.
Kita tidak ingin Palembang menjadi kota yang dikenang sebagai tempat di mana warganya menghabiskan sebagian besar hidupnya di jalan—terjebak, menunggu, dan perlahan kehilangan waktu terbaik dalam hidup mereka.
Perubahan harus dimulai sekarang. Bukan nanti. Bukan besok.



