Bandung Masuk Daftar Kota Berisiko Akibat Kenaikan Suhu Global, Perlu Langkah Adaptasi yang Lebih Serius

Bandung Masuk Daftar Kota Berisiko Akibat Kenaikan Suhu Global, Perlu Langkah Adaptasi yang Lebih Serius
BANDUNG– Kota Bandung masuk dalam daftar 20 kota di dunia yang paling berisiko terdampak kenaikan suhu global berdasarkan hasil penelitian terbaru yang dilakukan Oxford Smith School of Enterprise and the Environment. Selain Bandung, Kota Surabaya juga menjadi satu-satunya kota lain dari Indonesia yang tercantum dalam daftar tersebut.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim kini bukan lagi ancaman masa depan, melainkan telah menjadi kenyataan yang harus dihadapi berbagai kota di dunia, termasuk di Indonesia. Penelitian tersebut menganalisis 205 kota dari berbagai negara untuk mengukur tingkat risiko yang dihadapi masyarakat akibat meningkatnya suhu udara dan semakin seringnya gelombang panas.
Dalam penelitiannya, tim Oxford tidak hanya melihat seberapa tinggi suhu yang terjadi di suatu kota. Para peneliti menggunakan pendekatan yang lebih komprehensif dengan menggabungkan tiga indikator utama, yakni tingkat paparan panas, tingkat kerentanan masyarakat terhadap panas, serta kemampuan kota dalam menyediakan infrastruktur dan sumber daya untuk membantu penduduk beradaptasi.
Hasil analisis menunjukkan bahwa Bandung dan Surabaya memiliki kombinasi faktor yang menyebabkan keduanya masuk dalam kelompok kota yang memerlukan perhatian lebih dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Meski tidak berarti kedua kota tersebut merupakan wilayah dengan suhu tertinggi di dunia, tingkat kerentanan masyarakat dan kapasitas adaptasi menjadi aspek yang ikut memengaruhi penilaian.
Dalam daftar tersebut, Al Basra di Irak menempati posisi pertama sebagai kota dengan risiko tertinggi akibat kenaikan suhu. Kota-kota lain yang masuk dalam daftar berasal dari India, Pakistan, Nigeria, Mali, Guinea, Kamboja, Kolombia, Angola, Pantai Gading, serta Indonesia.
Menurut peneliti utama, Nethmi Jayaratne Kariyawasam, terdapat tiga faktor penting yang menentukan tingkat risiko suatu kota terhadap panas ekstrem. Faktor pertama adalah seberapa sering dan seberapa tinggi paparan panas yang dialami kota tersebut. Faktor kedua adalah besarnya kelompok masyarakat yang rentan, seperti lansia, anak-anak, penderita penyakit kronis, serta masyarakat dengan kondisi ekonomi lemah. Faktor ketiga adalah kemampuan pemerintah dan masyarakat menyediakan sarana pendukung untuk mengurangi dampak panas, mulai dari ruang hijau, layanan kesehatan, hingga akses terhadap pendingin ruangan dan pasokan energi.
Penelitian tersebut juga mengungkap bahwa kota dengan suhu udara sangat tinggi belum tentu memiliki tingkat risiko paling besar. Beberapa kota seperti Bangkok, Kuala Lumpur, dan Jeddah memang menghadapi suhu yang sangat panas, namun memiliki kapasitas adaptasi yang lebih baik melalui infrastruktur perkotaan, sistem pelayanan publik, dan kesiapan pemerintah dalam menghadapi cuaca ekstrem. Kondisi tersebut membuat tingkat risiko secara keseluruhan menjadi lebih rendah dibandingkan kota-kota lain yang memiliki kemampuan adaptasi terbatas.
Selain tiga indikator utama tersebut, penelitian juga menyoroti sejumlah faktor lain yang dapat memperbesar dampak panas ekstrem. Faktor-faktor tersebut meliputi struktur usia penduduk, tingkat kesejahteraan masyarakat, kepadatan permukiman, ketersediaan ruang terbuka hijau, tutupan pepohonan, akses menuju lokasi yang lebih sejuk, hingga keterjangkauan biaya listrik untuk penggunaan alat pendingin.
Bagi kota seperti Bandung, yang selama ini dikenal memiliki udara relatif sejuk dibandingkan kota-kota besar lainnya di Indonesia, hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim telah mengubah berbagai kondisi lingkungan. Peningkatan suhu rata-rata, berkurangnya ruang terbuka hijau akibat pesatnya pembangunan, serta meningkatnya kepadatan penduduk menjadi tantangan yang perlu diantisipasi secara serius.
Sementara itu, Surabaya yang memiliki karakteristik sebagai kota pesisir dengan aktivitas industri dan kepadatan penduduk tinggi juga menghadapi tantangan tersendiri dalam mengurangi dampak panas. Upaya penghijauan, pengelolaan kawasan perkotaan, dan penguatan sistem pelayanan publik menjadi bagian penting dalam strategi adaptasi perubahan iklim.
Para peneliti menyarankan sejumlah langkah yang dapat dilakukan pemerintah daerah untuk mengurangi risiko tersebut. Di antaranya memperluas ruang terbuka hijau, meningkatkan jumlah pohon peneduh di kawasan perkotaan, memperkuat ketahanan energi, memperluas akses masyarakat terhadap sistem pendingin yang terjangkau, serta memberikan perlindungan khusus kepada kelompok rentan.
Selain itu, pembangunan kota di masa depan juga perlu mempertimbangkan aspek ketahanan iklim. Perencanaan tata ruang yang memperhatikan sirkulasi udara, penggunaan material bangunan yang ramah lingkungan, pengelolaan air, dan pengurangan efek pulau panas perkotaan (urban heat island) dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas hidup masyarakat.
Perubahan iklim kini menjadi tantangan global yang tidak mengenal batas wilayah. Fenomena cuaca ekstrem, gelombang panas, kekeringan, hingga banjir semakin sering terjadi di berbagai negara sebagai dampak meningkatnya suhu bumi. Oleh karena itu, setiap kota dituntut untuk memperkuat kapasitas adaptasi agar mampu melindungi warganya dari risiko yang semakin besar.
Masuknya Bandung dan Surabaya dalam daftar 20 kota paling berisiko akibat kenaikan suhu global hendaknya dipandang sebagai peringatan dini, bukan sekadar daftar statistik. Dengan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat, berbagai langkah adaptasi dapat dilakukan sejak sekarang. Upaya tersebut akan menjadi investasi penting untuk menciptakan kota yang lebih sehat, lebih hijau, dan lebih tangguh dalam menghadapi tantangan perubahan iklim pada masa mendatang.
Editor: Bang Bangun



