Uncategorized

Alarm dari Sembilang dan Banyuasin: Mengapa Kita Harus Berhenti Merusak Bumi

Earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed.”

Alarm dari Sembilang dan Banyuasin: Mengapa Kita Harus Berhenti Merusak Bumi

Oleh: Rosihan Arsyad  & Bangun Lubis – Aktivis  Era Baru – “Arus Perubahan Iklim” 

Kalau kebetulan terbang di atas rute Palembang–Jakarta, cobalah menengok ke luar jendela pesawat dan perhatikan baik-baik pesisir pantai Timur Sumatera. Di sana, bentang hijau yang seharusnya menjadi pelindung alami daratan telah berubah wajah. Hutan bakau di selatan Sungai Musi kini runtuh dan melenyap, dirambah secara masif oleh tangan-tangan tidak bertanggung jawab demi membuka tambak-tambak liar. Padahal, hutan bakau adalah benteng ekologis yang memiliki sejuta manfaat bagi kelangsungan hidup manusia dan keanekaragaman hayati.

Kondisi ini menjadi refleksi kecil dari krisis global yang sedang melanda rumah kita bersama. Dunia tempat kita berpijak memang terasa makin panas dan sesak. Dalam bukunya yang monumental, *“Hot, Flat and Crowded”*, Thomas Friedman mengingatkan bahwa pertumbuhan populasi dan pemanasan global tengah mengunci bumi dalam situasi kritis. Untuk menghadapi realitas ini, sejarawan dan pemikir sistem Peter Senge dalam *“The Necessary Revolution”* menegaskan perlunya sebuah revolusi cara berpikir dan bertindak.

Kita semua tahu bahwa kita hidup dalam sebuah planet dengan sumber daya yang terbatas. Namun ironisnya, manusia cenderung rakus dan sembrono. Pola konsumsi dan eksploitasi kita saat ini bahkan telah melewati batas aman, menguras lebih dari dua kali lipat daya dukung biologis bumi. Di titik inilah kutipan bijak Bapak Bangsa India, Mahatma Gandhi, menemukan relevansinya yang paling mutakhir:

Earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed.”

> (Bumi menyediakan cukup untuk memenuhi kebutuhan semua manusia, namun tidak pernah cukup untuk memenuhi keserakahan satu orang).

Tragedi Satwa: Dibantai Demi Mitos dan Simbol Status

Keserakahan manusia tidak hanya menggunduli hutan, tetapi juga menumpahkan darah makhluk hidup lain. Laporan investigatif *National Geographic* memotret angka-angka statistik yang mengerikan: dalam rentang satu tahun saja, sekitar 25.000 Gajah di Afrika dibantai secara kejam. Ironisnya, alih-alih untuk bertahan hidup, gading-gading tersebut dicuri hanya untuk dijadikan perhiasan mewah dan simbol keagamaan di negara-negara seperti Filipina, China, dan Thailand. Sebuah paradoks spiritual yang amat kelam, di mana simbol kesucian dibuat dari hasil pembantaian makhluk bernyawa.

Nasib serupa menimpa populasi badak dunia. Mereka diburu, roboh, dan mati hanya untuk diambil culanya. Di pasar gelap, cula badak dihargai selangit karena mitos obat tradisional—termasuk klaim tak berdasar menyembuhkan kanker hingga meningkatkan kemampuan seksual. Padahal, secara medis, cula badak sama sekali tidak memiliki khasiat magis tersebut. Sejatinya, cula badak terbuat dari **Keratin**, senyawa protein yang sama persis dengan bahan pembentuk rambut dan kuku manusia. Kerakusan yang didorong oleh ketidaktahuan ini menjadikan negara seperti Vietnam sebagai tujuan utama penyelundupan, memicu kepunahan ratusan badak setiap tahunnya.

Di dalam negeri, alarm kepunahan berbunyi tidak kalah nyaring. Dokumen WWF bertajuk “Wildlife Crime Scorecards: Assessing Compliance with and Enforcement of CITES Commitments for Tigers, Rhinos and Elephants” memberikan rapor merah dan peringatan keras kepada Indonesia terkait perlindungan gajah dan harimau.

Di Sumatera Selatan, benteng terakhir satwa endemik kita sedang rapuh:

Gajah Sumatera kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 3.000 ekor di alam liar. (Data Umum)

Harimau Sumatera, sang penguasa rimba, populasinya menyusut tajam hingga hanya tersisa kisaran 400 ekor.

Buaya Senyulong, reptil unik yang mendiami jejaring sungai di wilayah Desa Muara Merang, Muara Medak, dan Desa Kepayang di Kabupaten Banyuasin, kini keberadaannya sudah di ambang kepunahan total. Di kawasan yang dulunya menjadi rumah mereka, keberadaan predator eksotis ini hampir tidak pernah lagi terlihat oleh mata manusia.

Kekejaman Tanpa Batas di Lautan

Nafsu eksploitasi manusia tidak berhenti di garis pantai; ia menyeberang dan mengacaukan ekosistem lautan. Meskipun *International Whaling Commission* (IWC) telah melarang perburuan ikan paus sejak tahun 1986, pelanggaran di perairan internasional tetap saja marak. Paus-paus raksasa masih diburu secara ilegal demi minyak dan dagingnya. Sebagian lainnya mati perlahan akibat polusi plastik, tertabrak lambung kapal tanker, tersangkut jaring nelayan, serta stres akibat perubahan suhu air laut akibat pemanasan global.

Namun, potret paling kelam dari kekejaman manusia di laut adalah industri sirip hiu (shark finning). Setiap tahunnya, diperkirakan ada sekitar 38 juta ekor hiu yang dibantai. Modusnya luar biasa kejam: hiu ditangkap, sirip eksotisnya dipotong hidup-hidup, lalu tubuh hiu yang masih bernyawa namun tanpa sirip itu dibuang kembali ke dasar laut. Mereka dibiarkan tenggelam dan mati perlahan dalam penderitaan yang panjang, hanya demi semangkuk sup sirip ikan di meja makan restoran mewah.

Baca Juga  Menggugat Monokultur Pikiran: Reboisasi Edukasi dan Sabuk Hijau Radikal dalam Pengelolaan Hutan Kita

Eksploitasi ini juga menghantam jenis ikan lainnya. Penggunaan alat tangkap tidak standar, seperti pukat harimau dengan mata jaring super kecil, membuat ikan-ikan yang belum dewasa serta penyu laut ikut terperangkap dan mati sia-sia. Jaring-jaring besar ini menyapu dasar laut, meremukkan formasi terumbu karang yang butuh waktu puluhan tahun untuk tumbuh. Belum lagi maraknya penggunaan racun potasium dan bom peledak untuk memburu ikan karang bernilai ekonomis tinggi seperti ikan napoleon dan kerapu. Demi keuntungan instan beberapa rupiah, ekosistem bawah laut dihancurkan tanpa sisa.

 

Kerusakan Lingkungan di Darat dan Laut Indonesia

Berdasarkan laporan *State of the World’s Forests*, Indonesia sempat mencatatkan angka deforestasi yang sangat mengkhawatirkan, mencapai 1,8 juta hektar per tahun. Angka ini menempatkan Indonesia ke dalam jajaran negara dengan laju kerusakan hutan tercepat di dunia. Akibatnya, dari seluruh hamparan hijau yang kita miliki, kini hanya tersisa sekitar 23 persen atau setara 43 juta hektar saja hutan primer yang masih perawan.

Pemicu utama dari gundulnya paru-paru dunia ini adalah ekspansi industri kayu skala besar serta konversi lahan hutan menjadi perkebunan monokultur. Efek dominonya langsung menghantam balik kehidupan manusia:

  • * Kualitas lingkungan menurun drastis.
  • * Pelepasan emisi $CO_2$ ke atmosfer melonjak tajam, mempercepat laju perubahan iklim.
  • * Bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, tanah longsor di musim hujan, dan kekeringan ekstrem di musim kemarau menjadi agenda tahunan yang merenggut harta serta nyawa.
  • * Flora dan satwa endemik kehilangan habitat asli, memaksa mereka masuk ke permukiman dan memicu konflik berdarah dengan warga.

Ironi Coral Triangle

Sungguh sebuah karunia alam yang tiada tara bahwa Indonesia diberkati dengan ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil yang kaya. Bersama Filipina dan Papua Nugini, perairan kita membentuk kawasan segitiga emas karang dunia atau “Coral Triangle”. Wilayah ini menampung 35% terumbu karang duniadan menjadi rumah bagi 77% jenis karang di planet bumi,  menjadikannya sebagai prioritas utama konservasi biota laut global.

Namun, anugerah mahakarya alam ini justru kita khianati sendiri. Tekanan terhadap terumbu karang kita berada di level yang sangat mengkhawatirkan. Selain akibat maraknya *illegal fishing* dengan bahan peledak, kerusakan ini diperparah oleh sedimentasi lumpur dan polusi limbah domestik serta logam berat yang mengalir deras dari muara sungai di dekat pusat industri. Faktor alam seperti fenomena El Niño dan pemanasan suhu laut juga memicu pemutihan karang massal (*coral bleaching*).

Hasil penelitian COREMAP menunjukkan realitas yang getir: rata-rata hanya tinggal 23% terumbu karang di Indonesia yang berada dalam kondisi bagus. Jika tidak ada tindakan penyelamatan yang konkret, cepat, dan terukur, para ahli memprediksi terumbu karang Indonesia akan lenyap sepenuhnya dalam waktu 20 hingga 40 tahun ke depan.

Melenyapnya Benteng Pesisir di Sembilang

Di sektor pesisir, Indonesia dianugerahi sekitar 2,5 juta hektar hutan bakau (mangrove) yang berfungsi sebagai laboratorium alam tempat memijah, membesarkan diri, dan mencari makan bagi jutaan biota laut mulai dari ikan, udang, kepiting, hingga kerang. Mangrove juga berfungsi menahan gempuran ombak, mencegah abrasi pantai, serta menyokong hidup mamalia kecil, reptil, dan koloni burung.

Hutan Bakau di kawasan Sembilang Banyuasin, misalnya, memiliki reputasi internasional sebagai pelabuhan transit ekologis yang sangat penting bagi ribuan burung migratori dari belahan bumi utara. Namun, dalam dua dekade terakhir, Indonesia telah kehilangan sekitar 2,7 juta hektar hutan bakaunya. Benteng hijau ini dibabat habis, dialihfungsikan secara serakah menjadi kawasan tambak komersial, pelabuhan logistik, kompleks industri, hingga proyek pariwisata pantai.

Maraknya pelanggaran hukum perikanan di seluruh wilayah perairan kita menjadi bukti nyata masih lemahnya pengawasan dan penegakan hukum di laut (*law enforcement*). Absennya rencana tata ruang wilayah pesisir yang terintegrasi memperkeruh kekacauan ini, sementara pencemaran logam berat di wilayah pantai barat dan timur dekat pusat-pusat manufaktur telah mencapai ambang batas yang mengerikan bagi kesehatan manusia yang mengonsumsi hasil lautnya.

 

Memotong Akar Masalah: Mulai dari Pengurangan Keserakahan

Menghadapi kerusakan lingkungan yang bersifat sistemik dan masif ini, kita jelas membutuhkan pendekatan yang komprehensif dari hulu ke hilir. Namun, langkah paling mendasar yang harus segera diambil oleh setiap individu adalah: mulai mengerem keserakahan diri.

Perubahan besar sering kali lahir dari ide yang sangat sederhana. Pada tahun 2009, *United in Diversity Forum* yang bekerja sama dengan *Surya Institute* mengirimkan sekelompok anak muda Indonesia berusia di bawah 20 tahun untuk berlaga di ajang kompetisi internasional *Global Entrepreneurship Challenge*. Tema yang diangkat saat itu adalah mencari solusi konkret mengatasi krisis pangan dunia.

Baca Juga  Menjaga Napas Benteng Terakhir: Adaptasi Baru Orang Rimba di Tengah Amukan Perubahan Iklim

Indonesia berhasil menyabet juara pertama di kompetisi dunia tersebut dengan sebuah inovasi yang luar biasa sederhana namun menusuk tepat ke jantung masalah: **mereka membuat desain piring makan yang di bagian tengahnya tertulis kalimat peringatan tegas agar tidak mengambil makanan secara berlebihan.

Konsep ini sangat sederhana, tetapi memiliki efek psikologis yang mendalam. Gagasan ini selaras dengan seloroh sinis yang kerap terdengar di kalangan siswa penerbang asing di pangkalan US Navy pada era awal 1970-an, yang menyebutkan bahwa volume sisa makanan yang dibuang oleh masyarakat Amerika dalam satu hari saja, sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk memberi makan seluruh penduduk kelaparan di belahan bumi lainnya.

Belajar dari Gerakan “Ampere Down” di Jepang

Untuk urusan konservasi energi, kita patut menengok sebuah artikel dan video menarik yang pernah diterbitkan oleh *Wall Street Journal* mengenai gerakan **“Ampere Down”** di Jepang. Gerakan sosial ini melangkah jauh melampaui sekadar aksi hemat energi konvensional seperti mematikan lampu saat keluar ruangan atau beralih ke lampu LED.

Di kota-kota besar Jepang, sekelompok masyarakat di kawasan apartemen dan perumahan secara sukarela meminta perusahaan listrik negara (seperti Tokyo Electric Power Co) untuk **menurunkan kapasitas sekring listrik rumah mereka hingga ke tingkat ekstrem, yaitu hanya 30 Ampere.** Sebagai perbandingan, rata-rata rumah modern di Amerika Serikat menuntut kapasitas minimal 100 Ampere demi mengakomodasi segala bentuk kemudahan dan kemewahan elektronik.

Agar sekring rumah mereka tidak anjlok atau putus, masyarakat pro-lingkungan di Jepang ini secara sadar mengubah gaya hidup mereka dengan kembali ke kearifan lokal masa lalu sebelum peralatan modern ditemukan:

* Mereka menukar kemewahan mesin pengisap debu (*vacuum cleaner*) dengan **sapu ijuk tradisional**.

* Mereka mematikan *Air Conditioner* (AC) yang boros energi dan menggantinya dengan **kipas angin** atau ventilasi udara alami.

* Mereka meninggalkan mesin cuci otomatis dan kembali menggunakan **papan cuci manual**.

* Mereka memilih memasak nasi menggunakan **belanga tanah liat atau panci konvensional** di atas kompor gas, ketimbang membiarkan alat *rice cooker* menyala selama 24 jam penuh.

Gerakan Ampere Down ini diadopsi oleh lebih dari 40 persen pelanggan listrik di wilayah tertentu untuk membangun kesadaran kolektif: bahwa setiap watt listrik yang kita bakar dengan manja di dalam rumah, ada kontribusi kerusakan lingkungan yang nyata di lokasi pembangkit energinya.

Pilihan Ada di Tangan Kita

Kita tidak perlu duduk diam menunggu terjadinya perubahan besar melalui revolusi hijau berbasis inovasi teknologi ramah lingkungan yang mahal, atau kebijakan makro energi efisiensi dari pemerintah yang kerap berjalan lambat. Kita dapat menyelamatkan bumi saat ini juga, detik ini juga, dimulai dari ruang lingkup pribadi kita sendiri. Kuncinya adalah menanamkan kesadaran pelestarian lingkungan dan menjalankan konsep **3R (*Reduce, Reuse, Recycle*)** dalam aktivitas keseharian.

Mari kita bangun komitmen bersama melalui langkah-langkah nyata yang sederhana:

Bawa tas belanja kain sendiri setiap kali pergi ke pasar tradisional maupun ritel modern untuk memutus rantai sampah plastik sekali pakai.

* [ ] **Bawa tumbler atau cangkir sendiri** dari rumah saat hendak membeli kopi di kedai favorit.

* [ ] **Boikot total dan jangan pernah mengonsumsi sup sirip hiu**, demi menghentikan pembantaian keji di lautan.

* [ ] **Tolak membeli suvenir, perhiasan, atau simbol status kemewahan apa pun** yang terbuat dari organ tubuh satwa langka yang dilindungi, baik itu gading gajah, cula badak, maupun kulit harimau.

Langkah-langkah tersebut sekilas tampak kecil dan sepele, tetapi jika gerakan penghematan lingkungan ini diadopsi secara kolektif oleh jutaan kepala, ia akan menjelma menjadi gelombang kekuatan besar yang mampu memulihkan bumi kita yang sedang sakit.

Sebelum hutan bakau di pesisir Musi habis tak bersisa, sebelum raungan Harimau Sumatera lenyap dari muka bumi, dan sebelum karang-karang indah kita berubah menjadi kuburan putih yang sunyi, mari kita suarakan satu tekad yang sama demi anak cucu kita: Selamatkan Bumi Kita!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button