KALAM

Dari Gagal Berkali-kali lalu Menjadi Juara: Jejak Emas Ahmad Azka Annabil

Begitulah perjalanan Ahmad Azka Annabil.

Dari Gagal Berkali-kali lalu Menjadi Juara: Jejak Emas Ahmad Azka Annabil

 

Catatan : H. Agus Jaya, Lc, M. Hum (Orang tua sekaligus Pelatih). 

TIDAK semua juara lahir dari kemenangan. Sebagian justru lahir dari kegagalan yang datang berkali-kali; dari langkah yang jatuh lalu bangkit kembali, dari air mata yang tak banyak terlihat, dan dari keberanian untuk mencoba sekali lagi ketika orang lain mungkin telah memilih berhenti.

Begitulah perjalanan Ahmad Azka Annabil.

Ia adalah putra kedua pasangan H. Agus Jaya dan Hj. Nurul Haibah, sekaligus adik kandung Hj. Bahjatun Mahmudah. Sejak kecil, Azka tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan Al-Qur’an, pendidikan, dan dunia Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).

Namun, menjadi adik seorang juara bukan selalu perkara mudah. Di satu sisi, keberhasilan sang kakak menjadi sumber inspirasi. Di sisi lain, Azka tumbuh dalam bayang-bayang prestasi Mbaknya, Hj. Bahjatun Mahmudah, yang telah lebih dahulu mengukir nama di panggung MTQ nasional.

Azka memilih tidak lari dari bayang-bayang itu. Ia mencoba berjalan di jalan yang sama, tetapi dengan karakter, kecenderungan, dan caranya sendiri.

Memulai dari Bawah, Berkali-kali Gagal

Azka kecil memulai langkahnya dari cabang yang paling dasar: Tartil Al-Qur’an. Namun, kemenangan belum menjadi miliknya. Gagal. Mencoba lagi. Gagal lagi.

Tetapi Azka tidak berhenti. Kegagalan demi kegagalan justru menjadi sekolah pertama yang mengajarinya tentang kesabaran, keberanian, dan ketekunan.

Ia kemudian mencoba Fahmil Qur’an sejak usia belia. Bahkan ketika masih duduk di kelas I MTs, ia sudah berani tampil sebagai peserta dan mengikuti berbagai MTQ di beberapa kabupaten.

Hasilnya?

Kembali gagal. Namun, ada sesuatu yang perlahan tumbuh dari setiap kegagalan itu: mental bertanding.

Ia belajar berdiri di hadapan orang banyak, menghadapi tekanan, menerima kekalahan, mengendalikan rasa gugup, dan yang paling penting, memahami bahwa kalah dalam sebuah perlombaan bukan berarti kalah dalam kehidupan.

Jatuh, bangun. Gagal, mencoba. Kalah, belajar. Kemudian mencoba lagi. Begitulah Azka ditempa.

Di samping kedua orang tuanya, ada pula paman-pamannya yang telah lebih dahulu merintis jalan keberhasilan. Mereka bukan hanya memberikan dukungan, tetapi juga menjadi teladan bahwa keberhasilan tidak pernah datang secara tiba-tiba. Azka melihat, belajar, kemudian berjalan dengan caranya sendiri.

2022: Panggung Nasional Pertama. Tahun 2022 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Azka.

Untuk pertama kalinya, ia menembus panggung nasional cabang Fahmil Qur’an bersama saudara sepupunya, Ahmad Zain Ardillah, dan Fadlul Amal sebagai juru bicara tim.

Di panggung nasional itulah perjuangan panjang dari berbagai kegagalan sebelumnya mulai menemukan jawabannya.

Sumatera Selatan berhasil menembus babak final. Sebuah pencapaian yang sangat berarti bagi seorang anak yang sebelumnya berkali-kali merasakan kegagalan.

Perjuangan itu kemudian ditutup dengan Juara 2 Nasional.Bagi sebagian orang, mungkin hanya sebuah angka: juara dua.

Tetapi bagi Azka, Fadlul Amal, Ahmad Zain Ardillah, dan seluruh tim, capaian itu adalah buah dari perjalanan panjang. Di baliknya ada latihan, kegagalan, doa, ketegangan, keberanian, dan ketekunan yang dibangun bertahun-tahun.Kegagalan di masa lalu ternyata tidak sia-sia.

Baca Juga  Matangkan Persiapan ke Ajang MTQ Nasional, LPTQ Sumsel Gelar TC

Ia sedang menyiapkan kemenangan yang lebih besar. 2024: Kembali ke Final, Kembali Menjadi Juara 2

Dua tahun kemudian, Azka kembali ke panggung nasional, kali ini di Kalimantan Timur.

Komposisi tim berubah. Fadlul Amal telah melewati batas usia peserta dan digantikan oleh Tanzil Ramadhan. Namun, semangatnya tetap sama.

Azka kembali membuktikan bahwa prestasi bukan sesuatu yang datang secara kebetulan. Ia dan tim kembali menembus babak akhir dan kembali mempersembahkan Juara 2 Nasional.

Dua kali tampil di pentas nasional. Dua kali mencapai final. Dua kali pula berdiri sebagai Juara 2 Nasional. Namun, mungkin ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada medali: Azka semakin matang.

Ia semakin memahami bahwa seorang peserta MTQ bukan hanya harus memiliki kemampuan membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur’an. Ia juga harus memiliki keberanian, ketenangan, disiplin, kemampuan bekerja sama, serta mental untuk menghadapi tekanan.

2025: Ketika Jalan Mulai Berbelok. Tahun 2025 menjadi tahun yang berbeda.

Azka dan rekan-rekannya memilih mencoba cabang sesuai dengan keahlian masing-masing. Azka pun mencoba keluar dari zona yang selama ini membesarkan namanya dengan mengikuti Karya Tulis Ilmiah Hadis (KTIH) pada STQH Provinsi Sumatera Selatan.

Bukan pekerjaan yang mudah. Ia harus membaca, meneliti, berpikir, menulis, dan mempertanggungjawabkan gagasannya. Kembali, ia bekerja keras. Dan kerja keras itu berbuah Juara 2 KTIH tingkat Provinsi Sumatera Selatan.

Seolah perjalanan itu hendak mengatakan sesuatu:

Azka tidak hanya mampu berdiri di depan mikrofon Fahmil Qur’an. Ia juga mampu berdiri di belakang meja penelitian dan gagasan.

Namun, ternyata perjalanan Fahmil Qur’an belum benar-benar selesai. 2026: Membangun Tim Baru, Menulis Sejarah Baru. Pada tahun 2026, Azka kembali membangun tim bersama Ahmad Zain Ardillah dan Dimas Pranata.

Tiga pribadi. Tiga karakter. Tiga kemampuan yang berbeda.

Namun, perbedaan itu justru mereka satukan menjadi kekuatan. Mereka membangun tim Fahmil Qur’an yang solid. Perjalanan mereka tidak mudah.

Babak penyisihan dilalui dengan perjuangan yang mendebarkan. Begitu pula babak semifinal. Setiap pertanyaan membawa tekanan. Setiap jawaban menuntut ketepatan. Sedikit saja lengah, perjalanan bisa berakhir. Tetapi mereka mampu melewatinya.

Satu demi satu.

Hingga akhirnya sampailah mereka di penghujung perjuangan. Dan kali ini, bukan lagi Juara 2.

Ahmad Azka Annabil bersama Ahmad Zain Ardillah dan Dimas Pranata berhasil meraih Juara 1 Nasional cabang Fahmil Qur’an. Ada tangis bahagia. Ada rasa syukur.

Ada kebanggaan. Dan ada perjalanan panjang yang tiba-tiba terasa menemukan maknanya.

Dari Sang Kakak kepada Sang Adik. Di sinilah kisah Azka menjadi semakin indah.

Mbaknya, Hj. Bahjatun Mahmudah, telah lebih dahulu menorehkan sejarah. Ia mengakhiri kiprahnya sebagai peserta Fahmil Qur’an dengan Juara 1 Nasional.

Dan sang adik, Ahmad Azka Annabil, seolah mengikuti jejak itu dengan caranya sendiri.

Jika sang kakak menutup perjalanan dengan emas, sang adik pun menutup perjalanannya dengan emas. Namun, perjalanan Azka memiliki catatan tersendiri.

Tiga kali tampil di panggung nasional Fahmil Qur’an.

Dua kali meraih Juara 2 Nasional—di Kalimantan Selatan tahun 2022 dan Kalimantan Timur tahun 2024.

Baca Juga  MENYELAMATKAN GENERASI DARI LGBT DENGAN ISLAM KAAFFAH, BUKAN KOMPROMI KURIKULUM

Kemudian, pada 2026, ia menutup perjalanan itu dengan Juara 1 Nasional Fahmil Qur’an.

Sebuah perjalanan yang tidak dibangun dalam satu malam. Ia dimulai dari Tartil. Dari kegagalan. Dari pertandingan-pertandingan kecil.

Dari keberanian seorang anak MTs yang berani tampil meski berkali-kali belum berhasil. Kemudian tumbuh menjadi peserta nasional.

Menjadi finalis. Menjadi juara dua. Kembali menjadi juara dua. Dan akhirnya menjadi juara satu.

Jangan Takut Gagal

Barangkali, itulah pelajaran terbesar dari perjalanan Ahmad Azka Annabil.

Jangan takut gagal. Sebab kegagalan yang dihadapi dengan sabar dapat berubah menjadi kekuatan.

Jangan malu memulai dari bawah.

Sebab setiap juara pernah menjadi pemula. Jangan merasa kalah hanya karena belum menang. Sebab terkadang Allah sedang menyiapkan kita melalui jalan yang lebih panjang.

Dan jangan pula terlalu sibuk mengejar keberhasilan orang lain. Belajarlah dari mereka, tetapi temukan jalanmu sendiri. Azka tidak harus menjadi Bahjatun Mahmudah.

Ia cukup menjadi Ahmad Azka Annabil, dengan karakter, kemampuan, dan perjuangannya sendiri.

Namun, ada satu hal yang sama di antara keduanya: kecintaan kepada Al-Qur’an dan keberanian untuk terus berjuang.

Kini, satu babak telah ditutup. Dari Tartil menuju Fahmil. Dari kegagalan menuju kemenangan.bDari panggung kecil menuju panggung nasional.

Dari Juara 2, akhirnya sampai pada Juara 1.

Tetapi perjalanan hidup tentu belum selesai. Medali akan disimpan. Piala akan diletakkan di lemari. Foto kemenangan akan menjadi kenangan.

Yang jauh lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah kemenangan itu. Lanjutlah Berbuat, Ananda. Teruslah belajar, Ananda.

Jangan berhenti hanya karena telah sampai di puncak sebuah perlombaan. Jadikan kemenangan sebagai awal untuk pengabdian yang lebih panjang. Jadikan ilmu sebagai bekal. Jadikan Al-Qur’an sebagai jalan hidup. Jadikan kerendahan hati sebagai pakaian.

Ayah dan Ibu mungkin tidak selalu mampu memberikan jalan yang mudah. Namun, doa, cinta, dukungan, dan keteladanan akan selalu menjadi bekal yang tidak ternilai.

Begitu pula para paman yang telah lebih dahulu membuka jalan, para guru yang membimbing, serta teman-teman yang berjuang bersama.

Kepada Ahmad Zain Ardillah dan Dimas Pranata, terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan emas ini.

Dan kepada Ahmad Azka Annabil—lanjutlah berbuat, Ananda.

Masih panjang jalan di hadapanmu. Masih banyak ilmu yang harus dicari. Masih banyak ayat yang harus dihayati. Masih banyak karya yang harus ditorehkan.

Semoga kemenangan hari ini bukan membuatmu merasa telah sampai, tetapi membuatmu semakin rendah hati untuk melangkah lebih jauh.

Sukses selalu, Ananda.

Teruslah menjadi anak yang mencintai Al-Qur’an, membahagiakan kedua orang tua, menghormati guru, bermanfaat bagi sesama, dan kelak menjadi manusia yang jauh lebih besar daripada sekadar prestasi yang tertulis di atas piala. Sebab piala akan berdebu, tetapi amal dan ilmu yang bermanfaat akan terus hidup.

Selamat atas Juara 1 Nasional, Ahmad Azka Annabil.

Dari kegagalan, engkau belajar. Dari perjuangan, engkau tumbuh.

Dari Al-Qur’an, engkau menemukan jalan. Dan dari kemenangan, semoga engkau menemukan kerendahan hati.

Lanjutlah berbuat, Ananda.

Perjalananmu baru saja dimulai. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button