Era Baru — Arus Perubahan Iklim: Suara Baru untuk Menyelamatkan Bumi

Era Baru — Arus Perubahan Iklim: Suara Baru untuk Menyelamatkan Bumi

Oleh: Revi Rahmatnauli – Pemerhati Lingkungan Hidup
Kesadaran terhadap ancaman perubahan iklim dan kerusakan lingkungan hidup kini mulai tumbuh menjadi gerakan bersama di berbagai daerah. Di tengah kondisi bumi yang semakin rentan akibat kerusakan hutan, pencemaran sungai, polusi udara, hingga krisis sampah plastik yang terus meningkat, sejumlah tokoh masyarakat, akademisi, pegiat lingkungan, dan unsur organisasi sosial di Palembang bersepakat membentuk sebuah organisasi lingkungan hidup bernama Era Baru — Arus Perubahan Iklim.
Organisasi ini lahir dalam rapat perdana yang digelar di Kampus Utama Universitas Bina Darma Palembang, Selasa (12/05/2026). Pertemuan tersebut berlangsung penuh keprihatinan sekaligus harapan, karena para peserta merasa bahwa bumi sedang menghadapi ancaman besar akibat ulah manusia sendiri.
Dalam suasana diskusi yang hangat dan serius, para peserta membahas berbagai persoalan lingkungan yang kini semakin nyata dirasakan masyarakat. Mulai dari suhu bumi yang semakin panas, perubahan musim yang tidak menentu, banjir yang terus berulang, kebakaran hutan dan lahan, pencemaran udara, hingga kerusakan ekosistem sungai yang semakin memprihatinkan.
Ketua Umum Era Baru, Drs. H. Bangun Lubis, M.Si, mengatakan bahwa persoalan lingkungan hidup tidak lagi dapat dianggap sebagai isu biasa. Menurutnya, kerusakan bumi saat ini telah memasuki fase yang makin mengkhawatirkan.
“Bumi sedang tidak baik-baik saja. Alam terus memberi tanda kepada manusia. Cuaca makin sulit diprediksi, panas bumi meningkat, banjir dan kekeringan datang silih berganti. Ini semua tidak boleh dianggap sebagai peristiwa biasa,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kesadaran menjaga lingkungan harus dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.
“Kebiasaan membuang sampah sembarangan, membakar lahan, menggunakan plastik berlebihan, merusak sungai, menebang pohon tanpa kendali, semua itu mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan terus-menerus akan menjadi ancaman besar bagi bumi,” katanya.
Menurut Bangun Lubis, selama ini banyak kebiasaan buruk yang telah berubah menjadi budaya, padahal bertentangan dengan etika menjaga lingkungan hidup.
“Kalau kita terus menunda perubahan, maka anak cucu kita yang akan menerima akibatnya. Kita harus mulai bergerak sekarang. Tidak bisa lagi ditunda-tunda,” katanya.
Sekretaris Umum Era Baru, Drs. H. Maspril Aries, mengatakan bahwa gerakan penyelamatan lingkungan tidak cukup hanya dilakukan pemerintah. Menurutnya, masyarakat harus ikut menjadi bagian dari perubahan.
“Kesadaran kolektif harus dibangun. Semua pihak harus ikut terlibat. Pemerintah, akademisi, tokoh agama, mahasiswa, dunia usaha, media massa, dan masyarakat umum harus berjalan bersama,” ujarnya.
Ia menilai bahwa kerusakan lingkungan saat ini juga dipengaruhi pola hidup manusia yang terlalu konsumtif dan eksploitatif terhadap alam.
“Manusia mengambil terlalu banyak dari alam, tetapi lupa mengembalikannya. Akibatnya keseimbangan lingkungan terganggu,” katanya.
Dalam rapat itu juga hadir salah seorang pembina organisasi, Prof. Dr. Hj. Isna Wijayani, M.Si. Ia menekankan pentingnya pendidikan lingkungan sejak usia dini.
Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan pendidikan dan pembiasaan yang panjang.
“Anak-anak harus diajarkan mencintai bumi sejak kecil. Mereka harus dibiasakan menjaga kebersihan, mencintai pohon, menjaga sungai, dan memahami bahwa alam bukan hanya untuk dieksploitasi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan sudah dirasakan hari ini.
“Sekarang kita merasakan suhu udara semakin panas. Musim berubah. Curah hujan tidak menentu. Bahkan banyak wilayah mengalami banjir di luar perkiraan. Semua ini berkaitan dengan kerusakan lingkungan,” ujarnya.
Ketua Divisi Hukum dan Advokasi Era Baru, Aina Rumiyati Azis, SH, menegaskan bahwa penegakan hukum terhadap perusakan lingkungan harus dilakukan secara serius.
“Banyak kerusakan lingkungan terjadi karena lemahnya pengawasan dan penegakan hukum. Jika pelaku perusakan lingkungan terus dibiarkan, maka kerusakan akan semakin besar,” katanya.
Ia berharap ada keberanian bersama untuk menindak berbagai bentuk perusakan lingkungan, termasuk pembakaran hutan, pencemaran sungai, dan aktivitas yang merusak kawasan hijau.
Sementara itu, dari Divisi Aksi Lingkungan, Karan Havinas, M.Kes, mengatakan bahwa gerakan lingkungan hidup harus lebih banyak menyentuh masyarakat akar rumput.
“Penyelamatan bumi tidak cukup hanya lewat seminar atau diskusi. Harus ada aksi nyata di lapangan. Menanam pohon, membersihkan sungai, mengurangi sampah plastik, dan edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan,” katanya.
Menurutnya, masyarakat sering kali belum menyadari bahwa tindakan kecil sehari-hari memiliki dampak besar terhadap lingkungan.
“Kalau satu orang membuang satu sampah plastik setiap hari mungkin terlihat kecil. Tapi kalau jutaan orang melakukan hal yang sama, maka sungai dan laut akan penuh sampah,” ujarnya.
Fenomena kerusakan bumi memang kini menjadi perhatian dunia internasional. Banyak ahli lingkungan menilai bahwa perubahan iklim telah menjadi ancaman serius bagi masa depan manusia.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres dalam berbagai forum internasional pernah menyatakan bahwa dunia sedang berada di ambang “bencana iklim”. Ia mengingatkan bahwa peningkatan suhu bumi akan membawa dampak luas terhadap kehidupan manusia, termasuk ancaman pangan, kesehatan, dan ekonomi.
Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) juga menyebutkan bahwa aktivitas manusia menjadi penyebab utama meningkatnya suhu global akibat emisi gas rumah kaca.
Di Indonesia sendiri, berbagai organisasi lingkungan hidup juga terus menyuarakan pentingnya penyelamatan bumi. Organisasi lingkungan WALHI misalnya, berulang kali mengingatkan bahwa kerusakan hutan, eksploitasi tambang, pencemaran sungai, dan alih fungsi lahan menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan lingkungan hidup.
Direktur Eksekutif WALHI dalam sejumlah kesempatan menegaskan bahwa krisis iklim bukan sekadar isu lingkungan, melainkan persoalan kemanusiaan.
“Ketika hutan rusak, sungai tercemar, dan udara kotor, maka yang paling menderita adalah masyarakat,” demikian salah satu pernyataan yang sering disampaikan para pegiat lingkungan.
Organisasi lingkungan internasional Greenpeace juga terus mengkampanyekan pengurangan penggunaan energi fosil dan perlindungan hutan tropis sebagai langkah penting menahan laju perubahan iklim.
Menurut berbagai kajian lingkungan, Indonesia termasuk negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Banjir, kekeringan, kebakaran hutan, abrasi pantai, dan penurunan kualitas udara menjadi ancaman nyata di banyak daerah.
Kondisi tersebut juga mulai dirasakan masyarakat di Sumatera Selatan. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat menghadapi suhu udara yang semakin panas, musim yang sulit diprediksi, serta persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, pembentukan organisasi Era Baru — Arus Perubahan Iklim dinilai menjadi langkah penting dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap persoalan lingkungan hidup.
Wakil Ketua Era Baru, Muhammad Abriza Hartawan, ST, mengatakan bahwa organisasi ini ingin menjadi ruang bersama bagi siapa pun yang peduli terhadap masa depan bumi.
“Kami ingin mengajak semua orang bergerak bersama. Menjaga bumi bukan tugas satu kelompok saja, tetapi tanggung jawab bersama,” katanya.
Ia mengatakan bahwa organisasi tersebut akan bergerak melalui edukasi, kampanye lingkungan, aksi sosial, penanaman pohon, hingga kerja sama dengan berbagai pihak.
“Kami ingin membangun gerakan yang sederhana tetapi nyata. Gerakan yang dekat dengan masyarakat,” ujarnya.
Dari Divisi Aksi Kampanye, Suzan Nita, mengatakan bahwa generasi muda memiliki peran besar dalam gerakan penyelamatan lingkungan.
“Anak muda harus menjadi bagian dari perubahan. Mereka harus berani menyuarakan pentingnya menjaga bumi,” katanya.
Menurutnya, media sosial juga harus dimanfaatkan untuk membangun kesadaran lingkungan.
“Media sosial jangan hanya dipakai untuk hiburan semata, tetapi juga untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan,” ujarnya.
Husni, SH, yang juga terlibat dalam Divisi Aksi Lingkungan, menambahkan bahwa gerakan lingkungan hidup harus dilakukan secara konsisten.
“Jangan hanya semangat di awal. Menjaga bumi membutuhkan komitmen jangka panjang,” katanya.
Dalam diskusi itu, para peserta juga menyoroti perilaku manusia yang semakin rakus terhadap alam. Eksploitasi sumber daya alam tanpa memikirkan dampak lingkungan dianggap menjadi salah satu penyebab utama kerusakan bumi.
“Manusia sering lupa bahwa alam punya batas. Ketika hutan ditebang tanpa kendali, sungai dicemari, dan lahan dibakar demi kepentingan ekonomi, maka alam akhirnya memberi peringatan,” ujar salah seorang peserta diskusi.
Para peserta bersepakat bahwa menjaga bumi bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut moral dan tanggung jawab kemanusiaan.
“Bumi bukan warisan nenek moyang semata, tetapi titipan untuk generasi mendatang,” demikian salah satu kesimpulan yang mengemuka dalam rapat tersebut.
Rapat perdana pembentukan Era Baru — Arus Perubahan Iklim akhirnya ditutup dengan semangat kebersamaan dan komitmen untuk terus bergerak membangun kesadaran lingkungan di tengah masyarakat.
Para peserta berharap organisasi ini dapat menjadi bagian dari arus perubahan besar dalam upaya menyelamatkan bumi dari ancaman kerusakan yang semakin mengkhawatirkan.
Di tengah panas bumi yang terus meningkat dan kerusakan alam yang semakin nyata, lahirnya gerakan-gerakan kecil seperti ini setidaknya memberi harapan bahwa masih ada orang-orang yang peduli terhadap masa depan bumi.
Sebab pada akhirnya, menjaga bumi bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis lingkungan, melainkan kewajiban seluruh manusia yang hidup dan bergantung pada bumi yang sama.- bl



