BUMI REPORTNEWS

Palembang Kota yang Ingin Menjinakan Mobil dan Motor 

Palembang Kota yang Ingin Menjinakan Mobil dan Motor

Oleh: Maspril Aries – Aktivis Era Baru – Arus Perubahan Iklim

Ketika bising mesin minggu pagi berganti dengan deru sepeda dan tawa anak-anak yang bermain di tengah jalan, kita menyaksikan transformasi sesaat yang menggambarkan kemungkinan masa depan kota-kota kita—bebas dari dominasi kendaraan bermotor, penuh dengan kehidupan, dan bernapas lega”.

 

Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pada Ahad, 12 April 2026 mencoba melakukan transformasi itu dengan melaksanakan uji coba Car Free Day (CFD) dengan ruas panjang jalan 2,8 km dengan menutup sebagian dua jalur ruas Jalan Jendral Sudirman dan Jembatan Ampera tersebut menimbulkan pro dan kontra di masyarakat yang terbaca di liputan media massa dan media sosial (medsos). Itu terjadi karena ruas jalan dan jembatan alternatif (Jembatan Musi IV dan Musi VI) terjadi kemacetan.

 

Artikel ini tidak akan membahas pro dan kontra tersebut melainkan mengajak untuk lebih mengenal Car Free Day dari sejarahnya, penerapannya sampai menafaatnya bagi bumi dan umat manusia penghuninya.

 

Car Free Day (CFD) atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor — sebuah gerakan yang kini telah menjadi ritual akhir pekan di puluhan kota di Indonesia DAN DUNIA. Namun, apakah Car Free Day hanya sekadar pasar kaget di pagi hari atau arena olahraga massal? Di balik fenomena yang menghadirkan keceriaan itu, CFD menyimpan sejarah panjang, filosofi mendalam, serta segudang manfaat dan tantangan yang mencerminkan pergulatan kota-kota modern di seluruh dunia dalam merebut kembali ruang publiknya dari dominasi kendaraan bermotor.

 

Sejenak mari kita melihat ke Jakarta, setiap hari Ahad atau Minggu pagi di di ibu kota negara Republik Indonesia, seperti sulap yang ditonton jutaan pasang mata, terjadi sebuah metamorfosis. Jalan Sudirman-Thamrin yang pada hari kerja menjadi sungai baja dan knalpot, mendadak berubah menjadi hamparan aspal yang dipenuhi ribuan manusia. Ada yang berlari dengan napas teratur, ada keluarga yang dengan santai mengayuh sepeda, ada anak-anak yang berlarian tanpa rasa takut, dan ada pula komunitas yang melakukan senam zumba dengan iringan musik yang semangat.

 

Akar Sejarah CFD

 

Mari kita menelusuri memori CFD hingga ke Eropa pada pertengahan abad ke-20. Gagasan untuk membebaskan jalan dari mobil sebenarnya sudah muncul sejak tahun 1956, ketika Belanda dan Belgia mulai menerapkan “Sunday Car Free” sebagai respons terhadap berbagai masalah perkotaan yang dipicu oleh penggunaan mobil yang masif. Namun, gerakan ini mendapatkan momentum sesungguhnya pada saat krisis minyak dunia tahun 1973. Saat itu, Belanda kembali menerapkan hari Minggu bebas kendaraan bermotor sebagai langkah darurat untuk mengurangi konsumsi minyak bumi. Jalan-jalan raya yang biasanya padat mendadak lengang, dan masyarakat untuk pertama kalinya bisa menikmati lingkungan perkotaan yang lebih tenang dan tidak terlalu tercemar.

 

Memasuki era 1990-an, kesadaran akan isu lingkungan dan pemanasan global mulai menguat. Prancis menjadi salah satu pionir dengan mengadakan “In Town, Without My Car!” yang kemudian diikuti oleh berbagai kota Eropa lainnya. Puncaknya, pada tahun 2000, Komisi Eropa secara resmi mencanangkan European Mobility Week, dan tanggal 22 September ditetapkan sebagai Hari Bebas Kendaraan Bermotor Sedunia atau World Car Free Day. Sejak saat itu, gerakan ini meledak secara global, menginspirasi lebih dari 1.500 kota di dunia untuk turut serta.

 

Di Indonesia, sejarah CFD cukup menarik menarik. Berbeda dengan Eropa yang lahir dari krisis energi, Car Free Day di Indonesia hadir dari akar perjuangan lingkungan yang lebih spesifik. Gerakan ini pertama kali diinisiasi aktivis lingkungan dari koalisi LSM, termasuk Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) di Jakarta mengkampanyekan bahaya polusi udara dan penggunaan bensin bertimbel (HBKB). Bertepatan

dengan peringatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor Sedunia, pada 22 September 2001, melakukan penutupan perdana sepanjang Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Penutupan ini bisa dilaksanakan setelah melalui audiensi yang alot dengan pihak kepolisian.

 

Kesuksesan uji coba ini kemudian membuka jalan bagi pelaksanaan CFD secara lebih terstruktur. Pada 23 Mei 2002, CFD di Jakarta kembali digelar dan mulai diadopsi secara lebih luas. Awalnya hanya berlangsung seminggu sekali di akhir bulan, kemudian pada 2012 durasinya diperpanjang menjadi empat kali sebulan dari pukul 06.00 hingga 11.00 WIB. Ibu kota menjadi pionir, dan dalam waktu singkat, konsep terus menyebar ke berbagai kota besar di Indonesia. Menurut Ahmad Safrudin, salah satu inisiator HBKB di Jakarta, hingga tahun 2019 sudah ada sekitar 90 kota besar di Indonesia yang menyelenggarakan CFD, dan jika ditambah dengan kota-kota kecil, jumlahnya bahkan bisa mencapai 200 kota.

Kota-Kota Menjinakkan Mobil

 

Car Free Day telah menjadi fenomena global, dengan ratusan kota di seluruh dunia menjalankan inisiatif serupa. Beberapa kota memiliki area CFD yang sangat ikonik dan menjadi inspirasi bagi kota-kota lainnya.

Di kancah global, banyak kota telah berhasil mengimplementasikan Car Free Day dengan sangat ikonik, bahkan ada yang berhasil menjadi car-free city sepanjang waktu. Kolombia menjadi salah satu pionir paling sukses. Bogota, ibu kotanya, menyelenggarakan car-free weekday terbesar di dunia yang mencakup seluruh kota. Program ini pertama kali digelar pada Februari 2000 dan kemudian dilembagakan melalui referendum publik.

 

Di Eropa, Pontevedra, sebuah kota di Spanyol, telah bertransformasi menjadi salah satu kota bebas mobil paling sukses di dunia. Pemerintah kota secara bertahap menutup pusat kota untuk kendaraan bermotor, dan hasilnya luar biasa: emisi karbon turun drastis, aktivitas ekonomi justru meningkat, dan kualitas hidup warga melonjak. Kemudian ada Venesia, Italia, yang sejak abad ke-9 memang secara alami bebas mobil karena kanal-kanal dan sungai yang membelah kota.

 

Di Swiss, Zermatt, kota yang terletak di kaki Gunung Matterhorn, telah menjadi car-free selama bertahun-tahun. Kendaraan pribadi dilarang total di kawasan ini, dan warga serta wisatawan harus menggunakan kereta listrik atau berjalan kaki untuk beraktivitas. London pun pernah menyelenggarakan Car Free Day terbesar dalam sejarahnya, dengan menutup puluhan kilometer jalan di pusat kota dan mengajak warganya untuk “menata ulang” kota mereka tanpa mobil.

 

Bogota, adalah pelopor CFD dengan program Ciclovia yang dimulai pada tahun 1999. Setiap hari Minggu, sekitar 120 kilometer jalan di Bogota ditutup untuk kendaraan bermotor. Program ini telah menjadi bagian integral dari identitas kota dan menarik ribuan peserta setiap minggunya. Ciclovia Bogota dianggap sebagai salah satu program CFD paling sukses di dunia dan telah menjadi model bagi banyak kota lainnya.

 

Di Paris, Prancis, memiliki program “Paris Respire” yang dimulai pada tahun 2002. Setiap hari Minggu, berbagai ruas jalan di Paris ditutup untuk kendaraan bermotor. Program ini sangat populer dan menarik ribuan peserta. Paris juga mengadakan “Paris-Plages,” sebuah program yang mengubah tepi Sungai Seine menjadi pantai buatan dengan pasir dan kursi pantai selama musim panas. Kombinasi dari Paris Respire dan Paris-Plages membuat Paris menjadi salah satu kota paling ikonik dalam hal CFD dan ruang publik yang ramah lingkungan.

Baca Juga  Butuh Kebijakan Kuat dalam Mengatasi Banjir di Palembang

 

New York City, Amerika Serikat, memiliki program “Summer Streets” yang dimulai pada tahun 2008. Setiap hari Jumat hingga Minggu, selama tiga bulan musim panas, jalan-jalan tertentu di Manhattan ditutup untuk kendaraan bermotor. Program ini menarik jutaan peserta dan telah menjadi bagian dari identitas kota. Summer Streets juga menampilkan berbagai aktivitas seperti yoga, tari, dan pertunjukan musik. San Francisco, Amerika Serikat, memiliki program “Sunday Streets” yang serupa dengan Summer Streets di New York.

 

Berlin, Jerman, memiliki program “Fahrrad-Sonntag” (Bicycle Sunday) yang dimulai pada tahun 2007. Setiap hari Minggu, berbagai ruas jalan di Berlin ditutup untuk kendaraan bermotor. Program ini sangat populer di kalangan pesepeda dan telah menjadi bagian dari identitas kota. Barcelona, Spanyol, memiliki program “Superblocks” yang merupakan pengembangan dari konsep CFD tradisional. Superblocks adalah area di mana kecepatan kendaraan dibatasi hingga 10 km/jam dan prioritas diberikan kepada pejalan kaki dan pesepeda.

 

Bogota, Paris, New York, Berlin, dan Barcelona adalah beberapa contoh kota yang memiliki area CFD yang sangat ikonik. Namun, ada ratusan kota lainnya di seluruh dunia yang juga menjalankan program serupa. Dari Sao Paulo, Brasil, hingga Bangkok, Thailand, dari Mexico City, Meksiko, hingga Nairobi, Kenya, CFD telah menjadi gerakan global yang mencerminkan komitmen kota-kota terhadap keberlanjutan dan kualitas hidup yang lebih baik.

 

Manfaat bagi Kota

 

Kota-kota yang ikonik dalam penyelenggaran CFD ini membuktikan bahwa visi kota tanpa dominasi mobil bukanlah utopia, melainkan sesuatu yang bisa dicapai dengan komitmen politik yang kuat, perencanaan yang matang, dan partisipasi aktif masyarakat.

 

Mengapa CFD menjadi fenomena yang begitu masif dan dicintai? Jawabannya terletak pada segudang manfaat yang dibawanya, baik bagi lingkungan, kesehatan masyarakat, maupun kehidupan sosial perkotaan.

Dari sisi lingkungan, dampak CFD sangatlah nyata. Dengan meniadakan kendaraan bermotor di ruas-ruas jalan tertentu, kualitas udara di kawasan tersebut meningkat drastis. Pohon-pohon dan ruang terbuka hijau yang setiap hari terpapar karbon dioksida dan partikel polusi mendapat kesempatan untuk “bernapas” dan menghasilkan lebih banyak oksigen. Sebuah studi yang dilakukan di Taman Kota Gianyar, Bali, menunjukkan bahwa kegiatan car free day mampu meminimalisir emisi karbondioksida hingga 87,43 gram per detik. Meskipun angka itu mungkin terlihat kecil, namun jika diakumulasikan setiap minggu, kontribusinya terhadap pengurangan polusi udara sangat signifikan.

 

Manfaat kesehatan publik juga tidak kalah penting. CFD menyediakan ruang yang aman dan nyaman bagi masyarakat untuk berolahraga, berjalan kaki, atau bersepeda tanpa harus khawatir dengan polusi udara dan bahaya lalu lintas. Di era ketika penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung semakin mengancam, kehadiran ruang publik yang mendorong aktivitas fisik menjadi sangat krusial. CFD itu memberikan masyarakat kesempatan untuk meningkatkan kualitas kesehatan mereka.

 

Selain itu, CFD juga berfungsi sebagai ruang publik yang sangat vital bagi kehidupan sosial masyarakat kota. Di tengah kesibukan dan individualisme perkotaan, CFD menjadi titik temu di mana berbagai lapisan masyarakat bisa berinteraksi, berekreasi, dan membangun kohesi sosial. Warga dapat menikmati kota tanpa polusi dan kebisingan, sekadar berjalan santai, bertemu tetangga, atau sekadar duduk-duduk menikmati suasana pagi yang teduh. (maspril aries)

 

#Bersambung ke Bagian 2.

 

Palembang Kota yang Ingin Menjinakan Mobil dan Motor

Car Free Day adalah inisiatif hijau yang mengubah wajah perkotaan modern di muka bumi. Mari kita catatan kesimpulan CFD dari persepktif lingkungan. Manfaat Car Free Day bagi sebuah kota jauh melampaui sekadar memberikan ruang bermain bagi warga. CFD secara signifikan mengurangi emisi karbon dan polutan udara.

Dengan menutup ruas jalan tertentu selama beberapa jam, jumlah kendaraan yang beroperasi berkurang drastis, yang berarti pengurangan emisi gas buang seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan partikel halus. Penelitian menunjukkan bahwa pada hari CFD, tingkat polusi udara dapat menurun hingga 30-40 persen di area yang ditutup. Ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menghirup udara yang lebih bersih dan berkontribusi pada perbaikan kualitas udara jangka panjang.

CFD telah menjadi bagian dari identitas kota-kota besar di seluruh dunia, menjadi simbol komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan dan kualitas hidup yang lebih baik. Dampak lingkungan dari Car Free Day adalah salah satu alasan utama mengapa inisiatif ini terus dipromosikan oleh pemerintah dan organisasi lingkungan di seluruh dunia. Meskipun CFD hanya dilakukan selama beberapa jam dalam seminggu, dampaknya terhadap lingkungan cukup signifikan dan terukur. Pertama, pengurangan emisi gas rumah kaca adalah dampak paling langsung dari CFD. Setiap kendaraan bermotor yang tidak beroperasi pada hari CFD adalah pengurangan emisi karbon dioksida, metana, dan gas rumah kaca lainnya. Dengan ribuan kendaraan yang tidak beroperasi, total pengurangan emisi dapat mencapai puluhan ton per hari CFD.

Kedua, CFD mengurangi polusi udara secara keseluruhan. Selain gas rumah kaca, kendaraan bermotor juga menghasilkan polutan lain seperti nitrogen dioksida, sulfur dioksida, dan partikel halus yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Pengurangan polutan ini tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga bagi ekosistem perkotaan. Pohon-pohon dan tumbuhan lainnya dapat tumbuh lebih baik di lingkungan dengan polusi udara yang lebih rendah. Ketiga, CFD mengurangi kebisingan di area perkotaan. Kendaraan bermotor adalah sumber kebisingan utama di kota-kota besar. Dengan mengurangi jumlah kendaraan pada hari CFD, tingkat kebisingan dapat berkurang secara signifikan, menciptakan lingkungan yang lebih tenang dan nyaman.

Keempat, CFD mendorong kesadaran lingkungan di masyarakat. Ketika masyarakat merasakan manfaat dari pengurangan emisi dan polusi, mereka menjadi lebih sadar tentang dampak lingkungan dari pilihan transportasi mereka. Ini dapat mendorong perubahan perilaku jangka panjang, seperti lebih sering menggunakan transportasi publik, bersepeda, atau berjalan kaki. Kelima, CFD sering digunakan sebagai platform untuk kampanye lingkungan. Organisasi lingkungan memanfaatkan CFD untuk menyebarkan pesan tentang perubahan iklim, polusi udara, dan pentingnya transportasi berkelanjutan. Ini membantu meningkatkan kesadaran lingkungan di masyarakat.

Dampak lingkungan jangka panjang dari CFD juga signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa kota-kota yang secara konsisten menjalankan CFD memiliki kualitas udara yang lebih baik dibandingkan kota-kota yang tidak. Selain itu, CFD sering menjadi katalis untuk perubahan kebijakan transportasi yang lebih berkelanjutan, seperti investasi dalam transportasi publik, jalur sepeda, dan pejalan kaki. Dengan demikian, dampak lingkungan dari CFD tidak hanya terbatas pada hari CFD itu sendiri, tetapi juga mendorong perubahan yang lebih luas dan berkelanjutan.

Baca Juga  Bertransformasi dengan Hijrah Ekologis

CFD Panjang Jalan Ideal 

Salah satu pertanyaan paling krusial dalam penyelenggaraan CFD adalah: seberapa panjang ruas jalan yang ideal untuk ditutup? Tidak ada jawaban tunggal yang berlaku untuk semua kota, karena panjang ideal sangat bergantung pada konteks lokal, topografi, kepadatan penduduk, dan struktur lalu lintas di sekitarnya. Namun, pengalaman berbagai daerah memberikan beberapa gambaran.

Secara umum, para pakar merekomendasikan agar panjang ruas CFD tidak melebihi 2-3 kilometer untuk kota-kota dengan kepadatan sedang, dan dapat diperpanjang hingga 5-6 kilometer untuk kota-kota besar dengan jaringan jalan alternatif yang memadai. Yang terpenting adalah adanya studi kelayakan transportasi yang komprehensif sebelum penetapan ruas, serta evaluasi berkala untuk memastikan bahwa manfaat CFD tidak terbayangi oleh masalah kemacetan di sekitarnya.

Berdasarkan kajian dan praktik yang berkembang, panjang jalan CFD ideal berkisar antara 2 hingga 5 kilometer, meskipun beberapa kota sukses dengan variasi yang lebih panjang atau lebih pendek. Di Surakarta (Solo), CFD dilaksanakan di sepanjang Jalan Slamet Riyadi dengan panjang 3,47 kilometer, membentang dari Bundaran Stasiun Purwosari hingga Bundaran Gladag. Panjang ini dinilai optimal karena menciptakan ruang yang cukup untuk berbagai aktivitas—dari segmen olahraga, edukasi, seni budaya, hingga entertainment—tanpa membuat peserta kelelahan berjalan kaki atau bersepeda.

Tidak ada jawaban tunggal tentang berapa panjang ideal sebuah ruas jalan untuk dijadikan area CFD. Panjang jalan untuk CFD jalan yang ditutup yang ideal sangat bergantung pada konteks spesifik sebuah kota, kepadatan penduduk, tujuan penyelenggaraan, karakteristik jalan, dan kapasitas manajemen lalu lintas. Namun, berdasarkan pengalaman berbagai kota di dunia, ada beberapa pertimbangan umum. Panjang minimal yang efektif untuk menciptakan pengalaman yang bermakna adalah sekitar 3-5 kilometer. Jarak ini cukup untuk memberikan sensasi “berjalan jauh” atau “bersepeda santai: tanpa terasa monoton. Untuk kota-kota besar seperti Jakarta atau Bogota, panjang jalan CFD lebih panjang. Jalan Sudirman-Thamrin di Jakarta, misalnya, memiliki panjang total sekitar 12 kilometer, memberikan ruang yang sangat luas bagi ribuaan pengunjung.

Panjang jalan yang lebih panjang juga memungkinkan adanya “zona-zona” dengan karakteristik berbeda. Ada zona yang lebih tenang untuk pejalan kaki dan keluarga, ada zona yang lebih dinamis untuk pesepeda, dan ada zona yang menjadi pusat kegiatan komunitas dan hiburan. Karakteristik jalan itu sendiri juga penting. Jalan lurus yang lebar dengan trotoar memadai seperti Sudirman-Thamrin ideal. Jalan lingkar (ring road) juga menjadi pilihan populer di beberapa kota karena pengalihan arus lalu lintasnya relatif lebih mudah diatur. Pada akhirnya, panjang ideal adalah yang seimbang antara memberikan kepuasan maksimal bagi peserta CFD dan meminimalkan gangguan bagi arus lalu lintas umum yang tetap harus berjalan.

Macet dan Solusi

Salah satu kekhawatiran utama yang sering diangkat oleh kritikus CFD adalah potensi terjadinya kemacetan di area sekitar ruas jalan yang ditutup atau di jalan alternatif. Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah CFD benar-benar berdampak kemacetan dengan adanya pengalihan arus lalu lintas? Jawabannya adalah ya, tetapi dengan catatan penting bahwa dampak ini dapat diminimalkan dengan perencanaan yang matang dan komunikasi yang efektif.

Ketika sebuah ruas jalan ditutup untuk CFD, arus lalu lintas yang biasanya melalui ruas tersebut harus dialihkan ke jalan-jalan alternatif. Jika tidak direncanakan dengan baik, hal ini dapat menyebabkan penumpukan kendaraan di jalan-jalan sekitar, menciptakan kemacetan yang lebih parah daripada hari biasa. Namun, penelitian dari berbagai kota menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang tepat, dampak kemacetan ini dapat dikurangi secara signifikan, bahkan pada beberapa kasus, arus lalu lintas di hari CFD lebih lancar dibandingkan hari biasa.

Solusi untuk mengatasi potensi kemacetan akibat CFD adalah multifaset dan memerlukan koordinasi yang baik antara berbagai pihak. Pertama, perencanaan rute CFD harus dilakukan dengan cermat, mempertimbangkan pola arus lalu lintas dan kapasitas jalan-jalan alternatif. Pemerintah kota harus melakukan studi mendalam tentang dampak penutupan setiap ruas jalan terhadap arus lalu lintas secara keseluruhan. Kedua, sosialisasi yang intensif kepada masyarakat sangat penting. Masyarakat harus diberitahu jauh-jauh hari tentang rute CFD, jalan-jalan alternatif yang dapat digunakan, dan waktu pelaksanaan CFD.

Dengan informasi yang jelas, masyarakat dapat merencanakan perjalanan mereka dengan lebih baik dan menghindari area CFD jika memungkinkan.

Ketiga, peningkatan kapasitas transportasi publik pada hari CFD adalah solusi yang sangat efektif. Pemerintah dapat menambah jumlah bus, kereta, atau moda transportasi publik lainnya untuk mengakomodasi penumpang yang biasanya menggunakan kendaraan pribadi. Dengan menyediakan alternatif transportasi yang nyaman dan terjangkau, masyarakat akan lebih bersedia meninggalkan kendaraan pribadi mereka. Keempat, manajemen lalu lintas yang optimal, termasuk pengaturan lampu lalu lintas dan penempatan petugas lalu lintas yang strategis, dapat membantu mengalirkan kendaraan dengan lebih lancar di jalan-jalan alternatif. Kelima, kampanye untuk mendorong masyarakat menggunakan kendaraan pribadi bersama (carpooling) atau menggunakan transportasi publik pada hari CFD juga dapat membantu mengurangi jumlah kendaraan di jalan.

Pengalaman dari Jakarta menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang baik, kemacetan pada hari CFD tidak lebih buruk daripada hari biasa. Bahkan, pada beberapa area, arus lalu lintas justru lebih lancar karena berkurangnya jumlah kendaraan secara keseluruhan. Hal serupa juga terjadi di Bogota dan Paris, di mana CFD telah menjadi bagian yang diterima dengan baik oleh masyarakat dan tidak lagi dianggap sebagai penyebab kemacetan yang signifikan.

Pada akhirnya, Car Free Day jauh lebih dari sekadar penutupan jalan seminggu sekali. Ini adalah sebuah manifestasi dari keinginan kolektif untuk sebuah kehidupan kota yang lebih baik. Ia adalah sebuah peringatan mingguan bahwa ada cara lain untuk menjalani kehidupan urban—cara yang lebih lambat, lebih sehat, lebih manusiawi, dan lebih sosial. Dari sejarahnya yang lahir dari krisis hingga evolusinya menjadi sebuah festival kota, CFD telah membuktikan nilainya sebagai sebuah alat perubahan yang kuat. Ia menantang status quo, di mana mobil seringkali dianggap sebagai simbol kemajuan, dengan menunjukkan bahwa kemajuan sejati sebuah kota diukur dari kualitas udara yang dihirup warganya, keamanan anak-anak yang bermain di jalanan, dan kekuatan ikatan sosial antar tetangga.

Car Free Day adalah sebuah janji, sebuah gambaran sekilas dari masa depan perkotaan yang kita semua inginkan. Sekarang, tugas kita bersama adalah mewujudkan janji itu, menjadikan setiap hari menjadi “hari yang lebih bebas dari mobil”, satu langkah kebijakan pada satu waktu, sehingga suatu hari nanti, kita tidak perlu lagi menunggu hari Minggu untuk bisa bernapas lega di jalan raya kita sendiri.

Ayo bantu Palembang menjinakan mobil dan motor pada setiap Hari Minggu.

#Tamat.

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button