Londo Ireng, Istilah yang Sedang Trending di Media

Londo Ireng, Istilah yang Sedang Trending di Media
Oleh: Albar Sentosa Subari – Pengamat Hukum dan Sosial
Pada momen-momen tertentu, publik sering terkesima ketika mendengarkan pidato seorang pejabat negara. Setiap kata yang diucapkan, terlebih oleh seorang Presiden, hampir selalu menjadi perhatian masyarakat. Pilihan diksi yang digunakan tidak hanya dinilai dari sisi bahasa, tetapi juga makna, konteks, dan dampaknya terhadap kelompok atau individu yang disebutkan.
Belakangan ini, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, dalam pidatonya pada peringatan hari ulang tahun salah satu partai politik, menggunakan istilah “Londo Ireng“. Ucapan tersebut kemudian menjadi perbincangan luas di berbagai media dan media sosial, terutama karena dikaitkan dengan kelompok profesi tertentu, yakni sejumlah organisasi jurnalis.
Berbagai tanggapan pun bermunculan. Sebagian kalangan meminta Presiden menyampaikan klarifikasi atau permohonan maaf karena istilah tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Di sisi lain, ada pula pihak yang menyatakan akan membawa persoalan itu ke jalur hukum. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sebuah istilah yang memiliki latar belakang sejarah dapat memunculkan beragam penafsiran ketika digunakan dalam konteks politik masa kini.
Terlepas dari polemik tersebut, menarik untuk menelusuri istilah Londo Ireng dari perspektif sejarah sosial dan budaya. Bahkan, istilah ini pernah diangkat menjadi judul sebuah film layar lebar, yang menunjukkan bahwa sebutan tersebut telah lama dikenal dalam masyarakat Indonesia.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, terdapat strategi yang sering digunakan untuk memperkuat kekuasaan, yaitu membangun kedekatan dengan para pemimpin informal masyarakat melalui pendekatan kultural. Dalam bahasa sehari-hari dikenal dengan istilah “angkat-angkatan” atau menjadikan tokoh-tokoh lokal sebagai saudara angkat maupun mitra dekat pemerintah kolonial.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah kolonial memperoleh dukungan dari sebagian tokoh masyarakat sehingga kepentingan mereka menjadi lebih mudah dijalankan. Dalam praktiknya, hubungan ini sering dimanfaatkan untuk memperlancar pengumpulan hasil bumi, pemungutan pajak, maupun berbagai kepentingan administrasi kolonial.
Masyarakat kemudian memberikan sebutan “Londo Ireng” kepada orang-orang pribumi yang dianggap terlalu dekat, bahkan berpihak, kepada pemerintah kolonial Belanda. Secara harfiah istilah tersebut berarti **”Belanda Hitam”**, yaitu orang pribumi yang dipersepsikan memiliki sikap, kepentingan, atau perilaku yang lebih membela penjajah dibandingkan masyarakatnya sendiri.
Mereka yang berada dalam lingkaran kekuasaan kolonial memang sering memperoleh berbagai fasilitas yang tidak dinikmati masyarakat umum. Misalnya, kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih baik, kemudahan ekonomi, kedudukan sosial tertentu, maupun berbagai bentuk penghargaan dari pemerintah kolonial.
Sebaliknya, sebagian besar rakyat yang tidak memiliki hubungan dengan pemerintah kolonial tetap hidup dalam keterbatasan ekonomi dan sosial. Kesenjangan tersebut meninggalkan jejak sejarah yang masih dapat diamati hingga kini, misalnya melalui perbedaan mencolok antara bangunan-bangunan peninggalan kelompok elite kolonial dengan permukiman masyarakat biasa.
Karena itu, istilah **Londo Ireng** bukan sekadar ungkapan biasa, melainkan memiliki muatan historis yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat Indonesia pada masa penjajahan. Dalam perkembangan zaman, makna istilah tersebut dapat mengalami perluasan maupun penyempitan sesuai konteks penggunaannya.
Oleh sebab itu, penggunaan istilah-istilah yang memiliki latar belakang sejarah sebaiknya dilakukan secara hati-hati, terutama oleh pejabat publik. Sebuah kata dapat dipahami secara berbeda oleh berbagai kelompok masyarakat karena dipengaruhi pengalaman sejarah, budaya, maupun kondisi sosial politik yang berkembang.
Di era komunikasi digital saat ini, setiap ucapan seorang pemimpin dapat dengan cepat menyebar dan ditafsirkan secara beragam. Oleh karena itu, ketepatan memilih kata bukan hanya mencerminkan kecakapan berbahasa, tetapi juga menunjukkan sensitivitas terhadap sejarah, budaya, dan keberagaman pandangan masyarakat Indonesia.



