BUMI REPORTKESEHATAN

Selamatkan Sungai Musi, Industri Harus Ikut Bertanggung Jawab

Mantan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, Emil Salim, pernah menyampaikan kritik keras dengan menyebut sungai di Indonesia sebagai “jamban terpanjang di dunia.”

SUNGAI MUSI HARUS DISELAMATKAN DEMI MASA DEPAN GENERASI

Oleh: BANGUN LUBIS
Ketua Umum ERA BARU – Arus Perubahan Iklim

Sungai Musi merupakan salah satu sungai terbesar dan paling bersejarah di Indonesia. Sungai ini bukan sekadar aliran air yang membelah wilayah Sumatera Selatan, tetapi telah menjadi sumber kehidupan masyarakat sejak ratusan tahun lalu. Dari perdagangan, transportasi, perikanan, pertanian, hingga budaya masyarakat, semuanya tumbuh dan berkembang bersama keberadaan Sungai Musi.

Di masa lalu, Sungai Musi menjadi jalur penting perdagangan internasional. Kehidupan masyarakat Palembang dan daerah sekitarnya sangat bergantung pada sungai ini. Bahkan hingga hari ini, Sungai Musi masih menjadi urat nadi ekonomi masyarakat Sumatera Selatan.

Namun sangat disayangkan, kondisi Sungai Musi saat ini semakin memprihatinkan. Pencemaran terus meningkat dari tahun ke tahun. Sampah rumah tangga, limbah pasar, limbah industri, sedimentasi, kerusakan bantaran sungai, hingga aktivitas angkutan batubara menjadi ancaman besar bagi kelestarian sungai kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan tersebut.

Setiap hari, berbagai jenis sampah mengalir dari anak-anak sungai menuju aliran utama Sungai Musi. Plastik, kayu, limbah rumah tangga, bahkan limbah berbahaya masih sering ditemukan mencemari sungai. Kondisi ini bukan hanya merusak keindahan lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat dan ekosistem sungai.

Mantan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, Emil Salim, pernah menyampaikan kritik keras dengan menyebut sungai di Indonesia sebagai “jamban terpanjang di dunia.”

Pernyataan tersebut memang terasa pahit, tetapi memiliki makna filosofis yang sangat mendalam. Sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru dijadikan tempat membuang segala macam sampah dan limbah.

Filosofi itu masih sangat relevan dengan kondisi Sungai Musi saat ini. Banyak masyarakat yang belum memiliki kesadaran menjaga sungai. Sampah dibuang sembarangan ke aliran air. Limbah rumah tangga dilepaskan begitu saja. Akibatnya, sungai terus menerima beban pencemaran yang semakin berat.

Padahal dalam ajaran agama, menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia kepada Tuhan dan sesama manusia. Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan dan tidak membuat kerusakan di lingkungan.

Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

Jauhilah dua perbuatan yang mendatangkan laknat.”
Para sahabat bertanya, “Apa dua perbuatan itu wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Orang yang buang hajat di jalan umum atau di tempat orang berteduh.”

Baca Juga  Asap yang Menggantung di Langit Sumsel, Ancaman yang Diam-Diam Menggerogoti Kehidupan Manusia

Hadis ini mengandung pesan besar bahwa Islam melarang manusia mencemari tempat yang digunakan bersama oleh masyarakat. Jika jalan dan tempat berteduh saja harus dijaga kebersihannya, maka sungai yang menjadi sumber kehidupan jutaan manusia tentu jauh lebih wajib dijaga.

Selain itu, Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf: 56)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh merusak lingkungan demi kepentingan sesaat. Sungai Musi harus dijaga sebagai amanah untuk generasi mendatang.

Sayangnya, masih banyak pihak yang memanfaatkan Sungai Musi hanya untuk kepentingan ekonomi tanpa memikirkan dampak lingkungannya. Aktivitas angkutan batubara misalnya, menjadi salah satu perhatian besar masyarakat. Tongkang batubara melintas setiap hari dalam jumlah besar. Jalur Sungai Musi digunakan untuk kepentingan bisnis bernilai sangat besar.

Karena itu sangat wajar apabila masyarakat meminta adanya kontribusi nyata dari perusahaan-perusahaan pengguna Sungai Musi untuk menjaga kelestarian lingkungan. Jangan sampai keuntungan besar diperoleh, tetapi kerusakan lingkungan justru ditanggung masyarakat.

Selama ini memang ada berbagai bentuk pembayaran atau kontribusi tertentu. Namun masyarakat sering mempertanyakan transparansi penggunaan dana tersebut. Banyak yang menilai kontribusi itu belum memberikan dampak nyata terhadap perbaikan lingkungan Sungai Musi.

Padahal apabila dikelola secara terbuka dan profesional, dana kontribusi dari aktivitas sungai dapat digunakan untuk program besar penyelamatan Sungai Musi. Misalnya pembangunan benteng penahan longsor di bantaran sungai, pengerukan sedimentasi, pengadaan kapal pengangkut sampah, penghijauan tepian sungai, hingga pembangunan tempat pengolahan sampah modern.

Bukan hanya perusahaan batubara yang harus bertanggung jawab. Semua perusahaan yang menggunakan Sungai Musi sebagai jalur distribusi wajib ikut menjaga lingkungan. Kapal pengangkut bahan bangunan, minyak, tekstil, hasil perkebunan, dan berbagai komoditas lainnya juga memperoleh manfaat ekonomi besar dari sungai ini.

Kapal-kapal yang bersandar di Pelabuhan Boom Baru pun seharusnya diwajibkan ikut mendukung program penyelamatan Sungai Musi. Jangan hanya membayar pajak kecil tanpa kontribusi nyata terhadap lingkungan.

Perusahaan-perusahaan besar harus memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan yang jelas. Mereka wajib membantu membersihkan sungai, memperbaiki bantaran yang rusak, serta ikut membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Namun tanggung jawab menjaga Sungai Musi bukan hanya milik perusahaan atau pemerintah. Masyarakat juga harus berubah. Kebiasaan membuang sampah ke sungai harus dihentikan. Warga di sepanjang bantaran sungai perlu diedukasi agar memahami bahwa sungai bukan tempat sampah.

Baca Juga  ​Menyelamatkan Benteng Ekologis Nusantara: Melampaui Retorika Karbon

Pemerintah daerah harus memperbanyak tempat pengolahan sampah dan meningkatkan pengawasan terhadap pencemaran sungai. Penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran juga harus dilakukan secara tegas tanpa pandang bulu.

Selain itu, perlu ada gerakan bersama dari hulu hingga hilir untuk membersihkan Sungai Musi secara rutin. Sekolah, kampus, organisasi masyarakat, tokoh agama, komunitas lingkungan, hingga perusahaan harus dilibatkan dalam gerakan penyelamatan sungai.

Sungai Musi sebenarnya memiliki potensi besar menjadi kawasan wisata air yang indah dan membanggakan. Jika sungai bersih dan tertata, maka kawasan di sepanjang aliran sungai dapat menjadi pusat ekonomi baru, pusat wisata budaya, dan ruang publik yang nyaman bagi masyarakat.

Negara-negara maju berhasil menjadikan sungai mereka sebagai simbol kebersihan dan kebanggaan kota. Maka masyarakat Sumatera Selatan juga harus memiliki semangat yang sama untuk mengembalikan kejayaan Sungai Musi.

Jangan sampai generasi mendatang hanya mewarisi sungai yang penuh sampah dan pencemaran. Anak cucu kita berhak menikmati air yang bersih, lingkungan yang sehat, dan sungai yang indah.

Karena itu sudah waktunya lahir gerakan besar penyelamatan Sungai Musi yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Gerakan ini harus dilakukan secara serius, bukan hanya kegiatan seremonial sesaat tanpa perubahan nyata.

Transparansi pengelolaan dana lingkungan juga harus dibuka kepada publik. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana dana kontribusi perusahaan digunakan untuk memperbaiki kondisi Sungai Musi.

Kita semua harus sadar bahwa menjaga Sungai Musi bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal masa depan ekonomi, kesehatan, budaya, dan martabat masyarakat Sumatera Selatan.

Jika seluruh pihak mau peduli dan bekerja bersama, maka Sungai Musi masih bisa diselamatkan. Tetapi jika sungai ini terus dijadikan tempat pembuangan sampah dan hanya dimanfaatkan demi keuntungan ekonomi, maka kerusakan akan semakin besar dan dampaknya akan dirasakan oleh generasi mendatang.

Karena itu, menjaga Sungai Musi adalah kewajiban moral, sosial, dan spiritual bagi seluruh masyarakat. Sungai ini harus kembali menjadi sumber kehidupan yang bersih, sehat, dan membanggakan.

Dari hulu hingga hilir, semua harus bergerak bersama demi menyelamatkan Sungai Musi untuk masa depan yang lebih baik.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button