ARTIKELBUMI REPORTEKONOMIFEATUREFOODKALAMKESEHATANKOLOMLIFESTYLENEWS

Ketika Cuaca Tak Lagi Mudah Dipahami

Mendung Tapi Panas

Mendung Tapi Panas

Ketika Cuaca Tak Lagi Mudah Dipahami

 

Oleh: Abriza Hartawan dan  Bangun Lubis

 

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”— QS. Ar-Rum (30): 41

Langit tampak gelap. Awan menggantung tebal di udara. Orang-orang mengira hujan besar akan segera turun. Tetapi anehnya, panas tetap terasa menyengat. Udara gerah. Angin seperti berhenti bergerak. Keringat mengalir meski matahari tidak terlihat.

“Mendung tapi panas.”

Kalimat itu kini semakin sering terdengar di tengah masyarakat. Banyak orang merasakan cuaca yang berbeda dibanding masa lalu. Dahulu, mendung identik dengan udara sejuk. Kini tidak lagi. Langit boleh saja kelabu, tetapi hawa panas tetap menekan tubuh dan pikiran.

Fenomena ini membuat banyak orang bertanya: apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan bumi?

Perlahan dunia mulai memahami bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan. Ia sudah hadir di depan mata.

Cuaca yang sulit ditebak menjadi salah satu tandanya. Hujan turun tidak menentu. Panas terasa lebih lama. Kadang siang begitu terik, tetapi sore tiba-tiba banjir datang. Alam seperti kehilangan keseimbangannya.

Di banyak wilayah dunia, suhu bumi terus meningkat. Tahun-tahun terakhir bahkan disebut para ilmuwan sebagai periode terpanas dalam sejarah modern. Gelombang panas terjadi di berbagai negara. Kebakaran hutan meningkat. Es di kutub mencair lebih cepat. Permukaan laut perlahan naik.

Indonesia juga mulai merasakan dampaknya.

Di kota-kota besar, udara terasa semakin panas akibat berkurangnya ruang hijau dan meningkatnya polusi kendaraan. Pohon semakin sedikit, sementara beton dan aspal terus bertambah. Akibatnya, panas terjebak di perkotaan.

Bahkan ketika langit mendung sekalipun, hawa panas masih terasa.

Fenomena itu sesungguhnya berkaitan dengan perubahan iklim global dan kerusakan lingkungan yang terus berlangsung.

Akademisi lingkungan Yenrizal Tarmizi menjelaskan bahwa perubahan iklim bukan sekadar perubahan suhu, tetapi perubahan keseluruhan sistem alam yang memengaruhi kehidupan manusia. Menurutnya, ketika bumi semakin panas, pola cuaca ikut berubah. Awan terbentuk berbeda. Angin bergerak tidak stabil. Kelembaban udara meningkat. Akibatnya muncul cuaca yang tidak biasa: mendung tetapi panas, hujan singkat namun ekstrem, atau panas berkepanjangan.

Baca Juga  Bertransformasi dengan Hijrah Ekologis

Sementara itu, aktivis lingkungan Yuliusman menilai bahwa kerusakan lingkungan hari ini terjadi karena manusia terlalu lama menganggap alam sebagai objek eksploitasi tanpa batas. Hutan ditebang demi keuntungan sesaat. Sungai dijadikan tempat pembuangan sampah. Udara dipenuhi polusi kendaraan dan industri.

Padahal bumi memiliki batas kemampuan untuk menanggung kerusakan.

Tokoh perempuan pemerhati lingkungan Aina Rumiyati juga mengingatkan bahwa perubahan iklim paling berat dampaknya sering dirasakan masyarakat kecil. Ketika banjir datang, rakyat kecil yang pertama menderita. Ketika panas berkepanjangan menyebabkan harga pangan naik, masyarakat bawah pula yang paling sulit bertahan.

Karena itu, menurutnya, menjaga lingkungan bukan hanya soal alam, tetapi juga soal kemanusiaan dan keadilan sosial.

Data lingkungan menunjukkan bahwa produksi sampah di Indonesia mencapai puluhan juta ton setiap tahun. Sebagian besar berasal dari sampah rumah tangga dan plastik sekali pakai. Ketika sampah tidak terkelola dengan baik, lingkungan menjadi rusak. Sungai tersumbat. Udara tercemar. Tanah kehilangan kualitasnya.

Masalah lingkungan sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari manusia.

Membuang sampah sembarangan mungkin terlihat kecil. Membakar sampah plastik mungkin dianggap biasa. Menebang pohon tanpa menanam kembali sering dianggap sepele. Tetapi ketika semua itu dilakukan terus-menerus oleh jutaan manusia, dampaknya menjadi sangat besar.

Alam akhirnya memberi tanda.

Kadang melalui banjir. Kadang melalui kekeringan. Kadang melalui udara yang semakin panas walaupun matahari tidak terlihat.

Wartawan senior Maspril Aries pernah mengingatkan pentingnya membangun kesadaran lingkungan di tengah masyarakat. Sebab perubahan besar tidak akan terjadi hanya dengan aturan pemerintah. Kesadaran manusialah yang menentukan masa depan bumi.

Hari ini manusia hidup dalam dunia yang sangat cepat. Kota tumbuh besar. Kendaraan terus bertambah. Industri berkembang tanpa henti. Tetapi di sisi lain, alam terus kehilangan ruang untuk bernapas. Padahal manusia tidak bisa hidup tanpa alam.

Udara bersih berasal dari pohon. Air bersih berasal dari hutan yang terjaga. Kesejukan berasal dari keseimbangan lingkungan. Ketika semuanya rusak, manusia sendiri yang akhirnya merasakan akibatnya.

Baca Juga  Tidaklah Salah Jika Sumsel Belajar dari Banjir Bandang di Sumbar, Sumut, dan Aceh

Islam sejak lama telah mengajarkan pentingnya menjaga alam.

Rasulullah SAW bersabda:  “Dunia ini hijau dan indah, dan Allah menjadikan kalian sebagai pemeliharanya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa manusia bukan penguasa bumi yang bebas merusak sesuka hati. Manusia adalah penjaga yang diberi amanah.

Karena itu, menjaga lingkungan bukan hanya tugas sosial, tetapi juga bagian dari tanggung jawab keimanan.

Hari ini bumi seperti sedang berbicara kepada manusia.

Lewat udara yang panas. Lewat cuaca yang tidak menentu. Lewat hujan ekstrem dan banjir yang datang tiba-tiba. Lewat musim yang berubah tanpa pola yang jelas.

Sayangnya banyak manusia baru sadar ketika bencana datang.

Padahal tanda-tanda itu sudah lama terlihat.

Anak-anak kini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka lebih sering melihat beton daripada hutan. Lebih sering melihat sungai kotor daripada aliran air jernih. Udara pagi tidak lagi sesejuk dahulu.

Jika keadaan ini terus dibiarkan, generasi mendatang mungkin akan hidup dalam bumi yang jauh lebih panas dan tidak nyaman.

Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai sekarang.

Tidak harus dengan langkah besar.

Menanam pohon adalah bentuk kepedulian. Mengurangi plastik sekali pakai adalah bentuk tanggung jawab. Menjaga kebersihan sungai adalah bentuk cinta terhadap kehidupan. Menghemat listrik dan air juga bagian dari menjaga bumi.

Hal-hal kecil itu mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan bersama akan memberi dampak besar.

Mendung tapi panas mungkin terdengar seperti keluhan biasa. Namun sesungguhnya ia adalah pesan bahwa ada sesuatu yang sedang berubah pada alam kita.

Cuaca yang tidak lagi normal adalah tanda bahwa bumi sedang kelelahan.

Dan manusia harus mulai belajar mendengarkan pesan itu.

Sebab jika alam terus rusak, maka suatu hari nanti manusia mungkin hanya akan mengenang udara sejuk, hujan yang menenangkan, dan langit yang bersahabat lewat cerita masa lalu.

Semoga belum terlambat bagi kita untuk berubah.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button