KALAM

Mengembalikan Marwah Adab dan Akhlak Bangsa: Tokoh dan Ulama Harus Kembali Menjadi Teladan

Menjaga Moralitas, menjadi prioritas dewasa ini

Mengembalikan Marwah Adab dan Akhlak Bangsa

Oleh: Dr. Supadmi Kohar, MT – Ketua Umum MUI Sumatera Selatan

Sudah saatnya para ulama, guru, dosen, dan seluruh insan pendidik kembali menempatkan adab sebagai fondasi utama dalam membangun karakter generasi mendatang. Di tengah perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat, generasi muda tidak cukup hanya dibekali ilmu pengetahuan dan kecakapan teknologi. Mereka juga membutuhkan keteladanan moral, kesantunan, serta pemahaman tentang nilai-nilai kehidupan yang berlandaskan ajaran agama.

Kita tidak boleh membiarkan generasi muda tumbuh dengan kecerdasan intelektual yang tinggi, tetapi kehilangan kepekaan terhadap adab dan etika. Sebab, kepintaran tanpa akhlak dapat melahirkan kesombongan, ilmu tanpa adab dapat menjauhkan manusia dari kebijaksanaan, sementara kebebasan tanpa tanggung jawab dapat merusak tatanan kehidupan sosial.

Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia semestinya mampu memperlihatkan wajah Islam yang menjunjung tinggi kesantunan, kejujuran, toleransi, penghormatan terhadap sesama, dan kemuliaan akhlak. Namun, identitas sebagai bangsa Muslim harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, bukan sekadar simbol dan kegiatan keagamaan.

Adab sebagai Fondasi Pendidikan

Dalam tradisi keilmuan Islam, adab memiliki kedudukan yang sangat penting. Ilmu dan adab tidak dapat dipisahkan. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada nilai akademik, gelar, jabatan, dan keberhasilan material. Pendidikan harus melahirkan manusia yang berilmu sekaligus berakhlak.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad).

Pesan ini menegaskan bahwa pembentukan akhlak merupakan bagian penting dari misi kerasulan. Karena itu, para ulama dan pendidik memiliki tanggung jawab besar untuk menghidupkan kembali keteladanan tersebut.

Mereka bukan hanya menyampaikan pelajaran atau ceramah agama, tetapi juga menjadi contoh dalam berbicara, bersikap, mengambil keputusan, menghargai perbedaan, dan memperlakukan sesama manusia. Generasi muda lebih mudah menangkap keteladanan melalui tindakan nyata daripada sekadar mendengarkan nasihat.

Baca Juga  Dari Gagal Berkali-kali lalu Menjadi Juara: Jejak Emas Ahmad Azka Annabil

Kebebasan Harus Berjalan Bersama Tanggung Jawab

Perkembangan zaman membawa berbagai pemikiran, budaya, dan pola pergaulan baru. Pengaruh sekularisme dan liberalisme semakin mudah masuk melalui media sosial, hiburan, teknologi digital, serta interaksi global.

Kita tidak perlu menutup diri dari kemajuan dunia modern. Ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterbukaan berpikir merupakan bagian dari perkembangan peradaban yang dapat dimanfaatkan. Namun, keterbukaan tidak berarti kehilangan pegangan moral dan spiritual.

Kebebasan individu harus berjalan bersama tanggung jawab, penghormatan terhadap orang lain, dan batas-batas yang ditetapkan syariat Islam.

Dalam kehidupan sosial, kita perlu memberi perhatian terhadap kecenderungan mengukur kehormatan manusia berdasarkan materi, kekayaan, jabatan, dan popularitas. Padahal, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh apa yang dimiliki, melainkan oleh ketakwaan dan kualitas akhlaknya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat [49]: 13 bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Ayat ini menjadi pedoman bahwa status sosial dan kekayaan bukan ukuran utama kemuliaan manusia.

Merajut Kembali Kesantunan Masyarakat

Kesantunan harus dihidupkan kembali dalam seluruh ruang kehidupan, mulai dari keluarga, sekolah, kampus, tempat kerja, lingkungan bertetangga, hingga ruang publik.

Kesantunan terlihat ketika seseorang menghormati orang yang lebih tua, menghargai guru, menjaga hubungan dengan tetangga, dan mampu menerima perbedaan pendapat tanpa permusuhan.

Di jalan raya, adab tercermin melalui sikap saling menghormati. Di lingkungan masyarakat, ia terlihat dari kepedulian dan gotong royong. Sementara di dunia digital, kesantunan diwujudkan dengan tidak menghina, menyebarkan fitnah, atau merendahkan martabat orang lain.

Baca Juga  Karhutla Sumsel: Jangan Lagi Hanya Memadamkan Api, Saatnya Korporasi Menjaga Tidak Terus Berulang

Allah SWT memberikan keteladanan melalui Rasulullah SAW yang memiliki budi pekerti agung sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Qalam [68]: 4.

Oleh karena itu, gerakan mengembalikan adab tidak boleh hanya dibebankan kepada ulama dan guru. Orang tua, tokoh masyarakat, pemimpin, pejabat publik, serta seluruh elemen bangsa harus mengambil bagian. Keteladanan harus dimulai dari keluarga dan diperkuat dalam lingkungan pendidikan serta kehidupan bermasyarakat.

Membangun Peradaban dengan Akhlak

Kemajuan bangsa tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, kecanggihan teknologi, dan pencapaian pendidikan formal. Kualitas moral dan karakter masyarakat juga menjadi ukuran penting sebuah peradaban.

Kita menginginkan generasi muda Indonesia yang cerdas, kritis, terbuka terhadap kemajuan, tetapi tetap memiliki akar moral dan spiritual yang kuat. Mereka boleh menguasai teknologi modern, tetapi tidak kehilangan rasa hormat. Mereka boleh mengejar kesuksesan, tetapi tidak mengorbankan kejujuran dan kehormatan.

Majelis Ulama Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk terus membimbing, membina, dan melayani umat, termasuk memperkuat pendidikan akhlak dan kehidupan keagamaan masyarakat.

Sudah waktunya adab menjadi agenda bersama dalam membangun manusia Indonesia. Para ulama menjadi penuntun moral, para pengajar menjadi teladan, orang tua menjadi pendidik pertama, dan generasi muda menjadi penerus yang menjaga nilai-nilai luhur bangsa.

Mengembalikan marwah adab bukan berarti menolak modernitas. Justru inilah ikhtiar agar kemajuan tidak kehilangan arah dan kebebasan tidak menghilangkan tanggung jawab.

Sebab, peradaban yang besar bukan hanya dibangun oleh manusia yang pintar dan kaya, tetapi oleh manusia yang berilmu, berakhlak, santun, serta memiliki tanggung jawab terhadap sesama.

@bl

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button